detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 22 November 2019, 13:33 WIB

Kolom

Manusia yang Cemburu pada Teknologi

Muhyidin - detikNews
Manusia yang Cemburu pada Teknologi Anak-anak dan gawainya (foto: koleksi penulis)
Jakarta -
Seorang kolega sambat alias mengeluh kepada saya tentang pengalamannya menjadi penceramah agama dalam acara peringatan hari besar di sebuah SMP negeri beberapa waktu lalu. Ia seorang kiai muda yang hafal Al Quran, putra seorang kiai, telah mengasuh pesantren sendiri dan biasa dipanggil gus.

Sejatinya ia adalah alumnus dari sekolah tersebut. Waktu itu ia masih tinggal di rumah sendiri, belajar agama di lingkungan tempat tinggalnya sekaligus bersekolah di SMP negeri, sebelum akhirnya bersekolah dan belajar di pesantren di luar kota. Karena kiai muda ini adalah alumni sendiri, maka pihak sekolah pun mengundangnya sebagai penceramah.

Keluhan yang ia utarakan adalah tentang respons siswa-siswi dalam mengikuti ceramah agama yang ia sampaikan. Menurutnya, audiens khususnya para siswa benar-benar tidak memperhatikan ceramahnya. Di antara mereka ada yang menghadap ke sana, ada yang menghadap ke sini, sibuk dengan obrolan masing-masing dengan teman di kiri-kanan. Banyak suara-suara dilanjut tawa bermunculan menyahuti isi ceramah. Kalaupun cerita lucu dilontarkan, malah tidak berujung munculnya tawa, melainkan teriakan, "Lucuuu!"

Selepas acara, para guru yang mengobrol dengan si kiai muda pun menginsyafi hal tersebut. Satu di antara mereka bertutur bahwa anak sekolah zaman sekarang benar-benar berbeda dengan anak sekolah zaman si kiai masih menjadi siswa di situ. Anak zaman dulu juga memiliki keanakalannya, namun lebih mudah diatur perhatiannya, katanya.

Dalam batin saya berpikir, si kiai muda ini benar-benar menghadapi situasi yang berbeda dengan yang biasa ia hadapi. Di lingkungan pesantren atau madrasah, ia biasa menghadapi audiens yang memang sejak dini telah mendapat pengajaran tentang konsep hormat atau ta'dzim terhadap kiai. Di luar pesantren, si kiai muda ini biasa pula diundang ceramah di masjid atau majelis pengajian yang tentu saja didominasi oleh audiens berusia dewasa ke atas yang telah mengerti bagaimana cara menghormati sang pembicara, meski merasa isi ceramahnya tidak menarik sekalipun.

Atas keluhan si kiai muda, saya pun berkomentar bahwa anak-anak SMP tadi tidak bisa begitu saja disalahkan. Mereka adalah anak zamannya, yang perlu didekati dengan cara zamannya. Tugas orang yang memberikan pengajaran termasuk dalam bidang agama adalah terus mengikuti bagaimana zaman berkembang agar mengerti bagaimana cara menarik perhatian remaja.

Dari kisah ini pun saya teringat kejadian beberapa waktu lalu ketika seorang motivator yang sedang mengisi materi di sebuah SMA malah menampar beberapa siswa yang mengikuti kegiatan tersebut. Si motivator merasa tidak dihargai oleh beberapa siswa tersebut yang menertawakan sesuatu hal. Beruntung dalam kasus yang dialami si kiai muda, ia sabar saja menyelesaikan ceramahnya hingga akhir.

Akrab dengan Teknologi

Para remaja saat ini begitu akrab dengan produk teknologi informasi dalam kehidupannya. Dengan produk teknologi mereka mampu mencari sosok apa yang mereka mau. Sosok hebat yang menguasai keterampilan di dalam bidang apapun bisa mereka tonton. Manakala di dunia nyata mereka bertemu dengan sosok baru yang hendak memberinya pengajaran, seolah-olah mereka bertanya, "Siapa kamu? Punya kehebatan apa kamu?"

Seorang pengajar di dunia nyata mesti menarik perhatian remaja, bersaing dengan begitu banyak sosok superhebat dari segala bidang yang begitu mudah ditemui di dunia maya. Sosok-sosok superhebat itu bisa agamawan, ilmuwan, seniman, olahragawan, dan lain sebagainya. Bersaing menjadi menarik dengan sosok-sosok tersebut bagi para pengajar tentu perkara yang sangat berat.

Lalu apa yang bisa ditawarkan oleh pengajar di dunia nyata kalau mereka menjadi tidak menarik karena kalah saing dengan sosok-sosok hebat dunia maya tadi? Harapannya ada pada kemampuan sang pengajar di dunia nyata untuk memberi kasih sayang. Remaja bisa mendapat kasih sayang melalui produk teknologi, tapi tentu tak sebanding besarnya dengan kasih sayang yang didapat dari orang yang berinteraksi dengannya secara langsung.

Gerd Leonhard, seorang futuris, memiliki karya berjudul Technology Vs Humanity: The Coming Clash Between Man and Machine (2016) yang sampulnya bergambar unik, dua tangan robot yang bersatu membentuk lambang cinta. Gambar ini bisa kita pahami sebagai lambang upaya sang robot menawarkan kasih sayang kepada manusia. Dalam buku itu Leonhard menyatakan bahwa untuk menyelamatkan masa depan kemanusiaan, kita mesti berinvestasi dalam memajukan kemanusiaan dengan sebesar mungkin energi sebagaimana kita berinvestasi dalam mengembangkan teknologi.

Apabila teknologi terus dikembangkan untuk melahirkan kasih sayang sebagaimana dilambangkan oleh tangan sang robot, manusia pun perlu terus mengembangkan usaha menebar kasih sayang kepada sesama. Dalam kasus para remaja, apabila mereka telah merasa mendapat curahan kasih sayang dari pengajar melalui interaksi langsung, maka mereka akan membuka diri bagi curahan ilmu dari sang pengajar. Pada saat itulah pengajar dapat mencurahkan pengajaran berupa pengetahuan dan keterampilan yang bisa saja tak kalah hebat dari yang dimiliki oleh sosok-sosok di dunia maya tadi.

Lebih dari sekadar melakukan proses transfer pengetahuan dan keterampilan, seorang pengajar akan menjadi pendidik sejati dengan menunjukkan keteladanan akhlak mulia. Orangtua dan guru dalam arus teknologi informasi yang begitu pesat tak bisa begitu saja menyerahkan sepenuhnya pendidikan kepada produk teknologi tanpa memberi kasih sayang dan keteladanan moral secara langsung. Jika hal ini terjadi, remaja akan merasa bahwa produk teknologi adalah sumber pengajaran pengetahuan, keterampilan, sekaligus sumber kasih sayang dan panutan moral.

Dalam keadaan demikian manusia di dunia nyata hanya diletakkan menjadi pelengkap bagi dunia maya yang teranggap sejati. Jangan heran jika akhirnya remaja tidak langsung begitu saja menerima seseorang baru yang hadir untuk memberikan pengajaran. Di sisi lain, kasih sayang yang akhirnya dirindukan adalah kasih sayang khas produk teknologi yaitu hiburan yang tak terbatas.

Sementara itu, ajaran moralitas yang sebegitu banyak termuat dalam produk teknologi belum tentu berpengaruh karena terbatas pengetahuan, bukan keteladanan. Coba kita tengok dalam ajaran agama Islam, apa makna istilah hadits, yang merupakan salah satu sumber tatanan hidup seorang Muslim. Hadits bukan hanya ucapan Nabi Muhammad, namun juga termasuk segala perbuatan dan sifatnya yang menjadi uswah atau teladan bagi umatnya.

Keteladanan Moral

Terkait susutnya keteladanan moral, marilah kita melihat betapa semakin banyak kasus hukum yang dalam pemberitaannya memuat kata-kata "pelakunya di bawah umur". Apabila sebelumnya orang paling banter menggunakan istilah kenakalan remaja, bisa saja kini orang akan mulai menggunakan istilah kriminalitas remaja.

Pada akhirnya, bila kita ingin mendidik anak-anak kita menjadi pribadi unggul yang tetap menjaga hubungan dengan orang lain secara pantas dan layak, kita mesti terlebih dahulu menarik perhatian mereka dengan kasih sayang. Kita mesti cemburu kepada produk teknologi jika anak-anak kita begitu asyik masyuk dengan kasih sayang yang diberikan oleh produk teknologi.

Setelah mereka menyadari begitu berharganya hadirnya manusia di dunia nyata, berilah keteladanan moral pada mereka untuk menghormati dan menghargai orang lain. Dengan sikap hormat ini, anak-anak kita akan terbuka kepada hadirnya orang-orang lain di sekitarnya yang bisa saja tampak kalah menarik dengan orang-orang di dunia maya, namun sejatinya menyimpan sejuta ilmu untuk ditularkan. Hal ini bukan perkara mudah di tengah persaingan peran manusia dan produk teknologi, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com