detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 14 November 2019, 14:24 WIB

Kolom

Berkah Pesta Belanja: Belajar dari China

Jusman Dalle - detikNews
Berkah Pesta Belanja: Belajar dari China Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

Pesta belanja 11.11 menuai animo tinggi. Lusinan pelaku industri ikut berpartisipasi. Dari kalangan perbankan, logistik, food and beverage, fashion, e-commerce, hingga travel agent. Potongan harga, hadiah yang diundi, dan uang kembali jadi bumbu promosi. Satu tujuan hendak dicapai. Profit tinggi berharap dikantongi.

Sebetulnya, puncak hari belanja online nasional Indonesia tahun ini adalah 11.12 dan 12.12. Sebulan lagi. Itu sudah disepakati bersama dalam asosiasi. Angkanya juga cantik. Dan, lebih autentik. Digagas langsung oleh beberapa e-commerce lokal pada 12.12.12.

Sementara 11.11 diadopsi dari Single Day di China. Juga sudah dimeriahkan tahunan di Indonesia. Pelopor Single Day adalah Alibaba. Filosofinya cukup mulia. Mendedikasikan satu hari khusus bagi para laki-laki maupun perempuan lajang (single) agar punya hari bergembira bersama.

Usut punya usut, Single Day ini konon bermula dari ekspresi kritik. Protes terhadap perayaan hari kasih sayang. Valentine's Day dinilai diskriminatif terhadap mereka yang sendiri. Mencuat pertama kali dari kamar asrama empat mahasiswi jomblo Nanjing University pada 1993.

Lalu "pemberontakan" itu menular dari kampus ke kampus, hingga diadopsi oleh masyarakat. Alibaba lantas membacanya sebagai potensi bisnis menjanjikan. Single Day dalam wujud pesta belanja pertama digelar pada 2009. Itulah epos Single Day.

Status jomblo menjelma jadi selebrasi konsumsi. Bukan hari biasa. Hari sakral yang saban tahun dinanti-nanti. Terutama oleh para pedagang daring. Dari perlawanan diskriminasi terhadap stratifikasi asmara, 11.11 berubah jadi pesta belanja untuk semua. Bukan buat yang tuna asmara saja.

Sebagai hari istimewa yang diinisiasi oleh pelaku industri, momentum tersebut jadi ajang mendulang profit superjumbo. Alibaba sang pelopor, pada 2019 ini meraih 13 miliar dolar dalam satu jam pertama 11.11 dimulai. Setara Rp 183 triliun. Angka fantastis.

Di China, 11.11 bukan pesta belanja biasa. Single Day didaulat menopang ekonomi negara. Rantai ekonomi bergemuruh pada hari-hari tersebut. Masyarakat di sektor produksi menuai berkah. Mulai dari usaha kecil rumahan di pelosok Negeri Tirai Bambu hingga skala industri semua ketiban tuah pesta belanja.

Mengutip studi Price Waterhouse Coopers (PwC), konsumen online Alibaba rata-rata menghabiskan Rp 3,4 juta dalam satu tahun pertama mereka menggunakan platform. Saat ini, Alibaba sebagai pemain utama punya 730 juta pengguna aktif. Belum lagi pengguna di JD.com dan Pinduoduo. Ketiga merupakan pemain utama di China.

Pesta belanja 11.11 jadi amat penting. China berupaya menjaga keberlanjutan pertumbuhan konsumen daring mereka. Pasar online di kota-kota sudah mulai jenuh. Beijing, Guangzhou, Chengdu hingga Shanghai tak lagi bisa diandalkan untuk melaju. Sementara potensi penetrasi ekonomi digital China masih besar.

Populasi internet pedesaan mencerminkan peluang pasar baru yang menguntungkan bagi para pemain e-commerce China. Kota-kota kecil dan kawasan pedesaan adalah pasar lapis kedua alias sabuk pengaman, agar selamat dari laju pelambatan yang ditandai pertumbuhan di kota-kota tingkat pertama.

Sektor produksi China bergemuruh. Biaya produksi yang rendah dan pasar domestik jumbo di antara variabelnya. Maka UKM di pedesaan bangkit. Ekonomi kadung ditopang oleh entitas ekonomi digital berbasis konsumsi.

Karenanya, perlambatan pertumbuhan berarti ancaman bagi ekonomi negara. Ekspansi. Demikian jalan keluarnya.

Atas alasan itu juga, e-commerce China sangat agresif menjajal destinasi baru. Penetrasi ke pasar-pasar anyar diperdalam. Aksi korporasi ditempuh. Mulai dari investasi hingga akuisisi. Indonesia merupakan salah satu tuan rumah yang ramah pada konglomerasi dan group bisnis Alibaba. Jack Ma bahkan diangkat sebagai penasihat ekonomi digital Indonesia.

Pemerintah China tak tinggal diam. E-commerce diakui berkontribusi memangkas kemiskinan di China. Hingga bahkan ditargetkan bebas dari penduduk miskin pada 2020. Ekonomi digital salah satu andalan.

Tak ayal, diplomasi ekonomi dilancarkan. Kita pun menyaksikan gurita bisnis entitas digital China merambah ke berbagai negara. India, Australia, Singapura, dan Indonesia adalah medan pertarungan selanjutnya yang berupaya ditaklukkan. Pasar-pasar gemuk dengan potensi menjanjikan.

Perlu Belajar

Seperti pepatah populer "tuntutlah ilmu sampai ke negeri China," begitu pula dalam studi bagaimana China berselancar di tengah ledakan ekonomi digital. Pemerintah, juga entitas bisnis digital perlu belajar dari China.

Memperkuat basis produksi. Itulah kunci mengapa denyut ekonomi China tak pernah lesu. China sebagai destinasi investasi dalam skala makro, mungkin hal yang biasa. Mengingat pasar dan pengaruh China terhadap tatanan ekonomi dunia sangat besar. Namun, kesuksesan China mendorong basis-basis produksi dari kampung-kampung, pelosok dan kota-kota kecil merupakan sebuah capaian yang layak ditiru.

Kalau anda mengecek spare part otomotif di e-commerce China misalnya, kita akan disuguhkan opsi-opsi produk dari perusahaan yang berbasis di pelosok namun mereka dapat menjangkau pasar global. Harganya sangat kompetitif. Tak heran bila display suku cadang dan aksesoris mobil di Kemayoran didominasi produk-produk dari China. Meski memang kualitasnya bukan jempolan.

Kekuatan produksi China harus diakui memang berpangkal dari upah buruh yang murah. Belum lagi kemudahan investasi. Pelaku ekonomi tidak dibebani. Kalau bisa dfatar hari ini, izin langsung keluar, besok langsung produksi. Itulah revolusi ekonomi yang memukau. Wajah negara komunis kini berjubah kapitalis dengan segala keunggulan kompetitifnya. Menggelar karpet merah pada pelaku ekonomi domestik.

China bisa saja membuka kran investasi asing yang masif untuk menghela ekonomi negara berpopulasi 1,4 miliar manusia itu. Namun, "kapitalisme" ala negara komunis tidak seperti itu. China ingin membuat warna ekonominya sendiri.

One Belt One Road (OBOR) yang telah direvisi menjadi Belt Road Initiative (BRI) bukan proyek fisik semata. Ambisi menguasai dunia itu sudah diadopsi juga ke proyek virtual. E-commerce China menjalankan strategi tersebut. Jalur sutra di kancah digital.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Alih-alih jadi jawara ekonomi digital dalam terminologi autentik, menguasai pasar e-commerce. Indonesia malah jadi ladang menyedot cuan. Kekuatan produksi yang tak andal, disalip oleh hasrat konsumsi membuncah. Jadilah Indonesia sebagai destinasi impor.

Etalase e-commerce dipenuhi produk dari luar negeri. Mau itu e-commerce berlabel karya anak bangsa maupun e-commerce asing, mayoritas jadi pasar bagi produk dari luar negeri. Tak kurang dari 90% produk di e-commerce adalah impor. Itu data Kementerian Perindustrian.

Kita berharap, puncak Hari Belanja Online Nasional 11.12 dan 12.12 mendatang dapat mengatrol produk lokal. Pasalnya, 11.12 sudah didedikasikan khusus untuk menjual produk made in Indonesia saja. Semoga ampuh. Sebab untuk bersaing, tak cukup mengandalkan privilege. Namun juga harus punya unique selling point. Lalu apa?

Jusman Dalle Direktur Eksekutif Tali Foundation, praktisi ekonomi digital




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com