detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 05 November 2019, 15:48 WIB

Kolom

Melihat Ekosistem "Start-Up" di Finlandia

Yuniawan Hidayat - detikNews
Melihat Ekosistem Start-Up di Finlandia Foto bersama di depan Kedubes Indonesia di Helsinki
Jakarta -

Pada 21 Oktober lalu, pengelola inkubator bisnis dari 18 Universitas di Indonesia diberi kesempatan untuk melakukan benchmarking ke Finlandia untuk melihat ekosistem start-up di negara tersebut. Beberapa tempat yang di pilih untuk dikunjungi adalah tempat-tempat yang terkait langsung dengan penumbuhan start-up di sana.

Di Finlandia, Nokia pernah menjadi industri telekomunikasi paling maju pada masanya dan sehingga menampung banyak tenaga kerja. Bahkan ada sebuah anekdot bahwa pada masa itu, jika ada lulusan perguruan tinggi mendirikan rintisan usaha akan diledek dan dianggap lulusan yang tidak diterima kerja di Nokia.

Surutnya Nokia membawa berkah bagi iklim pertumbuhan start-up. Profesional yang dulunya bekerja di Nokia dan mengundurkan diri kini tersebar dan masuk ke berbagai sektor termasuk sebagai tenaga profesional di universitas. Hal ini mendorong terjadinya percepatan hilirisasi hasil riset perguruan tinggi ke dunia bisnis melalui start-up.

Secara umum apa saja yang menyebabkan ekosistem start-up di Finlandia maju?

Lembaga Pendanaan

Hari pertama kami datang ke Finlandia dipertemukan dengan beberapa lembaga intermediasi dan lembaga pendanaan, yakni Business Findland, Sitra, Dealflow, dan Finpartnership. Pertemuan dilakukan di Helsinski Business and Science Park, sebuah pusat pengembangan bisnis yang dulunya milik Nokia dan sekarang digunakan untuk co-working space dan perkantoran start-up yang cukup representatif.

Keempat lembaga yang disebutkan di atas memiliki peran yang strategis sebagai penyokong permodalan lunak maupun investasi bagi start-up di Finlandia. Mereka juga berfungsi sebagai hub untuk mempertemukan start-up dengan investor global, menghubungkan start-up dengan pasar global, mencarikan peluang kerja sama start-up dengan industri yang lebih besar ataupun menjalinkan kerja sama antar start-up secara global. Lembaga keuangan Sitra bahkan mengkhususkan diri dalam mendanai inovasi-inovasi yang dihilirkan menjadi sebuah industri baru.

Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Kompleksitas sosial dan jumlah penduduk menjadi sebuah peluang untuk pengembangan sebuah produk layanan maupun teknologi sebagai solusi atas permasalahan-permasalahan yang muncul. Oleh sebab itu, beberapa lembaga Finlandia di atas memiliki representatif di Indonesia.

Perwakilan Indonesia dari Inkubator Bisnis Universitas Sebelas Maret (IB-Smart) mendapatkan kesempatan untuk melakukan presentasi memperkenalkan pertumbuhan start-up secara umum, sistem inkubasi, dan produk start-up yang dibina oleh inkubator. Apresiasi diperoleh dari presentasi tersebut terutama dalam menyampaikan produk tenant berupa aplikasi JiTo untuk pengaman kendaraan bermotor terkoneksi smartphone dan sistem pembayaran kasir mobile berbasis cloud.

Kota Pelajar Jyvaskyla

Kota Jyvaskyla merupakan sebuah kota pelajar yang terletak 270 kilometer di utara Helsinki. Di kota ini kami diberi kesempatan mengunjungi beberapa unit lembaga dari Universitas Jamk. Universitas Jamk merupakan universitas yang memiliki fokus pada ilmu sains terapan sehingga menghasilkan produk-produk riset maupun start-up yang dengan kandungan teknologi berbasis biosains, ilmu komputer hingga model bisnis baru.

Lembaga pertama yang dikunjungi adalah Timiakatemia, yaitu sebuah akademi bagian dari Universitas Jamk yang setara dengan strata sarjana dan berfokus pada penciptaan entrepreneur dan mampu menghasilkan sebanyak 64% lulusannya menjadi CEO dari perubahannya sendiri. Dalam setahun akademi ini hanya menerima 40 mahasiswa yang diseleksi secara ketat.

Tahun pertama mahasiswa masih diwajibkan untuk memperkaya literasi dengan buku-buku yang sudah ditentukan. Mahasiswa akan dibagi menjadi 5 sampai 6 kelompok dengan latar belakang dan ketertarikan yang berbeda-beda. Kelompok ini akan berlangsung hingga lulus dan setiap kelompok tersebut adalah sebagai sebuah tim yang memiliki tugas untuk mendirikan perusahaan. Kurikulum, metode, dan penilaian dirancang sedemikian rupa oleh Timiakatemia sehingga lulusan memiliki kompetensi-kompetensi nasional yang terstandar dan sekaligus memiliki gelar sarjana.

Inti dari akademi tersebut adalah memberikan praktek langsung mendirikan sebuah perusahaan, dari perencanaan, pencarian modal, produksi hingga penjualan. Tentu kelas perusahaan yang dibangun tim dari mahasiswa adalah perusahaan yang memiliki dampak minimal secara nasional dengan jenis usaha yang dibebaskan. Timiakatemia selalu mengevaluasi tiap tahapan dari pembuatan perusahaan hingga perusahaan tersebut berjalan. Pada akhir tahun, lulusan wajib melakukan tur ke mancanegara untuk mencari market global dari penghasilan usahanya sendiri.

Lembaga selanjutnya adalah Pusat Keamanan Cyber Jyvaskyla (Jyvsectec). Jyvsectec merupakan lembaga terdepan dalam riset, pengembangan, dan training di bidang keamanan cyber di bawah Institut Teknologi Informasi bagian dari Universitas Jamk. Hasil riset baik dosen, mahasiswa maupun praktisi yang diuji di sini telah diimplementasikan pada berbagai jaringan seperti perbankan, transportasi, industri, dan militer angkatan udara Finlandia hingga NATO.

Keberadaan Jyvsectec ikut men-support ekosistem start-up di bidang teknologi keamanan dengan mengadakan kompetisi cyber security. Produk-produk yang potensial di bidang tersebut akan ditindaklanjuti dalam kerja sama bisnis dan masuk jaringan Jyvsectec.

Finlandia merupakan negara dengan luas hutan lebih dari 80 persen. Produk hutan dan pertanian menjadi bagian penting bagi masa depan negara tersebut. Institut Bioekonomi Universitas Jamk menjadi salah satu leading sector pendidikan yang memiliki fokus pelestarian hutan dan pertanian.

Institut Bioekonomi memfasilitasi mahasiswanya untuk mendirikan usaha dengan mengembangkan produk riset yang dapat membantu pengembangan sektor pertanian di antaranya adalah teknologi digitalisasi pertanian melalui augmented reality mesin-mesin pertanian, aplikasi komunikasi petani ,dan tenaga ahli serta pengembangan swasembada protein dari serangga.

Lomba Start-Up

Kami berkesempatan melihat secara dekat sebuah ajang start-up dalam mengembangkan bisnisnya di Kasvu Open. Dalam program yang terbesar di wilayah Nordik ini, ratusan start-up berlomba untuk mendapatkan kapital dengan mendatangkan lembaga-lembaga keuangan dan investor global. Kasvu Open diselenggarakan oleh Business Innovation Factory Kota Jyvaskyla. Puluhan start-up mengisi booth yang disediakan. Ragam bisnis start-up dari jasa transportasi, pariwisata, teknologi tinggi, digitalisasi, e-market, sensor, augmented reality, food, olahan kayu, hingga layanan hukum berlomba menampilkan yang terbaik untuk menggaet investor dan pasar baru.

Dua panggung besar disediakan untuk start-up melakukan pitching dalam waktu 1,5 menit di hadapan para investor. Setelah turun panggung, investor yang berminat dan ingin tahu lebih tentang prospek bisnis dari start-up yang presentasi dapat melakukan diskusi di meja yang telah disediakan. Pengelola start-up (C-level) di Finlandia memiliki usia beragam, bahkan terlihat sangat umum pada usia 50 terlihat semangat dalam mempromosikan usahanya. Start-up dari Timiakatemia, Bioekonomi, dan Jyvsectec juga bermuara di sini dalam meraih pertumbuhan kapital.

Inkubator Bisnis

Business Innovation Factory (BIF) merupakan inkubator usaha yang didirikan oleh pemerintah Kota Jyvaskyla. Inkubator bisnis dioperasikan oleh 10 orang dengan 6 orang tenaga penuh waktu yang diangkat khusus untuk mengelola inkubator dengan latar belakang profesional dan konsultan bisnis. Tiga proses utama pada proses pendampingan start-up adalah pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi.

Pada proses pra-inkubasi, start-up akan dinilai prospek bisnisnya melalui business plan yang dimiliki kemudian difasilitasi bertemu lembaga keuangan atau investor untuk mendapatkan pinjaman lunak atau seed funding. Start-up yang berhasil mendapatkan dana baru bisa mengikuti proses inkubasi dengan membayar commitment fee mengikuti program inkubasi selama 9 bulan.

Proses inkubasi yang dilakukan adalah coaching, mentoring, dan konsultasi untuk mengarahkan, mendampingi, dan memberikan nasihat solusi pada start-up agar mampu membuktikan bisnisnya bisa berjalan, menguntungkan serta memiliki prospek yang bagus. Pada proses pra-inkubasi start-up dilepas dengan dikoneksikan pada lembaga akselerator yang memfasilitasi investasi kapital lebih besar dengan sistem ekuitas kepemilikan.

Lembaga inkubator BIF tidak memiliki fokus pada start-up berbasis teknologi. Dengan kata lain, bidang usaha yang diajukan start-up bebas. Keunggulan BIF dan lembaga keuangan di Finlandia adalah ketepatan dalam melakukan penilaian kelayakan usaha melalui sebuah sistem yang terpercaya. Sehingga berbekal ide, proyeksi usaha, dan business plan, start-up dapat mengajukan permodalan atau pinjaman lunak.

Inkubator tidak memiliki investasi berupa peralatan apa pun, melainkan hanya menyediakan co-working space serta ruang konsultasi serta tidak ada model tenant start-up inwall ataupun outwall.

Melek Inovasi

Kami mengunjungi Industri pengolahan kayu Metsa Group. Di Finlandia, sebagian besar hutan dimiliki oleh masyarakat. Metsa Group merupakan sebuah korporasi dari pemilik-pemilik hutan yang berhasil memiliki sebuah industri pengolahan pulp, kertas, dan turunannya. Bahan utama kayu dari jenis pohon Koivu.

Belajar dari surutnya Nokia, Metsa Group memiliki lembaga keuangan sendiri bernama Metsa Spring. Tujuan dari Metsa Spring adalah menyediakan dana riset untuk diversifikasi produk kayu Grup Metsa dan memberikan kapital pada start-up di bidang yang relevan. Metsa Grup menerapkan zero waste dan manajemen sustainable forest, artinya satu pohon yang ditebang semua bagiannya diolah menghasilkan produk. Bahkan bagian pucuk pohon dapat diolah menjadi bioenergi sehingga listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk operasional seluruh pabrik.

Pengambilan kayu mengikuti regulasi yang sangat ketat dengan perhitungan satu tebang satu tanam. Melalui Metsa Spring, Mentsa Group mengakuisisi perusahaan start-up Jepang yang mampu memproduksi wastafel eksklusif dari kayu dan kini produknya telah terjual di seluruh dunia. Metsa Spring beroperasi secara global mencari start-up potensial di seluruh dunia yang memiliki kesesuaian bisnis dengan Metsa Group.

Profesional dan Praktisi

Banyak praktisi bisnis dan teknologi dari Nokia yang menyebar di berbagai sektor industri dan pendidikan setelah perusahaan telekomunikasi tersebut surut. Sebagaimana yang menjelaskan kepada kami di Timiakatemia dan Jyvsectec adalah praktisi keluaran dari Nokia. Kedua praktisi dengan latar belakang berbeda membawa perubahan model dalam pengajaran di universitas dalam membentuk entrepreneur serta dalam menjual teknologi masuk ke dunia bisnis.

Universitas tidak lagi berkesan teoretis, namun langsung mengajarkan secara praktik mengkapitalisasi ide dan teknologi menjadi bisnis yang menguntungkan. Pengalaman dan koneksitas praktisi merupakan kunci percepatan program entrepreneurial sehingga lulusannya mampu mendirikan sebuah usaha yang benar-benar berjalan.

Lembaga Riset

Kami berkesempatan mengunjungi lembaga riset VTT, sebuah lembaga riset non-profit sebagai pusat layanan penelitian dan inovasi untuk publik maupun swasta baik untuk domestik maupun internasional. VTT merupakan bagian dari sistem inovasi Finlandia di bawah Kementerian Urusan Ekonomi dan Pekerjaan. Produk riset dan inovasi dari VTT dapat dihilirkan dalam sebuah industri yang akhirnya dapat menampung lapangan pekerjaan baru.

Menumbuhkan Iklim

Tujuh faktor di atas mendukung ekosistem pertumbuhan industri baru di Finlandia. Hasil riset dan inovasi yang kuat, sasaran market secara global, lembaga keuangan, dan pendidikan yang maju dan mampu memprediksi secara tepat proyeksi usaha menjadikan ekosistem penumbuhan start-up efisien. Bagaimana dengan negara kita?

Pemerintah sebenarnya telah menumbuhkan iklim start-up melalui inkubator dan technopark. Kemudahan pemberian pinjaman lunak dan skema-skema pembiayaan untuk modal awal start-up harus semakin ditingkatkan. Inkubator bisnis di universitas seharusnya diberi keleluasaan dalam mengembangkan model inkubasi, dapat memilih opsi model inkubasi sendiri dengan dukungan kuat dari pimpinan universitas.

Model inkubasi yang dikembangkan oleh Kemenristek-Dikti dapat menjadi salah satu opsional saja untuk diaplikasikan. Sejalan dengan itu, universitas harus terus menguatkan dan memperbanyak produk inovasi. Fokus inkubasi perguruan tinggi tidak hanya di bidang teknologi, tapi bisa juga berbasis seni, kerajinan, jasa, dan kreativitas.

Teknologi yang diklaim start-up, apabila tidak memiliki riwayat riset bisa berdampak pada lemahnya produk dalam menghadapi kompetisi di pasar. Start-up di bidang industri kreatif apabila berkembang pada akhirnya akan mengembangkan teknologi dan teknik sendiri dalam rangka mencapai efisiensi dalam bisnisnya, atau bahkan pada akhirnya dapat membuat sebuah model bisnis baru sendiri.

Yuniawan Hidayat Kepala Inkubator Bisnis Universitas Sebelas Maret


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com