detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 07 November 2019, 13:26 WIB

Kolom

Imunisasi dan "Sustainable Development Goals"

Ikhwan Nst - detikNews
Imunisasi dan Sustainable Development Goals Imunisasi difteri di Rumah Sakit UIN, Ciputat (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta -
Abhijit Banerjee, Esther Duflo, dan Michael Kramer dinobatkan sebagai peraih Nobel Ekonomi 2019 pada 14 Oktober yang lalu. Penelitian ketiganya selama beberapa tahun belakangan dianggap berhasil meningkatkan kemampuan global dalam memberantas kemiskinan. Salah satu isu yang menjadi topik penelitian mereka adalah bagaimana meningkatkan cakupan imunisasi di negara-negara berkembang dengan masih banyaknya penduduk yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Dua isu utamanya adalah bagaimana pengaruh biaya dan layanan kesehatan terhadap peningkatan cakupan penduduk yang memperoleh layanan kesehatan preventif, seperti pil cacing dan imunisasi. Michael Kramer dan rekannya melakukan eksperimen lapangan untuk menyelidiki bagaimana permintaan pil cacing untuk infeksi parasit dipengaruhi oleh harga. Mereka menemukan bahwa 75 persen orangtua akan memberikan anak-anak mereka pil ini ketika obatnya gratis, dibandingkan dengan hanya 18 persen orang tua yang memberikan pil tersebut ketika harganya lebih murah setelah disubsidi.

Dengan kata lain, penduduk miskin sangat peka terhadap harga (extremely price-sensitive) dalam investasi perawatan kesehatan yang bersifat preventif. Kualitas layanan kesehatan yang rendah adalah penjelasan lain mengapa keluarga miskin berinvestasi sangat sedikit dalam tindakan pencegahan. Salah satu contoh adalah bahwa staf di pusat kesehatan yang bertanggung jawab untuk vaksinasi sering tidak hadir di kantor. Banerjee, Duflo, dkk melakukan penelitian apakah klinik vaksinasi mobile --di mana perawatan staf selalu standby di tempat-- dapat memperbaiki masalah ini.

Hasilnya, tingkat vaksinasi meningkat tiga kali lipat di desa-desa yang dipilih secara acak hingga 18 persen dibandingkan dengan hanya 6 persen tanpa klinik mobile. Hasil itu kian meningkat lebih lanjut mencapai 39 persen jika klinik mobile disertai dengan pemberian bonus berupa sekantong lentil kepada keluarga yang anak-anak mereka mengikuti program vaksin. Karena klinik mobile memiliki tingkat biaya tetap yang tinggi, total biaya per vaksinasi sebenarnya menjadi lebih kecil, meskipun ada tambahan biaya lentil.

Cakupan Imunisasi

Cakupan pemberian tiga dosis vaksin yang diperlukan untuk mencegah difteri, tetanus, dan pertusis meningkat dari 72 persen pada tahun 2000 menjadi 85 persen pada 2015 dan tetap tidak berubah antara 2015 dan 2017 (UN, 2019). WHO memperkirakan masih terdapat 19,4 juta anak yang berusia di bawah satu tahun yang belum memperoleh layanan imunisasi rutin berupa tiga dosis vaksin DTP selama 2018. Dari total tersebut, 60% bayi tersebut berasal dari 10 negara: Angola, Brazil, Republik Demokratik Kongo, Etiopia, India, Indonesia, Nigeria, Pakistan, Filipina dan Vietnam.

UNICEF menempatkan Indonesia pada peringkat keempat daftar negara yang diestimasikan memiliki jumlah anak yang belum memperoleh vaksin sama sekali atau vaksinnya belum lengkap dengan jumlah lebih dari satu juta anak. Indonesia berada di bawah Nigeria, India, dan Pakistan, dan berada satu posisi di atas Etiopia (UNICEF Immunization Roadmap 2018-2030).

Di Indonesia, cakupan imunisasi dasar pada bayi pada 2018 sudah mencapai 81,99% secara nasional. Namun demikian, masih terdapat dua provinsi yang cakupannya masih di bawah 50%, yaitu Aceh (39.45%) dan Papua (30,36%). Untuk imunisasi lanjutan pada anak di bawah usia dua tahun (baduta), cakupannya secara nasional masih di kisaran 63,2%. Terdapat sebelas provinsi yang cakupannya masih di bawah 50%, yakni Aceh (13,3%), Sumatera Barat (36,1%), Riau (34,2%), NTT (34,0%), Kalimantan Selatan (40,3%), Kalimantan Timur (49,0%), Gorontalo (34,9%), Sulawesi Barat (46,8%), Maluku (46,5%), Maluku Utara (38,8%), dan Papua (29,9%). (Data dan Informasi Profil Kesehatan Indonesia, 2019)

SDGs dan Visi Indonesia 2045

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk Indonesia, pada 25 September 2015 di markas PBB guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan, dan melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 tujuan dan 169 target yang diharapkan dapat dicapai pada 2030. Di antara target yang dicanangkan untuk dicapai adalah cakupan kesehatan universal, termasuk perlindungan risiko finansial, akses ke layanan perawatan kesehatan dasar yang berkualitas, dan akses ke obat-obatan dan vaksin yang aman, efektif, berkualitas dan terjangkau untuk semua.

Perluasan cakupan imunisasi merupakan agenda bersama masyarakat dunia yang diharapkan sudah mencapai puncak pemerataan pada 2030 di seluruh belahan dunia. Salah satu dari tujuh agenda yang dicetuskan dan dirilis pada 14 Agustus 2019 oleh pemerintah melalui Kementerian PPN/ Bappenas di dalam Rancangan Teknokratik Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional IV 2020-2024 adalah meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing.

Persentase imunisasi dasar lengkap pada anak usia 12-23 bulan ditargetkan sudah mencapai 80% pada 2024. Hal ini selaras dengan rumusan strategi pembangunan kesehatan yang telah disusun pemerintah dalam menyongsong perwujudan Visi Indonesia 2045 di mana salah satu strateginya adalah pencegahan dan pengendalian penyakit yang responsif.

Manfaat dan Tantangan

Sebuah studi yang dilakukan oleh Sachiko Ozawa (2016) dari Jhon Hopkins University bersama rekan-rekannya yang mencakup 73 negara yang didukung Gavi selama periode 2011-2020 menunjukkan bahwa untuk setiap biaya yang dikeluarkan untuk imunisasi dapat menghemat biaya perawatan kesehatan sebesar 16 kali lipat. Dan, jika memperhitungkan manfaat yang lebih luas dari orang yang hidup lebih lama dan lebih sehat, return on investment meningkat tajam hingga 44 kali lipat.

PBB juga menyatakan bahwa imunisasi diakui sebagai salah satu intervensi kesehatan paling sukses dan hemat biaya di dunia. Perannya sangat vital dalam menyelamatkan jutaan nyawa melalui tindakan preventif terhadap penularan dan penyebaran penyakit di seluruh belahan dunia.

Tantangan yang dihadapi oleh hampir seluruh negara berkembang adalah perluasan cakupan imunisasi dasar dan lanjutan. Setidaknya hal ini bisa kita bagi ke dalam beberapa kategori yaitu tantangan di bidang pengadaan, tantangan di bidang pendistribusian, dan tantangan di bidang pengetahuan dan mindset.

Tantangan di bidang pengadaan vaksin dapat berupa ketersediaan vaksin di pusat pelayanan kesehatan dan biaya yang diperlukan untuk pengadaan dan penyebarannya. Tantangan di bidang pendistribusian vaksin dapat berupa luas area geografis dan persebaran penduduk, koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, penjadwalan dan frekuensi pemberian vaksin, dan tantangan di bidang pelayanan kesehatan dan petugas yang terlibat di dalamnya.

Adapun tantangan di bidang pengetahuan dan mindset dapat berupa tingkat pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh masing-masing orangtua, tingkat trust terhadap program imunisasi, dan masih berkembangnya isu-isu negatif dan hoax seputar vaksin dan imunisasi.

Untuk mewujudkan masyarakat yang memiliki kekebalan kelompok (herd immunity), pemerintah harus berusaha keras memperluas cakupan imunisasi minimal sebesar 95% sesuai dengan rekomendasi WHO. Perluasan cakupan imunisasi ini merujuk pada pernyataan mantan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, adalah pekerjaan yang berat bagi Kementerian Kesehatan. Oleh karena itu dibutuhkan kerja sama dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia sehingga The 2030 Agenda for Sustainable Development yang dicanangkan PBB dan pencapaian Visi Indonesia 2045 yang dicanangkan oleh pemerintah dapat terwujud.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com