detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 21 November 2019, 16:49 WIB

Kolom

Waspada Perangkap Sektor Jasa

Hafidz Arfandi - detikNews
Waspada Perangkap Sektor Jasa Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Banyak pakar melihat terjadinya shifting dalam struktur ekonomi Indonesia, di mana sektor jasa dianggap sebagai harapan baru untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi sejauh apa ketahanan sektor jasa untuk bisa diandalkan menjadi pendorong pertumbuhan, terutama ketika ekonomi global berada dalam ancaman resesi?

Penyumbang Pertumbuhan yang Lesu

BPS merilis data PDB Triwulan III 2019 di mana di dalamnya tercatat pertumbuhan (y to y) mencapai 5.02. Angka pertumbuhan ini disumbangkan oleh 5 sektor utama: industri pengolahan (0.86), pertanian(0.41), perdagangan (0.63), konstruksi (0.56), serta informasi dan komunikasi (0.47).

Meski demikian, dari kelima sektor penyumbang pertumbuhan hanya sektor konstruksi serta informasi dan komunikasi yang pertumbuhannya berada di atas PDB, yaitu masing-masing 5.65 dan 9.15. Industri pengolahan pertumbuhannya hanya di 4.15, begitu juga dengan pertanian yang hanya mampu tumbuh 3.08. Adapun perdagangan sedikit lebih baik tumbuh 4.75.

Kelesuan pada 3 sektor utama penyangga pertumbuhan sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Jika ditilik dari pertumbuhan PDB 2011 ke 2018 (tahun dasar 2010), menunjukkan bahwa ketiga sektor tersebut memang tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan PDB yang mencapai 5.36. Sektor industri pengolahan rata-rata hanya tumbuh 4.76, sedangkan pertanian dan perdagangan masing-masing tumbuh 3.99 dan 5.13.

Maka wajar jika postur ketiganya dalam PDB terus melorot. Sedangkan informasi dan komunikasi menjadi sektor yang tumbuh paling agresif dengan rata-rata 9.76.

Defisit Jasa dalam Transaksi Berjalan

Perkembangan sampai dengan Triwulan III (CoC) 2019 menunjukkan satu fenomena yang khas, di mana sektor primer dan sekunder hampir semuanya terseok-seok di bawah PDB, kecuali pengadaan air, pengolahan sampah, limbah, dan daur ulang serta konstruksi yang mampu tumbuh di atas PDB, masing-masing 7.28 dan 5.75. sebaliknya sektor tersier atau jasa justru tumbuh lebih cepat dari PDB, kecuali perdagangan yang masih bertahan di 4.88.

Pertumbuhan sektor jasa yang agresif dalam PDB ternyata tidak diimbangi kontribusinya dalam transaksi berjalan. Sektor jasa yang dianggap sebagai pendorong pertumbuhan ternyata justru menjadi penyumbang defisit transaksi berjalan. Pada 2018 defisit jasa mencapai -7,06 miliar dolar AS dan sampai dengan Triwulan III 2019 sudah mencapai -5,39 miliar dolar AS, atau meningkat (YoY) 10,67%.

Defisit terbesar disumbangkan oleh jasa transportasi yang pada 2018 mencapai -8.84 miliar dolar AS. Selain itu, jasa telekomunikasi, komputer dan informasi (TK&I) ternyata menjadi penyumbang defisit terbesar kedua. Sejak 2012 sektor ini berada di posisi defisit hingga 150 juta dolar AS dan pada 2018 nilainya meningkat lebih dari 10 kali lipat, mencapai -1.57 miliar dolar AS.

Meski lebih lambat, tren peningkatan defisit juga terjadi pada biaya kekayaan intelektual yang pada 2018 mencapai -1,46 miliar dolar AS. Untungnya, sektor perjalanan secara konsisten menyumbangkan surplus, yang pada 2018 mencapai 5.33 miliar dolar AS sehingga nilai defisit jasa masih relatif terkendali.

Di Triwulan III 2019, jasa transportasi mengalami perbaikan defisitnya menurun (YoY) 11.59%, sedangkan jasa TK&I dan biaya kekayaan intelektual masing-masing mengalami peningkatan defisit 6.65% dan 25,32%. Jasa perjalanan yang menjadi andalan surplus ternyata juga ikut merosot 11.21%.

Menyehatkan Struktur Perekonomian

Muncul pertanyaan, apakah benar perekonomian Indonesia memang mengalami shifting ke sektor jasa sehingga jasa dapat sepenuhnya diandalkan sebagai pendorong pertumbuhan? Atau sebenarnya pertumbuhan sektor jasa sekedar parasut saja di tengah situasi produksi yang tumbuh sangat lamban?

Sektor jasa idealnya tumbuh sebagai penopang atas perkembangan sektor primer dan sekunder. Hal ini seiring dengan proses maturing industrialization yang tidak hanya menyentuh industri pengolahan, tetapi juga di sektor pertanian, perikanan, perkebunan, pertambangan, dan lain-lain.

Dengan demikian, jasa-jasa yang tumbuh mampu secara simultan menopang pertumbuhan sektor primer dan sekunder utamanya sektor finansial (jasa keuangan dan asuransi), perdagangan, logistik (transportasi dan pergudangan), akomodasi dan informasi.

Sebaliknya, sektor jasa meski masih tumbuh relatif baik, tetapi juga berpotensi merosot jika sektor primer dan sekunder terus mengalami perlambatan. Hal ini mengingat permintaan terhadap sektor jasa sangat berkait dengan daya beli masyarakat.

Pertumbuhan sektor jasa yang terlalu tinggi bahkan melampaui pertumbuhan konsumsi, tanpa diiringi dengan pertumbuhan yang optimal pada sektor primer dan sekunder dikhawatirkan akan melahirkan bubble economic growth, yang disebabkan adanya peningkatan produksi jasa berlebih yang melampaui tumbuhnya permintaan.

Sektor jasa tentu berbeda dengan sektor manufaktur, di mana produk yang dihasilkan tentu tidak dapat disimpan (inventori) melainkan hanya bisa dikonsumsi pada waktu yang bersamaan dengan proses produksinya sehingga jika permintaan melemah maka terjadi underutilized, rata-rata pertumbuhan konsumsi dalam PDB 2011-2018 hanya di angka 4.98 saja sedangkan sektor jasa tumbuh mencapai 6.28.

Agaknya, Indonesia sebagai negara dengan populasi 267 juta orang tetap memerlukan pertumbuhan sektor primer dan sekunder yang lebih baik untuk dapat mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan. Hal ini mengingat faktor konsumsi sangat dominan, mencapai 66.03% di mana 56.52% berasal dari konsumsi rumah tangga, terutama konsumsi primer berupa pangan, sandang dan papan bagi rumah tangga yang mencapai 31,44% dari PDB.

Maka sudah saatnya, pemerintah dan otoritas moneter (BI dan OJK) menunjukkan keseriusan dan sinergitas dalam mengambil kebijakan-kebijakan yang mampu menggairahkan sektor primer dan sekunder, apalagi di tengah ancaman resesi global pada 2019-2020.

Ketiganya perlu menyusun kebijakan prioritas untuk memacu pertumbuhan sektor primer dan sekunder dengan mendorong kemudahan akses terhadap kredit dan berbagai insentif yang memadai untuk dapat menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih optimal.

Hafidz Arfandi peneliti ekonomi Institut Harkat Negeri (IHN) dan associate research di Indonesia for Global Justice (IGJ)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com