detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 November 2019, 13:32 WIB

Kolom

Pendidikan, Kepatuhan, dan Jiwa-Jiwa Merdeka

Irawan Basuki - detikNews
Pendidikan, Kepatuhan, dan Jiwa-Jiwa Merdeka Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -
Betapa berbahayanya kepatuhan. Berbahaya ketika individu tidak pernah tahu dan tidak mempunyai alasan pasti kenapa ia mesti patuh pada aturan bersama. Yang si patuh mengerti adalah ia menaati aturan karena otoritas memintanya begitu dan mempertanyakannya selalu dianggap tabu, atau bahkan dosa.

Sayangnya, jenis kepatuhan ini diinternalisasi di lingkungan masyarakat yang mengharuskan keharmonisan komunal dijaga baik dengan segala cara. Termasuk melalui represi sejak dari ruang publik paling personal, yakni keluarga. Kita terbiasa mendengar orangtua tidak membolehkan anaknya melakukan sesuatu yang dianggap buruk tanpa penjelasan logis yang memadai. Jika si anak bertanya lebih jauh, seringkali ia dicap nakal.

Sistem pendidikan formal kita pun setali tiga uang dengan itu. Sekolah mengamini dan mendukung nilai-nilai yang diinternalisasikan secara paksa. Alih-alih mengajari murid untuk menjadi kritis dan melatih diri mereka untuk selalu bersikap skeptis, sistem pembelajaran kita menuntut si anak untuk tunduk. Para murid tidak diberikan bekal cukup untuk membangun kesadarannya sendiri. Pendidikan kita belum memerdekakan individu.

Tyler dalam Why People Obey the Law (1990) mengategorikan kepatuhan ke dalam dua jenis, instrumental dan normatif. Yang pertama, kepatuhan yang terbentuk sebagai respons terhadap hukuman dan penghargaan. Yang kedua, kepatuhan berasal dari pandangan individu yang melihat aturan sebagai hal yang adil dan mengikutinya merupakan sikap yang pantas untuk dilakukan.

Komitmen dalam kepatuhan normatif sendiri melibatkan moralitas dan legitimasi personal. Moralitas personal berarti menuruti aturan karena individu tersebut tahu bahwa aturan itu adil dan layak diikuti. Legitimasi personal dapat dilihat sebagai sikap taat aturan yang bersumber dari pandangan bahwa otoritas yang menegakkan aturan memiliki hak untuk membentuk perilaku publik. Keduanya dicapai setelah melalui proses berpikir, menelaah informasi yang diterima terkait aturan-aturan, dan kemudian memutuskan mematuhi seperangkat aturan tadi karena pertimbangan logis dan kesadaran yang muncul dari dalam.

Perspektif normatif fokus pada norma-norma keadilan dan kewajiban yang diinternalisasi. Sebaliknya, perspektif instrumental menganggap kepatuhan sebagai bentuk perilaku yang terjadi sebagai respons terhadap faktor-faktor eksternal, yang seringkali dilakukan tanpa serangkaian proses berpikir.

Dengan kata lain, ada dua hal paradoks yang membentuk hasil akhir yang sama. Kepatuhan yang hadir karena paksaan atau yang terbentuk karena kesadaran. Pendidikan, idealnya, perlu melahirkan individu bebas yang memilih patuh secara sukarela. Kesukarelaan itu muncul dari kebebasan berpikir kritis. Salah satu tugas besar pendidikan, menurut Giroux, adalah membangun, bukan membentuk secara paksa, kesadaran individu untuk menghormati kehidupan dan kepentingan bersama.

Sayangnya, pendidikan kita justru menegasikan keduanya. Oleh pendidikan, kesadaran individu dipinggirkan, atau mungkin dilenyapkan, demi kepentingan bersama. Anak-anak kita ajari untuk menuruti segala hal yang dianggap normal di masyarakat, meski sebenarnya sebagian dari mereka tahu jika itu salah. Pendidikan masih bertumpu pada menciptakan individu yang seragam, yang fitted-in di dalam masyarakat dengan cara mengabaikan keunikannya masing-masing. Akhirnya, individu menjadi pribadi yang bukan dirinya. Mereka menjadi hipokrit.

Menggugat Pendidikan

Kita perlu belajar dari Dead Poets Society. Film berlatar waktu 1950-an dan diputar pertama kali pada 1989 ini menggugat pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia yang terpaksa patuh. Di film itu, John Keating, seorang guru bahasa Inggris yang progresif, mengajak murid-murid di sebuah sekolah elit khusus laki-laki untuk tidak hanya sekadar patuh. Melalui metode pengajaran yang tidak lazim, Keating meminta para muridnya untuk merayakan hidup. Keating kerap mengulang frasa Latin, "Carpe diem!" (Rebutlah hari ini!). Baginya, hidup menjadi sia-sia bila diisi kepatuhan yang terpaksa. Tidak paham esensi dan membebek tanpa tahu arah.

Hal pertama yang ditanamkan Keating kepada murid-muridnya adalah eksplorasi personal. Melalui puisi, para murid didorong untuk mengenal dirinya sendiri. "Kalian harus berusaha menemukan suaramu sendiri," ujarnya suatu kali, "Jika kalian menundanya, maka suara itu tidak pernah ditemukan." Salah satu usaha untuk menemukannya adalah dengan memprovokasi para murid untuk tidak terpaku pada definisi reduktif puisi yang dibuat akademisi.

Puisi adalah soal rasa, tidak dapat dibatasi oleh definisi yang dibakukan secara otoritatif. Keating meminta murid-muridnya untuk merobek bagian pengantar buku teks puisi yang ditulis oleh akademisi terpandang. Mereka diajak menikmati puisi karena keindahannya yang dirasakan secara personal, bukan diminta untuk menikmatinya dengan cara tertentu. Ini merupakan simbolisasi perlawanan terhadap otoritas yang menentukan nilai dan laku yang didiktekan tanpa perlu dikritisi.

Keating juga melakukan aksi simbolik lainnya. Di dalam kelas, ia berdiri di atas meja belajar. Dengan begitu, Keating mendapatkan titik pandang yang berbeda untuk objek yang sama. Ia berharap murid-muridnya selalu berupaya melihat perspektif yang baru dalam hidup. Individu yang kritis sudah seharusnya dapat melihat dengan cara pandang yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Secara implisit, meski sepanjang film pesan ini jelas tergambar, Keating melakukan protes keras terhadap sistem pendidikan yang hanya menghasilkan manusia satu dimensi yang kaku. Mereka hanya dididik untuk menjadi patuh atas tata nilai yang selama ini dianut masyarakat. Sistem pendidikan yang hanya membentuk siswa yang diinginkan oleh orangtua yang konvensional, bukan membantu siswa untuk mengenal diri dan potensi mereka.

Pandangan filosofis Keating tentang nilai kebebasan individu dan sifat non-kompromi itu meresap ke beberapa anak didiknya. Mereka tersihir oleh pesona tidak biasa Keating. Mereka kemudian menghidupkan kembali Dead Poet Society, komunitas dengan spirit kebebasan yang pernah diikuti Keating ketika ia bersekolah di tempat yang sama. Dan ini adalah simbolisasi hipokrisi yang nyata. Untuk menjadi diri mereka sendiri, para murid ini harus bersembunyi di dalam gua, mengadakan pertemuan rutin di sana, melakukan apapun yang dilarang sekolah, dan menjadi produktif dengan cara mereka sendiri.

Tujuh sahabat tadi menginterpretasi nilai-nilai anti kepatuhan dengan cara mereka sendiri. Carpe diem diterapkan dengan konsekuensi yang berbeda-beda. Hal yang menjadi catatan penting film ini adalah bagaimana Keating menasihati para anggota Dead Poet Society agar tak sekadar tidak-patuh dalam melawan sistem. Mereka tidak seharusnya mengincar kebebasan belaka, tapi mendapatkannya dengan cara dewasa. Risiko harus dikalkulasi secara cermat. Pilihan-pilihan bebas yang didapat harus pula dipertanggungjawabkan.

Sebuah Kesalahan

Pelajaran yang dapat diambil dari Dead Poet Society ini sederhana. Menundukkan jiwa-jiwa yang merdeka untuk patuh adalah sebuah kesalahan. Jiwa-jiwa itu akan membentuk kesadaran kolektif yang akan melawan nilai dominan masyarakat yang hipokrit.

Filosofi pendidikannya mesti berubah dari menciptakan manusia yang patuh menjadi menghasilkan individu merdeka yang harmonis dengan masyarakat. Pendidikan harus menempatkan perkembangan integral individu sebagai prioritas dan pemerdekaan individu semestinya menjadi inti praktik pendidikan sejati. Namun, visi pemerdekaan ini tidak boleh dikontraskan dengan kepentingan kolektif masyarakat dan kebaikan bersama.

Untuk mencapai tujuan itu, sekolah harus mengembangkan aspek non-diktatis individu, yakni mengajarkan cara memperoleh ilmu pengetahuan dan disposisi sikap atas kepemilikan ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal ini diperlukan karena selama ini pendidikan kita lemah dalam pengembangan dasar-dasar intelektualitas selama pembelajaran.

Dengan begitu, pendidikan akan menghasilkan jiwa-jiwa merdeka yang bertanggung jawab dan membentuk individu dengan karakter keterdidikan. Tidak semua orang terdidik memiliki karakter ini. Karakter keterdidikan adalah sikap yang tidak berorientasi pada diri pribadi, tetapi pada bagaimana pilihan personalnya yang bebas mampu membawa manfaat dan menghadirkan keteraturan struktur sosial-politik dalam masyarakat. Sehingga pada akhirnya, masyarakat teratur, yang bukan diatur, hadir dari individu-individu terdidik yang memiliki pilihan bebas. Keduanya tidak saling meniadakan.

Irawan Basuki peneliti di Kemdikbud dan penggiat di klub buku Read.Discuss.Repeat


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com