detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 November 2019, 15:08 WIB

Kolom

Netral-Gender dalam Gempuran Uniseks

Jeri Santoso - detikNews
Netral-Gender dalam Gempuran Uniseks Gerakan uniseks membuat pakaian wanita lebih maskulin, tapi tak pernah membuatnya tidak feminin (Foto: Zara)
Jakarta -

Pada festival Coachella 2015, Jaden Smith, putra Will Smith, membikin heboh masyarakat dan media dengan penampilannya yang unik. Saat festival tersebut, ia mengenakan setelan tunik bunga dan mahkota mawar di kepalanya. Sontak, penampilannya tersebut menuai banyak komentar. Publikasi menyembur di media massa perihal keberanian Smith yang mengaburkan norma gender dalam fesyen.

Demikian pula pada Maret 2015, department store London Selfridge menciptakan tiga lantai bazar netral-gender di emporium Oxford Street-nya. London Selfridge menampilkan manekin yang mengenakan pakaian uniseks dari desainer Haider Ackermann, Ann Demeulemeester, dan Gareth Pugh. Eksperimen tersebut tidak menyebabkan murmur, apalagi menjadi dasar taktik pemasaran department store.

Mendobrak Inklusivitas

Gerakan untuk mendobrak inklusivitas mulai diangkat dalam urusan fesyen beberapa dekade terakhir. Dari sebelumnya, kesetaraan gender melulu dibicarakan dalam isu-isu mainstream, seperti politik, hukum, sosial, dan ekonomi. Untuk memecahkan metaforikal tersebut dan menciptakan kesetaraan masa kini, para penggiat fesyen sedang keroyokan memproduksi pakaian uniseks. Melalui tren pakaian tersebut, tidak ada pengkotak-kotakan fesyen yang mempertimbangkan jenis kelamin tertentu. Apakah ini sebuah opsi pemutakhiran kesetaraan ataukah inovasi yang kebablasan?

Four women's soccer stars have a new goal: Building a gender-neutral lifestyle business, demikian tajuk artikel yang dirilis washingtonpost.com, bercerita tentang empat pemain sepakbola nasional wanita AS meluncurkan sebuah tren bisnis lifestyle yang secara khusus menyoroti persoalan netral-gender dan masalah-masalah seperti kesetaraan dan inklusivitas.

Tren bisnis tersebut bernama Re-Inc, yang didirikan oleh Klingenberg, Megan Rapinoe, Christen Press, dan Tobin Health. Selain Klingenberg, tiga di antaranya adalah pemain sepakbola wanita Tim Nasional AS 2019. Itu adalah keputusan yang disengaja, menurut Eddie Opara, mitra di perusahaan grafis Pentagram, yang menciptakan identitas merek dan logo untuk Re-inc.

Merek tersebut bukan tentang nama mereka, tetapi tentang filosofi mereka sebagai pemain dan orang-orang yang merangkul desain inklusif dan netral-gender. Itulah sebabnya fitur merek yang paling menonjol adalah "e" terbalik, yang digunakan dalam jenis huruf khusus oleh desainernya. Dengan meletakkan huruf terbalik tersebut, para desainer bertujuan untuk menggambarkan bahwa produk Re-inc berfokus pada konvensi yang menantang, seperti ide yang dipikirkan para pendirinya.

Konsep netral-gender dalam bisnis tersebut dimaksud agar konsumen lebih cenderung menyadari fluiditas gender, sehingga kecil kemungkinan untuk mengkategorikan produk sebagai hanya untuk pria atau wanita. Mereka melakukan bisnis secara berbeda, mencari vendor perempuan dan minoritas dalam mitra bisnis untuk mengembangkan prospek bisnis tersebut. Klingenberg dan koleganya menyadari akan pentingnya urusan gender dalam bisnis dan gaya hidup kekinian.

Etos itu tampak jelas dalam pakaian perusahaan, yang semuanya akan sepenuhnya netral-gender. Sejauh ini, para atlet --Rapinoe, Christian Press, Meghan Klingenberg, dan Tobin Health-- telah meluncurkan perusahaan yang menjual dua kaos netral-gender (masing-masing dijuluki "re-tee") yang dihiasi dengan kata-kata libertѐ, ѐgalitѐ, dѐfendez. Semua "e" terbalik. Ini adalah cara cerdas dan halus untuk mengidentifikasi merek tanpa perlu logo mencolok.

Tren fesyen yang bertendensi mendobrak inklusivitas gender juga terjadi pada era 1950-an pasca-Perang Dunia II. Mary Quant memperkenalkan setelan skinny jeans dengan rok mini dan jas sebagai pakaian modis perempuan. Saat itu, jeans dan jas didominasi oleh pria, dan hampir seluruh dunia mode mengikuti tren pakaian pria.

Mary Quant kemudian mendesain khusus setelan wanita yang mampu bersaing dengan tren mode pria saat itu. Ia memproduksi setelan jas, rok mini, skinny jeans, dan beberapa pakaian perempuan lainnya yang dipakai jutaan manusia sampai sekarang.

Bazaar adalah tokoh butik pertama Quant yang dibuka di sudut Markam Square dan Kings Road pada 1955. Tetapi pada dekade 60-an, merek tersebut lepas landas dengan cara yang tampaknya tak terbendung. Saat itu merupakan masa kejayaan semua seni dan mode.

Quant kemudian memproduksi secara massal mode pakaian yang lebih mencerminkan kualitas hidup yang baik selama pascaperang; mode pakaian yang menentang disrupsi kelas dan lebih menonjolkan kesetaraan gender. Oleh karena karyanya itu, para wanita era 60-an dan berikutnya mulai merasakan sensasi modis ala perempuan. Pakaian-pakaian Mary Quant kemudian tersebar di hampir semua negara Eropa dan melonjak ke negara-negara di seluruh dunia.

Koreksi Stereotip Gender

Kebiasaan androgini lintas gender berasal dari kelas istimewa Inggris dan Prancis abad ke-17 tujuh belas dan ke-18. Namun, setelah Revolusi Industri dan kebangkitan masyarakat kapitalis, aturan berpakaian yang cukup terstruktur yang memisahkan laki-laki dan perempuan muncul kembali. Revolusi besar berikutnya dalam mode --Youthquake dekade 1960-an-- menghancurkan cita-cita gender itu.

Dalam bukunya, Sex and Unisex: Fashion, Feminism, and the Sexual Revolution, profesor Universitas Maryland Jo Paoletti meninjau kembali tren uniseks, pilar feminisme gelombang kedua yang pengaruhnya masih bergema sampai sekarang. Seperti yang dikatakan Paoletti, pakaian uniseks merupakan koreksi baby-boomer terhadap stereotip gender yang kaku pada era 1950-an. Hal itu merupakan reaksi terhadap peran baru yang membingungkan yang dikenakan pada pria dan wanita sama-sama pasca-Perang Dunia II.

Istilah "gender" mulai digunakan untuk menggambarkan aspek sosial dan budaya dari seks biologis pada dekade 1950-an. Pakaian uniseks era 1960-an dan 70-an bercita-cita "mengaburkan atau melintasi garis gender". Meskipun pakaian uniseks bertujuan untuk meminimalkan perbedaan gender, biasanya itu memiliki efek sebaliknya. Seperti yang ditulis Paoletti, "Bagian dari daya tarik mode uniseks dewasa adalah kontras seksi antara pemakainya dan pakaian, yang sebenarnya menarik perhatian pria atau wanita."

Gernreich (Space, 1999) membayangkan 1999 sebagai utopia netral gender dari jumpsuits, turtlenecks, dan tunik. Meskipun secara teknis uniseks, kostum ketat ini membuat seks pemakainya sangat mencolok, dan mereka mempertahankan penanda gender tradisional seperti bra, make-up, dan perhiasan untuk wanita.

Gerakan uniseks mungkin membuat pakaian wanita lebih maskulin, tetapi tidak pernah membuatnya tidak feminin. Lebih jauh, "Upaya untuk memfeminisasi penampilan pria ternyata hanya berumur pendek," kata Paoletti. Sementara, minat populer dan ilmiah baru dalam biseksualitas benar-benar membebaskan pria homoseksual, menawarkan kepada mereka alternatif yang dapat diterima secara budaya.

Memulihkan Keharmonisan

Gender dan pemahaman tentang gender makin ke sini makin berkembang. Gender bukan saja berkutat pada urusan assignment laki-laki untuk mencerminkan tabiatnya sebagai laki-laki atau sebaliknya assignment sebagai perempuan. Tapi lebih jauh, gender berkembang lebih ekstrem pada usaha feminisasi atau maskulinisasi.

Dampak paling nyata terhadap pemutakhiran kesetaraan tersebut adalah munculnya bias gender dalam urusan gaya hidup, khususnya fesyen. Perkembangan mode uniseks bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, mode ini merupakan opsi untuk membongkar inklusivitas, hierarki kelas, yang bertaut dalam isu-isu gender selama ini terhadap urusan fesyen. Namun di sisi lain, kehadiran uniseks justru menimbulkan bias gender. Sekat-sekat eksistensial antara perempuan dan laki-laki menjadi samar-samar.

Setiap orang memahami kesetaraan dalam banyak hal. Politik, hukum, agama, sosial, bahkan lifestyle. Tidak serta-merta gender mewajibkan semua hal disetarakan antara wanita dan pria. Tapi substansi kesetaraan yang sebetulnya adalah nilai kemanusiaan. Bagaimana kesetaraan memulihkan keharmonisan hubungan sebagai manusia laki-laki dan manusia perempuan.

Jeri Santoso menggiati konten human interest, pemerhati gender dan persoalan kekinian


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com