Dilarang Mengumpati Hujan

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Dilarang Mengumpati Hujan

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Selasa, 19 Nov 2019 13:00 WIB
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - Saya tak habis pikir, kenapa bersama "senja", kata "hujan" selalu dilekatkan dengan romantisme? Setiap penyair pemula tak bosan-bosannya memajang kedua kata itu untuk menciptakan sejenis sensasi syahdu tertentu.

Senja adalah saat matahari beranjak pergi, dan hujan adalah ketika matahari tak tampak sama sekali. Lalu, benarkah tak ada sisi romantis sedikit pun pada matahari? Kasihan.

Bahkan tak cuma para penyair pemula. Penulis sekawakan Laksmi Pamuntjak pun turut memuja hujan dengan vulgarnya, dalam Amba.

"Aneh, memang: selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan."

Cantik sih kata-katanya. Tapi kalau sudah soal hujan, jadinya ya gitu-gitu aja.

***

Kemarin pagi, pesawat yang saya tumpangi berputar-putar di atas Belitung. Pulau yang bopeng-bopeng karena kerakusan para pemangsa timah itu tampak dari atas, samar-samar, dan kadang tak terlihat sama sekali. Gelap, gara-gara hujan yang terus terguyur lebat.

"Penumpang yang terhormat, dengan sangat menyesal, karena alasan keamanan, kami terpaksa...."

Tak perlu saya simak lagi kalimat lanjutan dari Mas Pilot. Persis dengan yang saya cemaskan sejak setengah jam sebelumnya, pesawat baling-baling berukuran semenjana itu tak berani mendarat. Terlalu berbahaya. Alasan keamanan. Curah hujan di bawah limit toleransi. Begitulah katanya.

Dan, setelah satu setengah jam berpesiar di langit, kami pun kembali lagi ke Pangkalpinang, lapangan terbang yang tadinya menjadi alas pijak burung aluminium itu untuk melompat ke udara. Artinya, saya harus membuang beberapa jam lagi, bahkan berjam-jam, entah sampai sore entah sampai malam, hanya untuk duduk diam di bandara tanpa kejelasan.

Ini jelas bukan kabar bagus. Saya sudah membayangkan duduk-duduk menikmati angin pantai yang menerobos di sela bebatu granit sebesar menhir era Megalitikum, sembari melirik ke bawah kepada ikan-ikan yang bermanuver di antara beberapa keping bintang laut. Suasana yang sangat Belitung.

Tapi, boro-boro bintang laut. Saya malah tepekur di dalam bandara, persisnya di depan papan besar bertuliskan I Love Bangka. Ini posisi psikologis yang buruk. Saya dipaksa mencintai Bangka, padahal seharusnya saya sudah meninggalkannya.

Acara saya di Bangka memang sudah selesai. Sebagai aktivis jalan-jalan garis fanatik, tak mungkin saya meninggalkan Bangka tanpa mampir barang sebentar di Belitung. Untungnya, ada sisa waktu sehari untuk itu. Sialnya, yang menyambut saya di Belitung malah hujan superderas, bahkan dalam prakiraan cuaca berbahasa Inggris disebut secara agak menyeramkan: thunder storm!

Hujan lebat itu diprediksi tersiram tak cuma pada Senin saja. Sampai Selasa, bahkan Rabu. Sementara, Selasa siang saya harus pergi dari pulau bopeng-bopeng tapi pantainya cantik-cantik ini untuk penerbangan berikutnya. Benar sekali, dengan kalimat lain: saya jauh-jauh ke Belitung cuma untuk pindah tidur. Itu dia.

Lalu, di manakah romantisnya hujan, duhai Mbak Laksmi?

***

Pada saat seperti inilah saya kepingin memaki-maki. Mengumpati hujan yang bikin kacau agenda jalan-jalan saya. Namun tentu saja saya tak berani sungguh-sungguh mengumpati hujan. Takut kualat.

"Jangan memaki hujan, karena hujan adalah kehidupan bagi sawah-sawah dan para petani." Nasihat semacam itu berkali-kali saya dengar semasa kecil. Entah dari almarhum Bapak, atau dari guru di sekolah, atau dari tivi.

Hingga kemudian saya beranjak remaja, mengamati langsung lahan-lahan pertanian di sekeliling saya, mengobrol banyak dengan mendiang kakek saya yang petani tulen itu, juga dengan para tetangga yang hidup dari sawah-sawah di sekitar saya.

Akhirnya saya tahu bahwa hujan tidak melulu menjadi manfaat. Hujan lebat membuat batang-batang padi roboh. Sekali roboh dan terguyur basah, mau sudah matang ataupun belum, bulir-bulir padi itu harus segera dipanen. Jika tidak, semua akan segera membusuk.

Pendek kata, bagi petani, hujan tuh mirip cinta: ia jadi berkah hanya ketika dicurahkan dalam porsi yang cukup dan di saat yang tepat. Selebihnya, too much love will kill you.

Tidak cuma buat petani, sebenarnya. Untuk aktivitas perekonomian lain, hujan pun kerap kali jadi malapetaka. Sekali air ditumpahkan dalam volume maksimal, warung-warung gagal dapat pengunjung, toko-toko apa pun sepi karena orang lebih memilih berteduh di rumah.

Saya ingat, saat saya berjualan kaos yang saya titipkan di kios-kios bazar Muktamar Satu Abad Muhammadiyah, benar-benar saya baru menyaksikan bahwa hujan sungguh-sungguh menghentikan segala aktivitas perekonomian. Tiap kali bresss air tercurah deras dari langit, tak ada orang bergerak. Dan tak ada uang bergerak.

Belum lagi saat saya menjalankan bisnis penerbitan buku kecil-kecilan. Rutin, laporan penjualan paling jeblok datang di bulan-bulan penghujan. Rasanya, memang tak banyak populasi orang gila yang lebih memilih datang ke toko buku di saat hujan lebat, alih-alih meringkuk di balik selimut hangat.

Lantas, apakah kita jadi boleh mengumpati hujan? Tetap saja saya tak berani. Pamali.

Tapi bagi para orang tua, mending berhenti memberikan rasionalisasi atas pelarangan memaki hujan. Cukuplah bilang, "Nak, jangan memaki hujan. Hujan adalah berkah Allah yang diturunkan oleh Malaikat Mikail. Ucapkan doa di saat hujan, maka doamu akan terkabul." Titik. Nggak usah neko-neko pakai penjelasan ilmiah.

Saya mulai berpikir, dalam hidup ini agaknya tidak semua hal layak dirasionalkan. Selalu ada sektor-sektor yang sebaiknya dibiarkan saja tinggal dalam area misteri, dan tidak usah diutak-utik lagi.

***

Saya masih saja melamun di ruang tunggu. Tanpa kepastian masa depan, di dalam bandara, di hadapan tulisan besar-besar I Love Bangka.

Sampai kemudian rasa lapar datang. Dan saya tak punya pilihan selain melangkah ke salah satu dari hanya tiga warung makan di dalam ruang tunggu itu, warung-warung yang memasang harga jualannya tiga kali lipat dari harga di luar bandara.

Wajah mbak-mbak pedagang makanan di ketiga warung itu cerah sekali. Warungnya ramai sekali, berisi para penumpang pesawat yang senasib dengan saya. Hujan seratus persen berkah untuk mereka. Dan senyum di wajah mereka adalah jenis senyum yang sangat rasional.

Iqbal Aji Daryono penggemar jalan-jalan

(mmu/mmu)