detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 November 2019, 17:02 WIB

Kolom

Tingkatkan Kinerja Necara Perdagangan, RI Datang ke TIIE di Shanghai

Murpin Josua Sembiring - detikNews
Tingkatkan Kinerja Necara Perdagangan, RI Datang ke TIIE di Shanghai Foto: Pribadi
Jakarta - Luhut Binsar Panjaitan, Menko Maritim dan investasi sebagai special envoy hadir atas undangan Presiden Xi Jingping di Tiongkok Internasional Import Expo (TIIE) pada 5-10 November 2019, di Kota Shanghai. Kementerian perdagangan RI hadirkan 26 perusahaan di antara 172 negara yang ikut memamerkan produk-produk mereka.

Produk domestic Indonesia yang dibawa ke TIIE antara lain barang bersifat high end intellegent equipment, elektronik dan aplliance, kendaraan, pakaian, aksesoris, produk pertanian seperti sawit, otomotif, food an agri product, medical product, apparel, makanan, batu bara, sarang burung walet, peralatan medis dan produk perawatan medis. 17 perusahaan dari Indonesia berpartisipasi di TIIE antara lain Garuda Food, Marimas Putra Kencana, Victoria Care Indonesia, Sinar Aosro, Anugrah Citra Walet, Indofood, Kobe, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) dan lainnya.

Rakyat Indonesia menaruh harapan besar agar pemerintah Jokowi dan perusahaan-perusahaan di Indonesia menjadikan TIIE ini ajang dan momentum penting untuk mempromosikan barang dan jasa khas Indonesia yang potensial dan membawa dampak luas terhadap roda perekonomian Indonesia, khususnya barang dan jasa komoditas eksport dengan pasar utamanya adalah di pasar raksasa Tiongkok. Karena negara itu memiliki pasar sangat masif dengan 1,4 miliar orang jumlah penduduknya yang relatif sedang kaya dan kita punya hubungan erat dalam kesejarahan yang saling menguntungkan.

Di sisi lain, agar investor dari Tiongkok juga akan banyak berminat datang ke Indonesia Presiden Jokowi bakal membebaskan impor mesin bekas dari bea masuk mengingat banyak negara lain juga melakukannya hal yang sama dan itu langkah strategis meningkatkan competitiveness antar negara dan hal ini cara kita juga untuk mengundang banyak investor dan turis asal Tiongkok masuk ke Indonesia demi mengangkat perekonomian rakyat Indonesia.

TIIE Shanghai Momen Kebersamaan Tiongkok-Indonesia Menguasai Ekonomi Dunia

Kita memahami strategi produk baja dari Tiongkok sangat murah (28% dari harga pasar) karena pemerintah Tiongkok memberikan insentif berupa potongan pajak (tax rebate) kisaran 13-15% bagi pengusaha yang mengekspor baja paduan (alloy) yang biasanya untuk rel kereta api, komponen alat berat. Karena Indonesia belum mampu memproduksinya, sehingga Indonesia dijadikan pasar potensial oleh Tiongkok terlebih bea masuk ke Indonesia 0% terlebih baja asal Tiongkok pada perang dagang sulit masuk ke pasar Amerika.

Di sisi lain, Tiongkok tidak fair/bersahabat karena ekspor baja Indonesia ke Tiongkok dikenakan bea masuk. Oleh sebab itu, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan saat bertemu Xi Jinping di TIIE kemarin menyatakan keberatan dan minta bea masuk baja ke Tiongkok dihapuskan. Mengingat produksi baja di Indonesia dalam prosesnya berada di daerah terpencil dan masyarakat setempat pasti terkena dampak perekonomian akibat bea masuk tersebut.

Selain baja, Indonesia saatnya bisa memaksimalkan ekspor buah-buahan tropis seperti nanas dan sebagainya, sarang burung walet dengan kadar nitrit yang ditentukan, ekspor kelapa sawit, olahan-olahan produk hilirisasi seperti nickel, tembaga, timah, bauksit dan lain-lain. Presiden Xi berjanji kepada Luhut meningkatkan investasi negaranya di bidang teknologi seperti dilansir Bisnis, Rabu 6 November 2019, merupakan niat baik persahabatan yang saling menguntungkan dan harus direspon baik oleh masyarakat kita di Indonesia.

Forum Bisnis Indonesia-Tiongkok perlu terus diintensifkan lewat berbagai event agar tercapai kesepahaman dan keseriusan hubungan dagang bilateral yang fair, saling memperkuat perekonomian antar dua negara. Tidak terus menciptakan ketergantungan kepada kedua negara melalui kerelaan transfer teknologi agar lebih efisien berproduksi, punya daya saing kecuali produk khas unggulan masing-masing negara juga sudah saatnya Tiongkok-Indonesia bisa joint berproduksi bersama. Selain itu juga bersama-sama pula memasuki pasar dunia lainnya yang lebih luas terutama menggarap negara-negara kawasan perbatasan Indonesia sebagai bagian strategi memperkuat ekonomi perbatasan dan memperkokoh eksistensi NKRI di wilayah perbatasan.

Pola aliansi strategis Tiongkok-Indonesia inilah penting diwujud-formulasikan, di mana Tiongkok dan Indonesia akan jadi partner bisnis dengan fokus pada produksi terbaiknya yang sesuai dengan kapasitas masing-masing negara, saling mendukung teknologi dan kualitas SDM-nya dan tentu dengan kesepakatan jangka waktu yang dibutuhkan menuju kemakmuran kedua negara.

Tiongkok Dukung Kesehatan Neraca Perdagangan Indonesia

Eksport Indonesia pada triwulan III-2019 sangat kecil kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi Nasional. Melihat data periode Januari-November 2017 ekspor komoditi batu bara, minyak sawit dan karet meningkatkan 37,1% (data bea cukai Indonesia:2017) ke Tiongkok, selain sarang burung wallet (US$ 87), kelapa (US$ 70) dan kopi (US$ 43 juta). Tiongkok sudah secara berturut-turut untuk 7 tahun menjadi mitra perdagangan terbesar bagi Indonesia.

Volume perdagangan bilateral antara Tiongkok dan Indonesia sepanjang 2017 adalah sebesar US$ 63,3 miliar, atau meningkat 18,3%. Tepatnya ekspor Tiongkok adalah sebanyak US$ 34,77 miliar dan impor sebanyak US$ 28,55 miliar. Namun Indonesia masih mengalami defisit neraca dagang terhadap Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sebesar US$ 11,44 miliar pada Januari-Agustus 2019.

Angka ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar US$ 10,83 miliar. Adapun total defisit selama tahun 2018 sebesar US$ 18,41 miliar. Oleh karenanya, keikutsertaan Indonesia dalam ajang ini sangat strategis bernegosiasi dengan keterbukaan pasar utama yang bersahabat di Tiongkok untuk menyeimbangkan (positif) neraca perdagangan melalui peningkatan jenis komoditas, volume, frekuensi ekspor kita ke Tiongkok.

TIIE 2019 di Shanghai telah berakhir, kita berterima kasih telah diundang secara khusus oleh pemerintah Tiongkok dan kita tunggu kerjasama yang konkrit berkelanjutan, terukur dan bersahabat antara Indonesia dan Tiongkok untuk kemajuan ekonomi kedua negara dan kesejahteraan dunia.

Murpin Josua Sembiring, Pakar Ekonomi/Rektor Universitas Ma Chung Kota Malang Jawa Timur


(akn/ega)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com