detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Rabu 06 November 2019, 12:30 WIB

Kolom

Mendidik Bersanding, Bukan Bersaing

Ardian Nur Rizki - detikNews
Mendidik Bersanding, Bukan Bersaing Peserta International Student Leadership Training 2019
Jakarta - Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Kuala Lumpurmenginisiasi kegiatan International Student Leadership Training (ISLT) 2019 di Ulu Tiram, JohorBahru, Malaysia (26—29 Oktober). Kegiatan ini diikuti oleh sekolah Indonesia di dalam dan luar negeri, serta sekolah kebangsaan di Malaysia, yakni Sekolah Indonesia Kuala Lumpur, Sekolah Indonesia Singapura, Sekolah Indonesia JohorBahru, Sekolah Indonesia Yangon,SMAN 1Batam,SMAN 3Batam,SMAN 15Batam,SMAN 19Batam, SMA ImmanuelBatam, dan tujuh Sekolah Menengah Kebangsaan (SMK) di Malaysia.

Kegiatan ISLT bertujuan untuk mewujudkan jejaring konektivitas antarpelajar sekolah Indonesia di luar negeri, sekaligus menjalin sinergisitas antara pelajar Indonesia dan Malaysia. Dalam sambutannya kala membuka acara ISLT, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur Dr. Mokhammad Farid Ma'ruf turut menekankan mengenai urgensi integritas, konektivitas, dan sinergisitas antarpelajar dalam menyongsong perubahan di masa kini. Kegiatan semacam ini menjadi kian bermakna dalam dunia kiwari yang begitu mengagungkan kompetisi dan persaingan.

Euforia Daya Saing

Kiblat pendidikan sempat larut dalam euforia daya saing. Indikator keberhasilan pendidikan lantas diukur dengan mode tunggal –melalui capaian kuantitatif—seperti jumlah piala, medali, peringkat, nilai ujian, dan lain-lain. Orientasi pendidikan yang bertumpukan kuantitas berdampak pada dekontekstualisasi dan dehumanisasi pendidikan. Akal sehat, spiritualitas, keluhuran budi, dan jiwa kepemimpinan yang merupakan fundamen kemanusiaan siswa justru dinihilkan.

Obsesi terhadap daya saing dan kompetisi juga membawa ekses kegemaran memuja standardisasi. Segala yang terstandar global lantas dielu-elukan. Perlombaan yang berlabel internasional dikudus-kultuskan. Peraih Nobel Ilmu Ekonomi 2008 Paul Krugman menyatakan bahwa daya saing merupakan gagasan yang berbahaya, apalagi jika diimplementasikan dalam pendidikan. Dalam artikelnya yang berjudul Competitiveness: A Dangerous Obsession (1994), Krugman mengemukakan bahwa terminologi "daya saing" telah membawa konflik yang teruk dan kebijakan yang buruk.

Tentu masih melekat dalam ingatan kita semua ketika khalayak disilaukan dengan program Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), Universitas Kelas Dunia, hingga labelisasi Ujian Nasional yang dibangga-banggakan karena dianggap berstandar internasional. Namun, nyatanya implikasi program-program megah tersebut masih jauh panggang dari api.

Jiwa Kepemimpinan

Clark Kerr dalam National Higher Education (1969) menyatakan bahwa sekolah berperan dalam merancang cetak biru masyarakat masa depan. Oleh karena itu, sekolah seyogianya berintegrasi penuh dengan realitas masyarakat yang ada di masa kini demi menyambut masa depan. Dengan demikian, untuk menyongsong lesat-pesat perubahan zaman, sekolah harus bertransformasi menjadi kawah candradimuka bagi penempaan karakter luhur, mentalitas pemimpin, dan jiwa-jiwa kreatif.

Richard Florida dalam The Rise of the Creative Class (2002) menekankan peran fundamental mentalitas dan kreativitas. Apalagi jika kita menilik transformasi perekonomian dewasa ini yang tidak seperti transisi dari era pertanian ke industri yang mengandalkan input fisik, seperti tanah dan tenaga manusia. Iklim perekonomian saat ini lebih bersandar pada aspek intelegensi, pengetahuan, mentalitas, dan kreativitas. Keempat aspek tersebut merupakan sumber daya yang tak terbatas. Negara-negara dengan sumber daya manusia kreatif seperti Swedia, Jepang, Finlandia terbukti mampu melaju dengan pesat.

Zaman berubah belingsatan. Tenaga kerja yang kini tengah membekali diri dengan keterampilan tunggal untuk mengisi lapangan kerja bisa saja gigit jari karena mendapati kenyataan bahwa tugas dan fungsi mereka dapat digantikan oleh mesin. Dengan keadaan yang serba tidak terprediksi macam ini, sekolah harus meninggalkan paradigma lawas mengenai link and match dalam permagangan yang hanya berasosiasi pada kecakapan teknis industrial.

Pendidikan, pelatihan, dan permagangan sepatutnya meliputi tiga aspek sebagaimana dikonsepsikan oleh Hannah Arendt (1958) yang meliputi: (1) kemampuan mengaktualisasi keterampilan, (2) kemampuan mengaktualisasi penciptaan, (3) kemampuan mengaktualisasi kecakapan berinteraksi, berkomunikasi, berpolitik, dan berorganisasi. Singkatnya, membekali siswa dengan jiwa kepemimpinan adalah upaya paripurna yang tidak akan lekang diombang-ambing gerak zaman.

Inisiatif SILN Kuala Lumpur dalam menghelat ISLT 2019 kiranya dapat menstimulasi terciptanya ikhtiar serupa oleh lembaga lainnya. Sekolah seyogianya melakukan transformasi sebagaimana gerak zaman yang terus bertransisi. Dunia kiwari membutuhkan kombinasi dan harmoni, tidak melulu baku sikut dan saling mengungguli. Dan pendidikan merupakan ujung tombak dalam mewujudkan kader siswa yang siap bersinergi dan bersanding, bukan melulu bersaing.

Ardian Nur Rizki peserta International Student Leadership Training 2019, pengajar di Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) Johor Bahru

(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com