detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 November 2019, 16:03 WIB

Kolom

Orangutan Bukan Musuh Kita

Ferry Irawan - detikNews
Orangutan Bukan Musuh Kita Orangutan di Aceh (Foto: Antara)
Jakarta -
Beberapa waktu lalu media sosial dihebohkan oleh kejadian yang menyentuh hati. Di area hutan yang kondisi sekitar pepohonannya telah tumbang dan rata dengan tanah, ada satu pohon terakhir terlihat, yang juga baru saja tumbang, dengan orangutan yang bertahan di puncaknya. Tak lama ia berjalan mendekati bagian batang pohon, di mana terdapat sebuah ekskavator yang baru saja menumbangkan pohon tersebut.

Dengan gerak langkah yang pasti ia berusaha untuk mendorong bucket ekskavator dengan penuh amarah. Seakan rakyat kecil yang menolak rumah tempat tinggalnya digusur paksa. Karena bucket besi itu bergeming, orangutan itu terjun ke tanah dan menuju kabin ruang kemudi ekskavator. Siapa saja yang melihat video tersebut tentunya akan tersentuh, akan perjuangan orangutan untuk menjaga habitatnya, menjaga rumah terakhirnya, dan entah untuk ke berapa kalinya ia harus berpindah tempat mencari hutan tersisa yang layak untuk ditinggali.

Sebelumnya, pada Maret 2019, kita digemparkan oleh kejadian orangutan yang diselamatkan petugas dari kebun sawit di Subulussalam, Aceh dengan 74 butir peluru senapan angin yang bersarang di tubuhnya dan terdapat empat peluru yang bersarang di matanya sehingga mengakibatkan ia mengalami kebutaan. Pelaku yang merupakan dua remaja berusia 17 dan 16 tahun, karena dinilai belum cukup umur, hanya dijatuhi sanksi sosial dan dikembalikan kepada orangtuanya.

Kejadian itu menambah catatan buruk terhadap perlakuan orangutan yang ditembak dalam satu dekade terakhir mencapai 52 kasus. Kejadian yang paling memilukan terjadi pada 2003 silam, ketika orangutan betina bernama Pony di Kalimantan dijadikan pelacur. Selayaknya manusia, hewan ini dipekerjakan untuk berhubungan seks dengan para pria dan bulunya dicukur setiap hari. Kasus ini memancing kemarahan dunia internasional; para aktivis mengecam keras apa yang dialami orangutan itu.

Meskipun saat ini Pony hidup bersama spesiesnya sendiri di pusat rehabilitasi, ia masih mengalami trauma yang buruk. Pony tidak menunjukkan minat untuk mengekspolorasi alam dan menolak kawin dengan orangutan jantan.

Banyak kasus yang dialami orangutan yang mengiris hati, seolah-olah mereka adalah hama yang mengganggu kehidupan kita. Populasi orangutan saat ini terbagi menjadi tiga spesies, yaitu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dengan perkiraan populasi 57.350, orangutan sumatera (Pongo abelii) dengan perkiraan 14.470, dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuilensis) dengan perkiraan populasi kurang dari 800 ekor. Status ketiga spesies tersebut menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN) adalah kritis terancam punah.

Padahal, orangutan memiliki peran penting sebagai penyebar benih buah, baik melalui feses akibat dari biji buah yang tak dapat tercerna atau dengan terbuangnya benih biji buah saat melewati pepohonan. Hal ini tentunya sangat penting dalam ekologi dan regenerasi ekosistem di Hutan.

Konflik dengan Manusia

Secara naluriah satwa-satwa liar di alam tidak mudah untuk keluar dari zona nyaman habitat yang sejak lama mereka tinggali. Banyak hal yang mungkin menjadi alasan satwa liar terdesak dan memutuskan untuk keluar dari habitatnya menuju kawasan budidaya atau permukiman penduduk, sehingga tak jarang mengakibatkan konflik dengan manusia. Akar masalahnya ada pada kondisi habitat mereka yang terancam dan sumber makanan mereka yang menghilang atau jauh berkurang.

Penyebabnya bisa jadi karena berbagai hal. Pertama, dampak dari maraknya pembalakan hutan baik secara legal maupun illegal yang sejak 1970-an membuat luas area hutan di Pulau Kalimantan dan Sumatera semakin berkurang. Kedua, aksi perburuan satwa liar (illegal hunting).

Orangutan merupakan hewan yang memiliki kekerabatan yang sangat dekat dengan manusia, karena memiliki kesamaan DNA hingga 97%. Hal inilah yang membuat kita tertarik untuk memelihara mereka, karena memiliki kesamaan psikologi dan emosional. Tak heran pemburuan dan penyelundupan orangutan masih marak hingga saat ini. Tetapi, tak banyak orang tahu, kesamaan DNA ini membuat orangutan dan manusia mudah untuk saling menularkan penyakit.

Ketiga, kebakaran hutan dan lahan yang senantiasa terjadi pada musim kemarau setiap tahunnya juga menjadi faktor penting terdesaknya habitat orangutan. Kabut asap hasil pembakaran lahan tentunya juga berdampak pada kematian orangutan. Keempat, alih fungsi lahan dari hutan menjadi kawasan perkebunan atau pertambangan juga memberikan dampak yang mengancam bagi orangutan. Perubahan fungsi lahan yang masif saat ini atas nama pembangunan dan pengembangan wilayah berdampak pada kerusakan lingkungan dan ekosistem tidak hanya bagi manusia, tetapi bagi satwa yang hidup pada ekosistem tersebut.

Orangutan yang kehilangan habitat yang nyaman, kehilangan sumber makanan yang selama ini mudah didapat, harus mengeksplorasi wilayah lain yang tak jarang bersinggungan dengan wilayah budidaya dan permukiman manusia. Karena naluri hewan untuk mencari makan inilah tak jarang turut merusak tanaman budidaya dan perkebunan sehingga dianggap menjadi hama yang harus dibasmi.

Perlakukan yang dialami orangutan ini membuat dunia bereaksi keras. Uni Eropa menarasikan untuk membendung impor produk–produk minyak sawit yang berasal dari negara-negara tropis. Industri sawit dan olahannya dituding menjadi dalang utama di balik maraknya deforestasi dan kerusakan lingkungan di Indonesia, dan hal ini tentu saja mengancam keberlangsungan hidup orangutan.

Kondisi perkebunan kelapa sawit yang mereka nilai belum berkelanjutan dan meningkatkan deforestasi merupakan sebuah pertanda, bahwa alih fungsi lahan yang masif tidak berbanding lurus terhadap peningkatan devisa negara, karena ketika produk ekspor minyak sawit kita ditolak oleh negara maju, lantas dibawa ke mana hasil melimpah produk minyak sawit kita?

Pemerintah memang telah berupaya menjawab ini dengan meningkatkan konsumsi dalam negeri dengan menjadikan minyak sawit menjadi campuran untuk biodiesel, walaupun di tengah pro-kontra karena biodiesel dinilai masih memiliki dampak terhadap meningkatnya biaya maintenance mesin kendaraan.

Lantas, akankah kita tetap bertahan untuk terus melakukan deforestasi, mengubahnya menjadi area budidaya dan perkebunan tanpa mempertimbangan aspek keberlanjutan, mengusir orangutan dan satwa-satwa endemik lain dari habitatnya, dan berpura-pura menjadi korban ketika lahan budidaya dirusak oleh orangutan dan satwa lainnya?


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com