detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 07 November 2019, 14:00 WIB

Kolom

Kembali pada 'Fitrah' Puskesmas

M. Agung Akbar, S.Kep, Ns - detikNews
Kembali pada Fitrah Puskesmas Foto: Firdaus Anwar/detikHealth
Jakarta -

Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) menjadi titik kontak awal bagi individu, keluarga, dan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan tingkat pertama. Pelaksanaan Puskesmas menjadi bagian penting dalam menyelenggarakan kesehatan di suatu wilayah kerja untuk pembangunan kesehatan, pembinaan masyarakat sehat, dengan menyelenggarakan kegiatan secara terpadu dan menyeluruh. Adanya Puskesmas di seluruh wilayah memberikan keterjangkauan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.

Pemahaman yang salah dalam konteks pembangunan kesehatan di Indonesia saat ini terjadi dalam unit pelayanan Puskesmas. Sesuai dengan "fitrah"-nya, Puskesmas sebagai bagian dari upaya kesehatan menyelenggarakan layanan kesehatan yang mengutamakan promotif dan preventif dalam pelaksanaannya untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Senada dengan hal tersebut, Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan akan mendorong kembalinya fungsi Puskesmas sesuai dengan awalnya, yakni sebagai fasilitas kesehatan dengan konsentrasi pada upaya promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Penguatan pelayanan di Puskesmas harus lebih banyak kegiatan yang mencakup pendidikan kesehatan, pencegahan kesehatan, dan deteksi dini penyakit yang kemungkinan terjadi.

Panjangnya antrean pengobatan yang terjadi di Puskesmas seperti munculnya tanda dan gejala dari penyakit tidak menular bukan merupakan tolak ukur keberhasilan. Banyaknya total kunjungan yang terjadi adalah mayoritas pasien yang datang untuk mencari pengobatan. Padahal, kunci sukses penilaian keberhasilan Puskesmas adalah turunnya angka kunjungan pasien yang datang, dalam hal ini adalah kunjungan penyakit. Walaupun secara konteksnya, pelayanan kuratif dan rehabilitatif di Puskesmas tidak boleh dikesampingkan, namun upaya promotif dan preventif harus diutamakan.

Bila saat ini fungsi Puskesmas itu dialihfungsikan dengan tujuan utamanya adalah pengobatan, maka orientasinya adalah pembayaran layanan kesehatan yang dampaknya akan berasa pada penggunaan anggaran BPJS Kesehatan di Puskesmas. Hal inilah yang membuat anggaran BPJS tidak tepat guna. Penyelenggaraan upaya kesehatan di tingkat pertama (Puskesmas) juga harus berorientasi pada promotif dan preventif, sehingga outcome yang diharapkan adalah dapat menekan angka kejadian penyakit dan kematian yang dapat meningkatkan kualitas hidup manusia. Harapan yang lebih jauh adalah untuk membantu mengurangi defisit BPJS Kesehatan yang telah banyak dibebani oleh besarnya biaya pengobatan.

Beban dari BPJS Kesehatan saat ini lebih banyak pada askep pengobatan. Padahal, secara medis dapat dijelaskan jika penyakit yang terjadi diakibatkan karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti makanan instan, merokok, kurang aktivitas, ataupun perilaku sedentari lainnya. Hal inilah yang harus segera diubah untuk membudayakan hidup bersih dan sehat dengan mengupayakan kegiatan yang mengarah pada pencegahan penyakit. Sehingga serapan anggaran BPJS Kesehatan dalam upaya pengobatan dapat diminimalkan.

Kondisi berbeda yang juga menjadi masalah di Indonesia saat ini adalah karena kurangnya pemerataan akses layanan kesehatan serta tenaga kesehatan di daerah terpencil, tertinggal, maupun kepulauan. Kehadiran Puskesmas juga tidak boleh mengabaikan upaya kuratif-rehabilitatif. Oleh sebab itu, adanya Puskesmas rawat inap di beberapa wilayah dapat membantu memberikan layanan pengobatan yang sifatnya sementara dan harus segera dirujuk apabila memerlukan tindakan lanjutan.

Ungkapan "mencegah lebih baik daripada mengobati" harus menjadi motto diri untuk semua tenaga kesehatan di unit pelayanan Puskesmas. Kehadiran Puskesmas di tengah-tengah masyarakat dituntut untuk dapat melakukan serangkaian kegiatan perilaku hidup sehat dengan memberdayakan masyarakat atas dasar kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat. Maka dari itu, Puskesmas berfokus pada upaya mencegah orang sehat menjadi sakit, bukan untuk melayani orang sakit.

M. Agung Akbar, S.Kep, Ners Magister Keperawatan Universitas Padjadjaran


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com