detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 11 November 2019, 11:17 WIB

Kolom Kang Hasan

Pendidikan 4.0 atau 2.0?

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Pendidikan 4.0 atau 2.0? Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Publik menanggapi terpilihnya Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan secara berbeda-beda. Ada yang bersemangat, berharap Nadiem membawa perubahan segar dalam pendidikan Indonesia. Tapi ada juga yang skeptis, menganggap Nadiem tak tepat berada di posisi itu, karena ia masih terlalu muda dan belum pernah berkecimpung di dunia pendidikan.

Apa konsep pendidikan yang akan dijadikan sebagai fondasi kebijakan-kebijakan pendidikan oleh Nadiem? Bagi saya pertanyaan itu salah kaprah kalau ditujukan ke sosok Nadiem. Nadiem hanyalah seorang menteri, pembantu presiden. Konsep yang paling dasar soal kebijakan seharusnya ada pada presiden. Nah, apa konsep pendidikan Presiden Joko Widodo?

Jujur saja, saya tidak melihat ada kata kunci besar soal pendidikan dalam berbagai pernyataan Presiden Jokowi soal pendidikan. Itu pula yang tercermin dalam kinerja Menteri Pendidikan selama 5 tahun terakhir. Yang sempat bikin heboh adalah rencana untuk menjalankan full day school yang ditentang banyak orang. Tak jelas pula konsep apa yang menjadi dasar keinginan itu. Kemudian yang tahun lalu membuat heboh adalah sistem zonasi dalam penerimaan siswa di sekolah negeri.

Sebenarnya apa yang diinginkan Jokowi terhadap pendidikan di Indonesia? Saya cari berita-berita soal itu, dan saya temukan beberapa artikel di media online. Salah satu artikel merangkum 6 program atau janji Jokowi. Lima di antaranya soal yang sangat teknis, yaitu total anggaran, alokasi dana BOS, kartu pra-kerja, dan dua tentang beasiswa. Hanya satu yang sifatnya agak konseptual, yaitu soal pendidikan yang selaras dengan industri.

Bagaimana penjabaran konsep pendidikan yang selaras dengan industri itu? Presiden Jokowi mengatakan bahwa pemerintah akan merancang pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan industri. Hal ini dinilai penting mencetak calon-calon pemikir, penemu, dan entrepreneur hebat di masa depan. Kebijakan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia juga akan ditekankan pada perbaikan kualitas guru, mulai dari proses penyaringan, pendidikan keguruan, pengembangan pembelajaran, dan metode pengajaran yang tepat dengan memanfaatkan teknologi.

Kata kunci pada program itu ada tiga, yaitu "sesuai kebutuhan industri", "meningkatkan kualitas guru", dan "memanfaatkan teknologi". Kalau dirangkai, pemerintah akan meningkatkan kualitas guru, melatih mereka mengembangkan berbagai metode pengajaran dengan menggunakan teknologi untuk mendidik anak-anak muda agar siap bekerja sesuai kebutuhan industri.

Pertanyaan berikutnya, industri macam apa? Ketika bicara soal industri, orang sering langsung bicara soal Industri 4.0. Nadiem dianggap sebagai tokoh yang sukses dengan bisnis jenis 4.0 ini. Maka, mungkin cocoklah kalau dia yang jadi menteri.

Industri apa yang dimiliki Indonesia? Kita harus dengan jujur mengakui bahwa industri kita sebenarnya masih belum jauh beranjak dari industri "pertukangan". Datangilah berbagai kawasan industri, maka yang akan kita temukan adalah perusahaan-perusahaan asing yang mendirikan pabrik di sini. Ada yang membangun pabrik di sini karena produk yang mereka hasilkan akan dijual di sini. Sebagian yang lain hanya meminjam tempat, menikmati lahan dan tenaga kerja murah, untuk memproduksi barang yang akan dijual ke berbagai negara lain.

Kita nyaris tidak memiliki industri yang secara mandiri mengembangkan produk. Kita tidak punya teknologi untuk melakukan itu. Kita tidak punya SDM yang memadai untuk membangun teknologi itu. Kalau konteksnya industri Indonesia yang mandiri, Industri 4.0 itu adalah mimpi yang masih jauh tinggi di awang-awang.

Cina adalah negara raksasa dengan industri raksasa pula. Tapi ingat, industri Cina tidak melulu berupa industri raksasa. Ada begitu banyak industri kecil menengah di Cina, dan sebagian besar beroperasi dengan cara Industri 2.0. Barang-barang Cina yang membanjiri pasar kita saat ini sebagiannya adalah produk industri kecil dan menengah Cina.

Artinya, kita sebenarnya punya PR besar untuk membangun industri kecil menengah, guna memproduksi barang-barang kebutuhan kita sendiri, yang saat ini sebagian besar masih diimpor dari Cina. Apa yang dibutuhkan untuk membangun industri itu? Manusia. Manusia adalah sentral pada industri kecil menengah.

Di Jepang dikenal sosok shokunin, pengrajin yang tekun, yang mengembangkan produk, memproduksinya dalam skala kecil menengah, dengan tenaga manusia sebagai pusat kekuatannya. Hidup matinya industri ini ditentukan oleh kemahiran dan etos kerja para pekerjanya. Tidak cuma Jepang yang begitu, Cina pun demikian.

Kalau kita sekali lagi berkunjung ke kawasan industri, kita akan bertemu dengan para pekerja. Apa keluhan investor soal pekerja kita? Umumnya mereka mengeluh soal disiplin, etos kerja, dan integritas. Itu semua tentu saja berujung pada produktivitas. Boro-boro berkreasi membangun industri sendiri, bekerja pada orang lain saja pun kita tak becus.

Nah, bagaimana pendidikan menyelesaikan masalah ini? Lihatlah sekolah-sekolah kita. Apa yang terjadi di sana? Murid-murid dijejali dengan berbagai pelajaran, tapi minim pendidikan karakter. Guru-guru juga masih banyak yang bermasalah dalam hal karakter, disiplin, dan integritas.

Bagi saya ini masalah fundamental dalam pendidikan kita. Sekolah harus bisa mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang disiplin, punya rasa tanggung jawab, etos kerja, dan kreativitas. Untuk mencapai itu tidak perlu mengubah kurikulum. Jangan sampai ganti menteri ganti kurikulum lagi. Cukup ubah pola pikir para guru, ubah pendekatan pendidikan. Peningkatan kualitas guru seperti yang diprogramkan tadi fokuskan untuk mengubah pola pikir, disiplin, etos kerja, dan integritas para guru.

Saya membayangkan sebuah sekolah yang dengan penuh kasih mengajari anak-anak untuk tertib antre, rajin menjaga kebersihan, disiplin soal waktu, hormat pada guru. Semua itu ditegakkan dengan kasih, bukan ancaman sanksi. Anak-anak diajak untuk eksplorasi dan berpikir, bukan jadi pendengar setia ocehan guru-guru, atau lebih buruk lagi, jadi penghafal. Bisakah Nadiem mengubah sekolah yang ada sekarang menjadi sekolah yang demikian? Semoga.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com