detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 11 November 2019, 13:16 WIB

Kolom

Kacamata Baru untuk Mengukur Kinerja Pariwisata Indonesia

Myra Gunawan - detikNews
Kacamata Baru untuk Mengukur Kinerja Pariwisata Indonesia Wisman di Sabang (Foto: dok BPKS Sabang)
Jakarta -

Dalam Kabinet Kerja 2014-2019, pemerintah mencanangkan target 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) untuk 2019. Sampai dengan akhir 2018 capaiannya 15,81 juta. Sementara untuk Januari - Juli 2019, kunjungan wisman mencapai 9,3 juta.

Dengan sisa waktu tinggal 2 bulan ini, tampaknya target yang dicanangkan pada awal kabinet kerja akan sulit tercapai. Meskipun, Indonesia sudah membuka diri lebar-lebar dengan membebaskan visa bagi 141 negara, dan unggul di harga yang kompetitif.

Tidak tercapainya target ini disebabkan oleh banyak faktor, dan perlu dilihat lebih secara lebih luas. Setidaknya ada dua penyebab yang bisa kita tangkap. Pertama, target yang terlalu tinggi; atau kedua, mungkin strategi yang kurang pas.

Pertama, mengenai angka target kunjungan wisman. Kalau melihat sumber daya yang dimiliki Indonesia dan capaian negara tetangga, target tersebut tidaklah terlalu tinggi. Kita lihat Malaysia yang mencapai 20 juta kunjungan wisman sebelum 2010, padahal pada 1998 jumlah kunjungannya setara dengan masa puncak Indonesia pada 1997 sebelum krisis nasional (5,2 juta wisman).

Kedua, tentang strategi yang kurang pas. Kenyataan bahwa Indonesia menerima banyak penghargaan yang membanggakan menunjukkan bahwa banyak upaya dilakukan untuk pencitraan, sementara keunggulan Malaysia tercipta melalui pelatihan bagi pekerja, praktik rekrutmen, gaji, dan produktivitas yang menyebabkan kemudahan memperoleh tenaga terampil, efektivitas pemasaran, dan pengembangan industri yang berkelanjutan. Dalam hal yang terakhir ini Indonesia dan bahkan Thailand jauh tertinggal (WEF, 2019).

Selain itu, perlu dicatat bahwa pertumbuhan pesat Malaysia selain karena pembenahan diri yang tepat sasaran juga karena pertumbuhan ekonomi dan kelas menengah Indonesia, yang menjadi pasar utama bagi Malaysia. Letak Malaysia yang bertetangga dengan Singapura dan negara ASEAN lainnya yang memungkinkan perjalanan darat lintas batas ke Malaysia juga merupakan faktor yang menguntungkan.

Beberapa tahun terakhir, Indonesia mulai gencar memperhitungkan perjalanan lintas batas. Lumayan untuk mengurangi kesenjangan target pencapaian, namun tetangga kita berbeda dengan tetangga Malaysia. Posisi geografis Indonesia terhadap negara ASEAN, selain Singapura dan Malaysia, berbeda dibandingkan dengan Malaysia.

Apakah tidak tercapainya target 20 juta wisman kemudian merupakan kegagalan pariwisata Indonesia? Sudah pasti tidak.

Ada keberhasilan lain yang tidak kalah pentingnya, tetapi belum "diperhitungkan". Pada 2018, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 303.403.888 perjalanan dengan pengeluaran rata-rata sebesar Rp 959.000/perjalanan. Pengeluaran total wisnus mencapai Rp 291 triliun, setara dengan 20,7 miliar dolar AS. Jumlah ini melampaui total pengeluaran wisman (14,1 miliar dolar AS, data BI 2018). Sayangnya sepertinya hal ini kurang menjadi perhatian.

Perlu dicatat pula bahwa pengeluaran mayoritas wisnus lebih menyentuh usaha kecil dan menengah (UMK) melalui jasa, makan-minum, dan oleh-oleh. Berbeda dengan wisman yang relatif lebih banyak bersinggungan dengan usaha besar atau jejaring bisnis internasional. Rasio antara jumlah perjalanan dan jumlah penduduk Indonesia dalam kurun waktu 2015-2018 juga meningkat 14%, demikian pula pengeluaran wisnus per perjalanan juga meningkat sebesar 9,5%.

Selain itu ada hal lain yang sangat penting untuk dicermati. Neraca pariwisata Indonesia tidak hanya tergantung kepada pengeluaran wisman yang masuk ke Indonesia, tetapi juga pengeluaran wisatawan Indonesia ketika di luar negeri. Angka jumlah wisatawan Indonesia ke LN menembus 10 juta pada awal 2019 (Bisnis.com).

Indonesia menjadi sasaran empuk berbagai negara di penjuru dunia yang menangkap keinginan kelas menengah atas untuk bepergian ke luar negeri. Negara-negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia serta kawasan Asia Pasifik umumnya menikmati pertumbuhan pesat dari kunjungan wisatawan Indonesia.

Dari kondisi di atas, kalau kita hitung neraca pariwisata Indonesia, terlihat jelas dari sisi pengeluaran langsung, jumlah pengeluaran total wisnus (domestik) melebihi pengeluaran total wisman yang datang ke Indonesia. Apalagi kalau pengeluaran wisman harus "dipotong" dengan pengeluaran wisatawan Indonesia di luar negeri, maka angka devisa netto akan jauh makin kecil lagi.

Harga tiket angkutan udara domestik seringkali lebih tinggi dari tiket ke LN. Gencarnya promosi oleh negara tetangga didukung oleh industri perjalanan Indonesia yang lebih mudah menjual produk ke luar negeri kepada pasar nasional ketimbang sebaliknya. Faktor-faktor itu menjadi pendorong pertumbuhan wisatawan Indonesia ke luar negeri.

Dalam dokumen Indonesia 2045 disebutkan bahwa untuk 2025 Indonesia menargetkan 31,8 juta wisman melalui peningkatan daya saing. Suatu jumlah yang tidak terlalu besar kalau melihat potensi sumber daya wisata Indonesia yang berada di atas negara-negara ASEAN umumnya.

Lagi-lagi sayangnya program Indonesia 2045 tidak mencantumkan target untuk wisnus yang justru makin ramai. Makin banyak penduduk Indonesia melakukan perjalanan atau makin banyak perjalanan dilakukan per penduduk, jarak tempuh yang makin jauh, serta pengeluaran yang meningkat. Meskipun perlu dicatat bahwa sebagian besar masih didominasi oleh perjalanan menuju ke Pulau Jawa. Tetapi ini pun masih masuk akal, karena Jawa adalah tempat tinggal sebagian besar penduduk Nusantara

Hal lain yang menjadi sumber "kebocoran" devisa di bidang pariwisata berasal dari hotel berbintang, terutama hotel-hotel yang merupakan jejaring internasional. Ini terjadi karena masih besarnya komponen impor di sektor perhotelan. Suryawardani dalam disertasinya tentang Kebocoran Pariwisata dari Sektor Akomodasi di Bali menunjukkan antara lain bahwa tingkat "kebocoran" devisa dari hotel bintang 4-5 di Bali mencapai 51-55%, tergantung kepada jenis hotelnya. Selain itu disinyalir juga makin banyak wisman yang tidak menginap di akomodasi komersial, tetapi menginap di rumah teman, atau di berbagai vila yang dimiliki warga asing.

Selain itu untuk negara yang besar dan beragam seperti Indonesia perjalanan domestik oleh warganya untuk mengenal Nusantara perlu diberi makna tersendiri. Sebagai contoh, memasuki abad ke-20, Amerika (sebagai negara besar) memulai gerakan yang digagas oleh Negara Bagian Utah, dengan menyelenggarakan konperensi bertema See America First. Klub komersial Salt Lake City kemudian menyerukan kepada warga AS: You can go to Europe, but "See America First".

Saat itu orang Amerika bagian timur yang mengalami peningkatan pendapatan akibat industrialisasi cenderung berwisata ke Eropa Barat ketimbang ke bagian lain dari negaranya. Gagasan yang dicetuskan oleh negara bagian di sebelah barat telah berkembang menjadi gerakan nasional yang kemudian melampaui tujuan komersial, bahkan sampai ke transformasi budaya.

Presiden Johnson dalam pidatonya di Kongres menyatakan bahwa pariwisata memegang peran penting dalam rencana ekonominya. Perjalanan ke luar negeri perlu didorong saat AS mampu melakukannya, tetapi tidak saat posisi neraca perdagangan belum mengizinkan dan sekarang dukungan federal akan diarahkan untuk perjalanan di AS. Dalam akhir pidatonya dinyatakan dukungan untuk program "See the USA". Dukungannya berbentuk antara lain penulisan buku panduan wisata di masing-masing negara bagian dan papan-papan bertuliskan ajakan melakukan perjalanan dari satu ke negara bagian lain dan menggandeng pihak swasta.

Wapres ditugasi untuk memimpin kelompok kerja mempersatukan industri pariwisata dalam kerangka gerakan memajukan pariwisata nasional/domestik di bawah suatu lembaga yang disebut Discover America, Inc yang didanai oleh swasta dan beroperasi sebagai non profit public service corporation.

Melampaui harapan ekonomi, gerakan See America First berjalan terus dan berkembang. Discover America muncul pertengahan abad ke-20 dan perjalanan panjang gerakan tersebut ternyata menggugah kepedulian dan keyakinan tentang identitas dan persatuan nasional. Warga AS setelah berkunjung ke berbagai negara bagian dari barat ke timur dan sebaliknya menyimpulkan bahwa identitas Amerika adalah kesatuan dengan keanekaragamannya.

Semoga temuan dan contoh di atas dapat menginspirasi para pengambil keputusan dan perumus kebijakan di negeri ini untuk bergerak konsisten dan berkelanjutan dalam pengembangan pariwisata Nusantara. Pada awal milenium, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata telah menggelar Konferensi Pariwisata Nusantara dengan tema Pariwisata Membangun Bangsa. Sebelumnya pada 1990-an ada satu direktorat khusus yang menangani pariwisata Nusantara. Semoga ke depan ada gerakan yang signifikan dan konsisten menggarap pariwisata Nusantara.

Untuk negara yang besar dan beragam seperti Indonesia, perjalanan domestik oleh warganya untuk mengenal Nusantara tentu juga akan mempunyai arti lebih dari manfaat ekonomi di tingkat nasional, daerah, dan masyarakat. Saat ini ketika rasa kebersamaannya kita sebagai bangsa tengah diuji, pariwisata domestik dapat menjadi salah satu strategi untuk merekatkan kembali tali persatuan. Istilah anak sekarang, perbanyak piknik agar lebih mengenal keindahan perbedaan di Nusantara.

Myra P. Gunawan pendiri Pusat Penelitian Kepariwisataan Institut Teknologi Bandung, staf Ahli & Deputi Menteri Kebudayaan dan Pariwisata 2000-2004


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com