detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 10 November 2019, 12:03 WIB

Kolom

Komedian dan Industrialisasi Depresi

Ulwan Fakhri - detikNews
Komedian dan Industrialisasi Depresi Nunung (Foto: Hanif/detikHOT)
Jakarta -

"Mbak Nunung ini kan kerjanya cengengesan, kok bisa depresi?"

Penanyanya, Hakim Djoko Indiarto. Pertanyaan itu sendiri meluncur dari mulut sang hakim kala mempertanyakan kondisi terdakwa kasus narkoba bernama asli Tri Retno Prayudati, yang terlihat selalu ceria dan bisa menghibur orang banyak, tapi ternyata digerogoti rasa kecemasan berlebih tersebut.

Kata "depresi" serta "komedian" seakan makin sering dijumpai dalam satu topik perbincangan yang sama, terlebih pasca berpulangnya Robin Williams lima tahun lalu. Ya, bintang Mrs. Doubtfire dan Jumanji itu mengambil nyawanya sendiri setelah cukup lama dilanda depresi. Namun faktanya tak cuma Williams, ada pula komedian dengan nama besar lain yang pernah atau tengah bergulat dengan depresi, sebut saja Jim Carrey serta Ellen DeGeneres.

Jadi, ada kelindan apa antara depresi dan komedian?

Sifferlin, yang menulis artikel Is the Funniest Person in the Room Also the Saddest di Majalah Time edisi spesial The Science of Laughter (2018) mencoba mendamaikan polemik itu. Sebenarnya, tiap orang berpeluang mengalami depresi apa pun profesi, latar belakang ekonomi, dan status sosialnya. "Keanehan" baru muncul ketika para komedian yang tersandung problem tersebut, apalagi yang sudah sangat dikenal publik, mengingat mereka umumnya menjadi sumber kebahagiaan, keceriaan, hingga pengobat kekalutan pikiran orang lain.

Kendati demikian, kita tetap tak boleh menutup mata terhadap apa yang telah terjadi pada Robin Williams, Nunung, dan para komedian lainnya. Depresi tetap merupakan ancaman serius bagi kita semua dan menganggap komedian tak bisa atau tak boleh mengalami depresi adalah sebuah pelecehan besar.

Romantisasi Komedian

Dalam memoarnya, Depression the Comedy: A Tale of Perseverance (2018), Jessica Holmes mengelompokkan faktor-faktor penyebab depresi secara sederhana: biologis, psikologis, serta lingkungan. Berdasarkan pengalaman dan refleksinya, komedian yang mengalami depresi rata-rata mengalami komplikasi dari faktor kedua dan ketiga. Kalau "beruntung", kata aktris dan komedian asal Kanada itu, malah ada yang memiliki ketiga faktor di atas. Paket lengkap.

Sialnya, publik seringkali baru terbelalak ketika para komedian telah terkapar tak berdaya karena depresinya; dalam kebanyakan kasus, kita juga tak bisa berbuat apa-apa. Soalnya, para pelaku dan kita para penikmat komedi sama-sama sudah terjebak dalam pusaran besar arus industri hiburan.

Sederhananya begini, ingat formula bahwa komedi adalah tragedi yang bisa ditertawakan di waktu yang tepat? Walau di satu sisi hal ini merupakan mekanisme yang sehat untuk berdamai dengan problematika diri dan menonjolkan aspek kejujuran dalam berkarya, ketika cara ini telah dikomersialisasikan kepada industri, cara pandangnya menjadi berbeda.

Berangkat dari perspektif tersebut, industri hiburan pun bak wadah transaksi para komedian untuk "menjual" kesengsaraan, kesedihan, bahkan rasa sakitnya ke orang banyak. Lalu, siapa pembelinya? Ya tentu saja kita-kita ini, para konsumen produk komedi.

Kita misalnya bisa terbahak-bahak saat ada komedian yang dikata-katai karena kekurangannya. Sebagian dari kita juga lazim tergelak saat mendengar joke-joke "gelap" dari para stand-up comedian yang membahas tragedi dan ketidakberuntungannya dalam hidup di pertunjukan komedi off-air. Mentertawakan komedian yang tersungkur setelah dipukul pakai gabus sintetis? Ah, jangan mengelak, kita semua pasti pernah, minimal sekali seumur hidup.

Jadi dalam titik tertentu, industri memang meromantisasi komedian dengan pemicu atau bahkan depresi itu sendiri, sebagai timbal-balik atas rating program, uang hasil penjualan tiket pertunjukan, viewers YouTube, popularitas, dan lain sebagainya yang dapat pasar kontribusikan.

Yang membikin situasi makin rumit, memang trahnya manusia bisa merasa terhibur dari kesengsaraan orang lain. Konsep ini berkaitan dengan salah satu teori humor, yakni benign violation theory, atau --kalau boleh saya alih bahasakan dan sederhanakan-- teori pewajaran. Dalam konsep yang diusulkan McGraw dan Warren lewat bukunya The Humor Code (2014) ini, humor muncul ketika terjadi kesalahan, gangguan, atau kecelakaan, tetapi tidak ada dampak serius yang dialami pihak yang tengah celaka maupun yang sekadar menyaksikannya.

Jangankan sekadar akting dan dialog banyol Robin Williams atau Nunung, teori ini sangat mumpuni untuk menjelaskan mengapa kita dapat tertawa sekaligus terhibur saat menonton komedi fisik Charlie Chaplin, The Tree Stooges, atau kartun "sadis" macam Tom and Jerry.

Betapapun ekstremnya kejadian yang menimpa mereka, entah kepalanya terbentur balok kayu atau terkena ledakan dinamit, kita sebagai penonton tidak ikut merasakan rasa sakit. Mereka pun tidak digambarkan mengemis empati, mengingat setelah disiksa mereka tampak tidak kesakitan, cedera, atau mati. Malah setelah tubuhnya disakiti, scenario masih berjalan dan seakan-akan siap untuk menyajikan penyiksaan selanjutnya pada kita para audiensnya.

Lalu, adakah solusi untuk memutus lingkaran setan ini? Saya, untuk saat ini, belum bisa mengusulkan apa pun. Namun, jikalau boleh menyuarakan ulang masukan yang pernah ditulis Sifferlin (2018), baiknya masing-masing dari kitalah yang berkewajiban untuk mengontrol beban tekanan psikis yang mampu kita tanggung.

Secara spesifik bagi komedian profesional, ada baiknya untuk tidak selalu menanggung sendiri beban dan tanggung jawab sebagian besar proses kreatif Anda. Bekerja sama dengan tim penulis naskah atau skenario komedi disebut dapat mengurangi kerentanan terhadap depresi. Selain itu, menemukan kebahagiaan di samping seni dan passion yang telah dijadikan profesi juga menjadi saran lain dalam menjaga kewarasan psikis. Terakhir, komedian juga patutnya menyadari kalau tengah terdampak depresi dan jangan pernah malu untuk meminta bantuan pada ahlinya.

Kepada para komedian yang tercinta, sayangilah diri Anda sekalian karena kita semua menyayangi Anda.

Ulwan Fakhri peneliti Institut Humor Indonesia Kini (IHIK3)




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com