Merayakan Filologi Nusantara

Kolom

Merayakan Filologi Nusantara

Fathurrochman Karyadi - detikNews
Jumat, 15 Nov 2019 15:31 WIB
Foto: Bayu Ardi Isnanto
Foto: Bayu Ardi Isnanto
Jakarta -
Beberapa waktu lalu, seorang mahasiswa Belanda mengajak saya berdiskusi di Jakarta. Kami berbincang banyak hal mulai dunia akademik, penelitian, sampai bisnis. Lalu ia bertanya tentang jurusan kuliah saya. Ketika saya jawab "filologi", ia bingung. "Apa itu?"

Saya kira ketidaktahuan dia tentang filologi cukup mewakili generasi milenial. Ya, pasti anak-anak muda sekarang lebih familiar dengan biologi, sosiologi, psikologi, dan antropologi ketimbang filologi.

Meski demikian, para filolog (ahli filologi) masih terus rajin berkarya dan menyosialisasikan hasil temuannya. Pada 6 November lalu, Guru Besar Filologi Universitas Indonesia Profesor Achadiati Ikram menelurkan kembali buku terbarunya Pengantar Penelitian Filologi.

Buku yang diterbitkan oleh Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) itu diluncurkan bersamaan dengan seminar nasional di FIB UI dengan tema "Naskah dalam Kajian Antardisiplin pada Era 4.0". Hadir memeriahkan acara tersebut Oman Fathurahman, Sudibyo, Munawar Holil, Titik Pudjiastuti, Mujizah, dan lainnya.

Henri Chambert-Lior mengatakan, tidak ada ahli yang lebih tepat daripada Achadiati Ikram untuk menulis buku ini karena dia sudah empat puluh tahun mengabdi kepada ilmu filologi. Disertasinya tentang edisi teks Hikayat Sri Rama dibimbing langsung oleh A. Teeuw di Universitas Leiden, Belanda. Buku lain yang ditulis Ibu Ikram di antaranya Filologia Nusantara, Katalog Naskah Buton, dan Katalog Naskah Palembang.

Jika kita melihat khazanah filologi di Indonesia, sebenarnya sudah ada beberapa buku yang ditulis sebagai acuan sebuah disiplin ilmu. Seperti yang telah ditulis Siti Baroroh Baried, Chamamah Soeratno, Edwar Djamaris, Panuti Sudjiman, Nabilah Lubis, Oman Fathurahman, dan Karsono H Saputra.

Tentunya mereka juga merujuk karya filolog Barat seperti Pigeaud dan Stuart Robson. Maka menarik pernyataan Henri Chambert-Lior bahwa filologi Eropa perlu dipelajari, tetapi sebuah filologi khas Indonesia perlu juga dibangun.

Filologi Nusantara

Pada 21-23 November nanti, akan digelar Borobudur Writers & Cultural Festival (BWCF) yang kedelapan di Yogyakarta dan Magelang. Pertemuan tahunan ini diperuntukkan para penulis baik fiksi maupun nonfiksi, para pekerja kreatif, aktivis budaya dan keagamaan lintas iman. Peserta BWCF terdiri dari sastrawan, penulis, pemusik, penari, perupa, pewarta, sejarawan, sosiolog, arkeolog, filolog, antropolog, ilmuwan, budayawan, dan teolog.

Kabar gembiranya, BWCF kali ini akan memberikan Sang Hyang Kamahayanikan Award kepada Achadiati Ikram. Ia diakui sebagai tokoh yang memiliki kontribusi besar dalam bidang seni-budaya dan humaniora di tengah masyarakat, terutama dedikasinya melakukan inventarisasi, preservasi, katalogisasi, penelitian, dan publikasi manuskrip Nusantara.

Ini akan menjadi momen penting dalam merayakan filologi Nusantara. Di mana filologi mendapatkan porsi utama dalam perhelatan luar biasa itu. Tentunya kita juga tidak lupa bahwa pada 2016, Presiden Joko Widodo menganugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Ibu Ikram. Ia dinilai telah mengembangkan studi filologi untuk membangkitkan apresiasi terhadap karya-karya intelektual Indonesia.

Dalam sebuah wawancara, Ibu Ikram menjelaskan bahwa filologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari naskah-naskah lama. Indonesia memiliki harta warisan naskah lama yang luar biasa banyaknya. Naskah lama berbahasa Jawa saja tidak kurang dari 19.000, hanya 10% yang baru diteliti. Belum terhitung naskah dari Melayu, Bugis, Bali, Lombok, Madura, dan banyak lagi.

Ia menegaskan, "Kita sebagai bangsa perlu mengetahui sejarah bangsa kita untuk mengembangkan jati diri kita. Kita sebagai bangsa tidak mempunyai jati diri. Kita tidak tahu apa dan dari mana kita. Kita mempelajari sejarah dan gaya bangsa lain, tetapi budaya kita sendiri kita tak paham. Dengan mempelajari naskah lama kita bisa mengenal diri kita dan hal itu akan membuat jatidiri kita akan jadi kokoh".

Saya membayangkan, pasca-BWCF filologi menjadi "viral" di negeri ini. Sehingga tak menutup kemungkinan, Mendikbud baru kita Nadiem Makarim berkenan menetapkan filologi sebagai salah satu materi kurikulum wajib di tingkat sekolah. Minimal, teman saya yang mahasiswa Belanda itu tahu bahwa Indonesia gudangnya filologi.

Fathurrochman Karyadi peneliti, bergiat di Lingkar Filologi Ciputat (LFC)

(mmu/mmu)