detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 05 November 2019, 11:30 WIB

Kolom

Adu Kuat Tekfin Pembayaran

Remon Samora - detikNews
Adu Kuat Tekfin Pembayaran Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -
Wajah industri ekonomi digital Tanah Air kembali sumringah. Aplikasi dompet digital OVO dinobatkan sebagai usaha rintisan bervaluasi di atas 1 miliar dolar AS alias unicorn. Predikat tersebut disematkan pascarilis laporan CB Insights berjudul The Global Unicorn Club. Dalam publikasinya, CB Insights menyebut OVO telah menjadi unicorn sejak 14 Maret 2019 dengan valuasi mencapai 2,9 miliar dolar AS. Adapun investor di balik OVO ialah Tokyo Century Corporation, Grab, dan Tokopedia.

Kesuksesan OVO sejatinya sudah dapat diprediksi sebelumnya. Survei DailySocial dalam Fintech Report 2018 menempatkan OVO sebagai peringkat kedua (58%) uang elektronik yang paling banyak digunakan. Posisi OVO mengekor GoPay di posisi pertama (79%) yang sudah sukses lebih dahulu bersama GoJek sebagai decacorn (usaha rintisan dengan nilai valuasi di atas 10 miliar dolar AS).

Dari perspektif makroekonomi, Bank Indonesia mencatat nilai transaksi uang elektronik mencapai Rp 47,2 triliun selama 2018 atau tumbuh hampir tiga kali lipat dari tahun sebelumnya. Nilai tersebut dipastikan akan meningkat kembali pada tahun ini. Per Agustus 2019 saja, nilai transaksi uang elektronik sudah menyentuh Rp 81,9 triliun.

Apabila ditelisik lebih jauh, pamor uang elektronik jenis server based memang sedang naik daun. Instrumen ini menguasai hampir 85% atau sekitar 167,2 juta pengguna dari 198 juta pengguna kartu dan akun uang elektronik. Sementara dari sisi penyelenggara, industri keuangan non-bank atau teknologi finansial (tekfin) mendominasi transaksi uang elektronik sebesar 69%, sisanya 31% dipegang perbankan.

Tren positif ini nampaknya masih akan berlangsung dalam jangka panjang. Berdasarkan riset Google, Temasek, dan Bain Company bertajuk e-Conomy SEA 2019, ekonomi digital Indonesia tahun ini diprediksi mencetak 40 miliar dolar AS atau sekitar Rp 556 triliun. Angka ini diproyeksi akan terus meroket hingga menyentuh 133 miliar dolar AS pada 2025.

Sektor e-commerce (perdagangan elektronik) dan ride-hailing (berbagi tumpangan) menjadi tumpuan utama dalam menggapai target tersebut. Kedua sektor itu mampu menunjukkan pertumbuhan paling signifikan. Buktinya sektor e-commerce tumbuh 12,3 kali lipat menjadi 21 miliar dolar AS dalam empat tahun terakhir. Segendang sepenarian, sektor ride-hailing pada 2015 nilainya masih 900 juta dolar AS, tetapi saat ini bisa mencapai 6 miliar dolar AS.

Pada 2025 diprediksi keduanya akan tumbuh eksponensial, masing-masing mencapai 82 miliar dolar AS dan 18 miliar dolar AS.

Tak ayal hasil assessment tersebut praktis menjadi angin segar bagi aplikasi besutan PT Visionet Internasional. Kolaborasi dengan Tokopedia (e-commerce) dan Grab (ride-hailing) tentu akan menjadi pendorong utama kinerja OVO di masa depan. Tidak berhenti di situ, sejumlah media menyebut manajemen OVO telah menyiapkan rencana aksi korporasi ke depan.

Di antaranya, akuisisi Bareksa (usaha rintisan jual beli reksadana), merger dengan DANA (aplikasi uang elektronik) dan bekerja sama dengan Whatsapp Payment. Apabila agenda ekspansi tersebut terealisasi, tidak menutup kemungkinan OVO akan melaju kencang sendiri meninggalkan pesaing-pesaing terdekatnya, misal GoPay dan Link Aja.

Lampu Kuning

Meskipun telah menyandang gelar bergengsi unicorn, namun seyogianya OVO dan pemain tekfin pembayaran lainnya patut mawas diri. Strategi bakar uang berupa pemberian subsidi untuk aktivitas customer acquisition harus dievaluasi kembali. Mencermati kondisi perekonomian terkini, bisa jadi kucuran dana oleh investor tidak akan mengalir deras seperti periode sebelumnya. Beberapa lembaga internasional telah memberi lampu kuning terkait hal ini.

Accenture mencatat nilai pendanaan bagi tekfin secara global pada semester I-2019 mencapai 22 miliar dolar AS, atau turun 29% dibandingkan semester I-2018 yang mencapai 31,2 miliar dolar AS. Pesan senada disampaikan pula oleh Bank Dunia. Di tengah ancaman krisis global, pendanaan (fundraising) hampir bisa dipastikan akan mengalami penurunan dalam beberapa tahun mendatang. Pemain tekfin disarankan berfokus pada penciptaan bisnis yang mulai menghasilkan keuntungan, alih-alih pertumbuhan dan valuasi.

Harus diakui paradigma investor saat ini telah mengalami pergeseran. Valuasi tidak lagi menjadi satu-satunya aspek terpenting dan bukanlah tujuan akhir dari sebuah investasi pada usaha rintisan. Berkaca pada banyaknya persoalan usaha rintisan di Amerika Serikat, sejumlah pihak bahkan mulai meragukan validitas asumsi di balik metode perhitungan nilai valuasi.

Secara konseptual, pendekatan yang acap digunakan untuk mengukur valuasi ialah proyeksi nilai penjualan atau Gross Merchandise Value (GMV) di masa depan. Seperti halnya bisnis konvensional, omzet memang menjadi parameter untuk melihat pertumbuhan sebuah bisnis atau produk. Namun yang membedakan keduanya ialah perolehan laba bersih tidak menjadi prioritas jangka pendek menengah bagi usaha rintisan.

Studi kasus investasi Softbank ke usaha rintisan, WeWork barangkali dapat merepresentasikan kegelisahan ekonom. Pembatalan rencana penawaran saham perdana (Initial Public Offering) WeWork mendapat sorotan tajam oleh publik Negeri Paman Sam. Valuasi yang sangat tinggi hingga mencapai 47 miliar dolar AS dipertanyakan. Begitu juga soal kelangsungan model bisnis, pengelolaan beban jangka panjang, dan penerimaan jangka pendek.

Pengalaman Uber juga memberikan pelajaran serupa. Sejak go public pada Mei 2019, kinerja keuangan Uber masih belum menunjukkan adanya perkembangan memuaskan. Pada kuartal II-2019 usaha rintisan ride-hailing ini menderita kerugian 5,2 miliar dolar AS atau setara Rp 73 triliun. Media asing Business Insider menyebut angka kerugian ini adalah kerugian kuartalan terdalam yang pernah ada.

Sebagian ekonom menyebut fenomena ini sebagai perangkap predikat unicorn. Valuasi tanpa profitabilitas diibaratkan secara ekstrem layaknya gelembung air sabun. Sepintas terlihat cepat membesar dalam waktu singkat, tapi sebenarnya hanya berisi udara kosong. Dalam ilmu ekonomi, kondisi ini disebut bubble, yakni pertumbuhan yang tidak didasari oleh nilai fundamental yang kuat. Meminjam terminologi ilmu akuntansi, asas kesinambungan usaha (going concern) diragukan.

Berangkat dari sehimpun argumentasi dan data di atas, persaingan tekfin pembayaran ke depan diramalkan tidak akan berlangsung ketat seperti tahun-tahun sebelumnya. Pelaku tekfin juga akan bersikap lebih rasional dan selektif dalam membelanjakan anggaran subsidi. Aspek non-tarif, seperti kualitas dan keterjangkauan layanan harus dikedepankan demi menumbuhkan ekosistem kompetisi yang sehat.

Remon Samora analis Bank Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com