Keliru Memandang Ekonomi Kreatif

Kolom

Keliru Memandang Ekonomi Kreatif

Afridho Aldana - detikNews
Senin, 11 Nov 2019 15:02 WIB
Maker Fest mendorong kreator lokal (Foto: Rengga Sancaya)
Maker Fest mendorong kreator lokal (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Dalam pidato pelantikannya, Presiden Jokowi menyinggung pentingnya inovasi sebagai budaya untuk menunjang target Indonesia menjadi negara maju pada 2045. Dalam performa perekonomian, hal ini ditandai dengan target capaian Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 7 triliun dolar AS. Salah satu sektor yang bisa dimaksimalkan untuk mencapai target ini adalah ekonomi kreatif.

Pengembangan ekonomi kreatif dalam periode pertama pemerintahan Presiden Jokowi patut diapresiasi. Dalam angka, sumbangsih ekonomi kreatif terhadap PDB 2019 diproyeksikan mencapai lebih dari Rp 1.200 triliun. Nilai ini naik dibandingkan nilai PDB ekonomi kreatif 2015 saat Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) pertama kali dibentuk, yakni Rp 852 triliun.

Angka ini masih kecil bila dibandingkan dengan Britania Raya sebagai salah satu negara yang paling awal membenahi sektor ekonomi kreatif. Secara keseluruhan, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap perekonomian Britania Raya lebih tinggi ketimbang kontribusi industri finansialnya pada 2018 lalu. Sebesar 14.6% dari seluruh perekonomian Britania Raya, atau 267.7 miliar poundsterling berasal dari sektor ekonomi kreatif, dengan 130 miliar poundsterling di antaranya berasal dari sub-sektor digital saja.

Data ini menunjukkan kekeliruan cara memandang ekonomi kreatif di Indonesia sebatas usaha memajukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Keliru pula pandangan yang melihat ekonomi kreatif sebagai sub-sektor dari industri pariwisata. Hal ini karena peran penting ekonomi kreatif terletak pada kemampuan sektor ini untuk memanfaatkan inovasi dan teknologi.

Bekraf pada periode pemerintah sebelumnya sudah memasukkan pengembangan teknologi ke dalam agenda pengembangan ekonomi kreatif nasional. Ini merupakan agenda lintas sektor berupa penyelesaian Palapa Ring, pembangunan jaringan 4G di seluruh Indonesia, dan pembangunan roadmap e-commerce Indonesia. Beberapa kebijakan seperti insentif pajak kepada perusahaan start-up, kompetisi dan pelatihan coding, sampai kerja sama strategis antar-institusi juga sudah dilakukan.

Kegiatan ekonomi kreatif yang sudah diusahakan Bekraf selama kurang lebih empat tahun ini patut dilanjutkan. Namun dengan paradigma yang disesuaikan, yakni menjadikan ekonomi kreatif sebagai wadah inovasi untuk mengembangkan sektor-sektor industri lain di Tanah Air.

Penyesuaian paradigma ini dirasa penting agar inovasi yang dihasilkan ekonomi kreatif dapat menunjang pertumbuhan seluruh sektor industri sehingga dapat berkontribusi lebih kepada perekonomian.

Model Inovasi

Pada 2008 Jason Potts bersama Stuart Cunningham, dua profesor asal Australia bidang ekonomi dan komunikasi, merilis sebuah artikel ilmiah yang menerangkan empat model ekonomi kreatif dalam sebuah sistem perekonomian: model kesejahteraan, model kompetisi, model pertumbuhan, dan model inovasi.

Model kesejahteraan melihat ekonomi kreatif sebagian kegiatan yang menghasilkan produk seni bernilai tinggi. Dalam model ini ekonomi kreatif tidak memberikan sumbangsih kepada ekonomi, namun menguras pendapatan karena kegiatannya disubsidi pemerintah.

Model kedua dan ketiga memposisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan industri yang memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian. Bedanya, model kompetisi menempatkan ekonomi kreatif sebagai kegiatan khusus dalam bidang industri hiburan dengan kegiatan produksi dan distribusi informasi sebagai kegiatan utama. Tidak ada regulasi khusus yang menunjang kegiatan ekonomi kreatif dalam model ini. Kontribusi ekonomi yang dihasilkan murni dari transaksi ekonomi antara produsen dan konsumen tanpa melibatkan sektor industri lain.

Dalam model pertumbuhan, ekonomi kreatif ditempatkan sebagai sektor spesial yang perlu diatur secara khusus termasuk dalam urusan investasi dan permodalan. Ekonomi kreatif dalam model ini memiliki peran sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi yang utama karena dapat menghasilkan produk dan tenaga kerja baru melalui peleburan ide dan aplikasi teknologi ke dalam kegiatan ekonomi kreatif. Tapi, model ini absen dalam urusan suplai ide baru kepada sektor-sektor di luar ekonomi kreatif. Sehingga, kontribusi yang diberikan sektor lain kepada perekonomian tidak tumbuh setinggi ekonomi kreatif.

Ketika tiga model sebelumnya fokus kepada sektor ekonomi kreatif saja, model inovasi melihat ekonomi kreatif sebagai kegiatan inovasi yang tidak bisa berdiri sendiri. Model ini tidak melihat ekonomi kreatif sebagai kontribusi terbesar dalam perekonomian. Namun, sektor ini berperan sebagai koordinator inovasi pada seluruh sektor industri yang ada.

Ekonomi kreatif dalam pandangan model ini adalah faktor utama pertumbuhan industri lain. Inovasi, baik dalam hal ide baru maupun implementasi teknologi di dalam sektor ekonomi kreatif diaplikasikan ke sektor-sektor lain. Dalam praktiknya, inovasi dalam bidang teknologi adalah bentuk yang paling dimungkinkan untuk diaplikasikan ke berbagai sektor. Misal, sektor yang sebelumnya tidak tersentuh oleh ekonomi kreatif seperti kesehatan, transportasi, keamanan dan pendidikan dapat dibantu tumbuh dengan inovasi-inovasi yang muncul dalam kegiatan ekonomi kreatif digital.

Oleh karena itu, keliru rasanya bila membatasi ekonomi kreatif sebagai kegiatan membangun UMKM dan sektor penunjang industri pariwisata saja. Karena, potensi ekonomi kreatif Indonesia bisa dikatrol bila inovasi di bidang digital juga turut dikembangkan dan diaplikasikan dalam praktik-praktik industri lain.

Afridho Aldana MA in International Cultural Policy and Management, Centre for Cultural and Media Policy Studies, University of Warwick, UK; S.Sos program studi Kajian Media, Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP UI

(mmu/mmu)