detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 November 2019, 14:10 WIB

Kolom

Perempuan, Gosip, dan Hal yang Jarang Dibahas oleh Feminis

Dara Nasution - detikNews
Perempuan, Gosip, dan Hal yang Jarang Dibahas oleh Feminis Foto ilustrasi: Istock
Jakarta -

Kemunculan akun-akun gosip di media sosial belakangan ini tampaknya mulai menggantikan tayangan infotainment di televisi. Menariknya, nama-nama akun ini banyak memakai kata "Mak" yang berarti ibu, seperti Mak Lambe dan Mak Nyinyir. Tak hanya itu, adegan sekelompok perempuan bergosip tentang perempuan lain sambil belanja di tukang sayur juga mungkin terlalu sering Anda saksikan.

Mengapa kegiatan bergunjing itu telanjur dilekatkan sebagai hobi perempuan? Memangnya apa fungsi gosip selain aktivitas iseng untuk mengisi waktu luang? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang coba dijawab oleh Patt Heim, Ph.D dan Susan Murphy, Ph.D dalam buku berjudul In The Company of Women: Indirect Agression Against Women, Why We Do It and How to Stop (2003). Dalam buku ini, gosip dilihat sebagai salah satu bentuk indirect aggression (agresi tidak langsung), yaitu perilaku yang bertujuan menyakiti orang lain secara fisik maupun emosional.

Berbeda dari direct aggression yang lebih mengutamakan kontak fisik, indirect aggression bentuknya tidak langsung dan menguntungkan pelaku yang bersembunyi di balik anonimitas. Secara umum, indirect aggression menjadi strategi pilihan perempuan ketika berkonflik dengan perempuan lain.

Bias Gender

Pola sosialisasi memainkan peran penting dalam strategi perempuan ketika berhadapan dengan konflik. Dari kecil, perempuan dan laki-laki dibesarkan dengan cara yang berbeda. Secara berkelompok, anak laki-laki lebih banyak bermain "games", yaitu permainan kompetitif yang memiliki aturan dan tujuan yang jelas. Ada pihak yang menang dan kalah. Dalam permainan yang kompetitif ini, semua hal diatur berdasarkan hierarki.

Misalnya, sepakbola harus dimainkan oleh sebelas orang dengan kapten tim, pelatih, pemain andalan, dan pemain cadangan. Setiap orang harus tahu di mana posisinya dalam hierarki itu. Dari kecil, anak laki-laki belajar bahwa lumrah saja jika ada anak laki-laki yang lebih jago dari dirinya.

Sedangkan perempuan terbiasa melakukan "play", interaksi informal dan kooperatif yang tidak memiliki tujuan, aturan, strategi untuk menang yang jelas. Di akhir, bahkan tidak ada yang menang dan kalah. Misalnya, bermain masak-masakan atau bermain boneka. Ketika sekelompok anak perempuan bermain Barbie, tidak ada yang menjadi pemain andalan atau pelatih. Tidak ada hierarki dan semua orang dianggap setara. Ketika bermain, anak perempuan disosialisasikan untuk belajar membangun hubungan dan keakraban.

Absennya hierarki dalam pertemanan anak perempuan membuat perempuan tumbuh dengan kesadaran bahwa kekuasaan (power) di antara sesama perempuan harus selalu dalam posisi seri. Bahkan ketika anak perempuan memainkan aktivitas yang spontan, seperti lompat tali, mereka tidak benar-benar saling berkompetisi satu sama lain. Ketika bermain lompat tali, yang dilakukan adalah bermain bergiliran (turn-taking games). Di akhir, terkadang ada penjumlahan skor, tetapi hasilnya tidak benar-benar dianggap menang dan kalah. Untuk sebagian besar anak perempuan, tujuan bermain bukan untuk menang, tetapi sebuah sarana untuk mengobrol dan berbagi perasaan.

Pola sosialisasi yang bias gender ini memiliki dua dampak. Pertama, anak perempuan cenderung mengkritik dan menolak perempuan lain yang perilakunya tampak kompetitif. Peneliti Diane Carlene Jones menemukan bahwa salah satu perbedaan utama antara anak laki-laki dan perempuan adalah persepsi terhadap pemegang kekuasaan. Anak laki-laki lebih bisa menerima sesamanya yang memiliki power, sedangkan anak perempuan cenderung menolaknya.

Anak perempuan yang berperilaku superior dan ambisius tidak diterima sebagai teman (Campbell, 1999). Penolakan ini ternyata tetap terjadi ketika perempuan beranjak dewasa. Itulah mengapa bos perempuan cenderung lebih sering mendapat penolakan dari anak buah perempuan.

Kedua, anak perempuan menjadi tidak terbiasa dengan konflik. Anak laki-laki belajar bertahan dalam pertemanan yang hierarkis sehingga terbiasa menghadapi konflik dengan agresif. Kebiasaan berkonflik juga melatih anak laki-laki untuk mengambil jarak secara personal ketika diserang. Keakraban antar laki-laki sifatnya sesuai kebutuhan; mereka bisa bertengkar hebat, lalu baikan lagi. Beda soal dengan perempuan yang pertemanannya lebih dalam sehingga ketika ada konflik, rasanya sangat personal.

Apalagi, anak-anak sudah dikenalkan pada peran gender yang membolehkan laki-laki berlaku agresif, tetapi perempuan tidak boleh agresif. Lumrah sekali menemukan anak laki-laki yang berduel. Perempuan? Nanti dulu. Ada kesepakatan kultural yang melarang perempuan untuk mengkonfrontasi langsung orang yang membuat mereka marah (Campbell, 1999).

Di sekolah, anak perempuan diajarkan untuk mengikuti aturan, menunggu giliran, dan bersikap sopan. Sedangkan anak laki-laki diajarkan untuk kompetitif, agresif, dan sedikit kasar. Maka ketika berkonflik, perempuan cenderung menggunakan cara-cara agresi yang tidak langsung (indirect aggression), misalnya bergosip buruk, menyebarkan rumor, melakukan sabotase, mengucilkan dari kelompok, menghindari kontak mata, dan sebagainya. Ini pilihan paling masuk akal bagi perempuan ketika sepanjang hidupnya ia diharapkan masyarakat untuk menghindari konflik, menjaga hubungan baik, dan be nice.

Pilihan Aman

Dari sudut pandang biologis, indirect aggression juga merupakan solusi paling aman untuk menyatakan kemarahan perempuan. Ketika orang berkonflik, secara psikologis ia akan melakukan hitung-hitungan rasio efek/bahaya (effect/danger ratio) dalam mempertimbangkan aksi apa yang diambil. Ia ingin perilaku yang dipilih menyebabkan efek yang maksimum pada targetnya, tetapi mendatangkan bahaya yang minimum untuk dirinya.

Dengan hitung-hitungan ini, agresi langsung (direct aggression) jauh lebih berisiko karena sang target bisa saja membalas dengan perilaku yang sama agresifnya. Indirect aggression dapat meminimalisasi risiko ini sebab sang target tidak tahu siapa pelakunya. Peran gender tradisional meletakkan perempuan sebagai pengasuh anak. Mau tak mau, ia mesti berlindung di balik anonimitas demi keselamatan dirinya sendiri dan anak-anaknya.

Kondisi ini berbanding terbalik bagi laki-laki. Perkelahian fisik justru menjadi pilihan yang menguntungkan sebab jika ia menang, posisinya dalam hierarki status akan naik. Ia akan terlihat makin jantan. Maka tak heran, kebanyakan konflik yang dialami sesama laki-laki diselesaikan dengan baku hantam. Wilson dan M. Daly (1999) bahkan sampai memberi istilah "young male syndrome" untuk menggambarkan sekelompok pemuda yang gampang terpancing keributan fisik hanya karena masalah sepele.

Sebetulnya, laki dan perempuan sama-sama melakukan indirect aggression sebagai senjata ketika berkonflik (Björkqvist, 1994). Namun, konstruksi sosial dan kondisi biologis membuat indirect aggression menjadi lebih aman untuk perempuan, sedangkan laki-laki lebih bebas menggunakan keduanya.

Lebih Suportif

Pembicaraan soal bagaimana buruknya perlakuan perempuan terhadap sesamanya jarang diangkat dalam pembicaraan soal feminisme. Para feminis beranggapan bahwa perempuan akan otomatis saling mendukung sesama perempuan atas nama sisterhood. Perilaku buruk antarsesama perempuan jarang diekspos karena berpotensi memperkuat stereotip gender bahwa perempuan memang makhluk yang lemah dan tidak rasional.

Akhirnya, gosip dan sabotase antarsesama perempuan dianggap sebagai masalah personal yang berangkat dari rasa iri dan dengki masing-masing orang. Namun, ini bukanlah masalah personal, melainkan kultural. Sebuah penelitian dari American Management Association menunjukkan bahwa sesama perempuan pernah meremehkan mereka sepanjang perjalanan karier. Dampak dari indirect aggression ini pun serius. Di level personal, ia membuat perempuan stres dan mengurangi kepuasan kita terhadap pekerjaan secara keseluruhan. Di level berikutnya, ia merusak harmoni dalam organisasi dan menciptakan lingkungan kerja yang penuh kecurigaan.

Secara lebih luas, konflik dengan sesama perempuan menghambat kemajuan gerakan perempuan ketika perempuan menciptakan dan melekatkan diri mereka dengan stereotip bahwa perempuan gemar meributkan hal-hal remeh. Lama kelamaan, gaya berkomunikasi ini membuat kita malas bekerja sama dengan dan untuk perempuan.

Padahal, kesetaraan gender tidak akan terjadi jika perempuan gagal bersikap suportif kepada sesamanya. Perempuan mesti sadar bahwa kita berperilaku seperti ini karena pola sosialisasi yang bias gender sejak kecil. Sekarang, kita sudah dewasa dan punya pilihan-pilihan untuk bersikap. Kita bisa memulai dengan kesadaran baru bahwa ada cara lain yang lebih efektif dalam menyelesaikan konflik selain dengan bergosip dan menyebarkan rumor jahat. Kita harus berhenti menjadi pengecut yang bersembunyi di balik anonimitas untuk menyerang perempuan lain, sekalipun kita merasa bahwa maksud kita baik. Sometimes the best intention isn't enough.

Dara Nasution politisi muda Partai Solidaritas Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com