detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 05 November 2019, 08:59 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

Naluri Imitasi Anak-Anak di Era Gawai

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Naluri Imitasi Anak-Anak di Era Gawai Iqbal Aji Daryono (Ilustrasi: Edi Wahyono)
Jakarta - "Jadi orangtua itu tugasnya nggak usah repot-repot. Cuma dua saja. Mendoakan dan memberi contoh."

Begitu saya ingat seorang sesepuh dari Gunung Kidul pernah memberikan nasihat. Nasihat yang simpel, padat, dan terdengar gampang. Tapi tentu saja yang tampaknya gampang nggak pernah beneran gampang.

Soal mendoakan, mudah-mudahan saya cukup tekun mendoakan anak-anak saya. Minimal agar mereka bisa mengambil yang baik-baik dari bapak-ibunya, dan membuang jauh-jauh yang jelek-jelek dari kedua orangtuanya. Bahwa itu berarti anak-anak saya akan lebih banyak membuang daripada mengambil, apa boleh buat.

Adapun tentang memberi contoh, ini yang sulit. Tidak usah jauh-jauh hingga perkara akhlak. Untuk soal-soal teknis yang dengan mudah tertangkap pandangan mata mereka saja sudah sulit.

Tentang kebiasaan membaca, misalnya. Hampir tiga tahun terakhir saya lumayan sering membaca dengan Kindle. Buat saya alat itu praktis, adem di mata nggak macam tablet, bisa dibaca di tempat gelap, enak dipegang dengan sebelah tangan, dan tak ada kerepotan teknis saat saya membaca buku setebal apa pun.

Tapi kemudian ada situasi yang saya cermati. Kalau saya membaca dengan benda itu, anak-anak saya tak akan pernah tahu saya sedang membaca apa. Mau baca buku sastra, atau sejarah, atau PDF cerita stensilan, bagi mereka ya sama saja: Bapak sedang pegang Kindle.

Hampir persis keadaannya dengan ketika saya pegang HP. Kecuali mengintip, anak-anak tidak akan pernah tahu apakah bapak mereka sedang baca liputan berita dari detikcom, atau dari blog sampah yang ngaku-ngaku situs berita, atau sedang Facebook-an, atau sedang menyimak akun Instagram Nikita Mirzani, atau buka Youtube buat nonton video prank dan instant karma.

Tidak ada yang bisa diimitasi oleh anak-anak saya dari perilaku mengakses informasi lewat macam-macam gawai. Hasilnya, ketika insting mengkopi itu mereka jalankan, yang muncul semata-mata apa yang selama ini mereka tangkap dengan mata mereka: main gawai.

"Ndhuk, ayo udahan nonton Youtube-nya."

"Lho itu Bapak juga masih nonton terus, lama buanget dari tadi."

Itu dialog yang lazim sekali terjadi. Anak sulung saya mengira saya juga sedang nonton video-video nggak mutu. Padahal faktanya, Si Bapak dan kawan-kawan Facebook-nya sedang suntuk berdiskusi, tentang Nia Ramadhani yang tersesat di rumah sendiri.

Maka, beberapa bulan lalu, saya mulai kembali menyamankan diri untuk membaca buku kertas. Tidak rajin-rajin amat sih. Saya toh bukan pembaca yang hebat. Tapi dari aktivitas itu saja suasananya sudah mulai berganti. Anak saya bisa melihat langsung bahwa yang sedang dibaca bapaknya memang buku, bahkan tampak pula judulnya apa. Dia tidak lagi iri melihat saya pegang HP atau gawai lain semacam Kindle. Dia kembali lagi ke kebiasaan yang dulu pernah kami tata, yaitu membaca buku kertas.

Yang lebih mengharukan, salah satu frasa pertama yang berhasil diucapkan oleh anak saya yang kecil adalah "baca buku". Saat dia lihat kami pegang buku, si kecil bilang "Bapak baca buku", atau "Ibu baca buku". Saya pun tiba-tiba merasa bahwa kami keluarga yang sangat berbudaya hahaha.

***

Hari itu Sabtu, libur akhir pekan. Kami masih tinggal di Australia waktu itu. Mobil van yang saya pakai bekerja sehari-hari sudah gundul bannya, dan Pak Bos memanggilkan tukang ban yang datang ke rumah kontrakan saya.

Tukang ban itu pun datang. Dia membawa mobil van yang sedikit lebih besar daripada van saya, dengan peralatan lengkap di dalamnya.

Nah, saat mulai bekerja untuk mengganti keempat ban van saya, seorang bocah umur 10 tahunan membantu si tukang ban. Rupanya itu anaknya.

Dengan tampak bersungguh-sungguh, anak itu menata tanda-tanda pembatas sesuai aturan keselamatan kerja di Australia, mengambilkan alat ini-itu, dan sebagainya. Ia juga mengamati saat bapaknya menyusup ke kolong van untuk memasang dongkrak, saat si bapak mengangkati ban besar-besar, saat bercak oli hitam berlepotan di tangan si bapak, juga segenap proses lain yang si anak itu tidak bisa membantu.

Saya teringat kembali peristiwa itu, dan tiba-tiba merasa iri. Jelas, sebenarnya si tukang ban sangat bisa melakukan semuanya seorang diri. Tapi dia mengajak anaknya. Mungkin memang agar si anak membantunya. Namun ada efek lain yang ia dapatkan, yaitu anaknya melihat dengan mata kepala sendiri tentang apa itu bekerja.

Tidak semua orang tumbuh dengan semangat bekerja. Ada jenis-jenis orang yang asal hidup, lebih suka membiarkan waktu dan usia berlalu tanpa berbuat apa-apa, menyia-nyiakan segenap energi dan potensi dalam dirinya.

Saya curiga bahwa mereka tidak suka bekerja karena di masa pembentukan karakter tidak pernah menyaksikan sosok teladan yang senang bekerja. Walhasil, bawah sadar mereka tidak mendapatkan asupan contoh yang bisa diimitasi dalam hal aktivitas bekerja.

Kecurigaan saya itu berkembang menjadi ketakutan, karena mendadak saya menyadari satu fakta: saya jarang memberikan contoh kepada anak-anak saya tentang apa itu bekerja, dan bagaimana wujud aktivitas bekerja. Padahal saya kepingin anak-anak saya tahu, bahkan menancapkan hingga alam bawah sadar mereka, tentang bagaimana sebuah hasil didapatkan dari serangkaian kerasnya usaha.

Nah, ini problem yang lagi-lagi mirip dengan kasus Kindle dan HP saya.

***

"Pak, Bapak tuh kerjanya di mana sih? Bapak punya kantor enggak?"

Beberapa pekan lalu, sambil rebahan santai, anak saya yang besar bertanya itu. Tawa saya meledak keras. Tapi sejurus kemudian saya terdiam, dan kembali merasa diingatkan tentang "contoh yang bisa diimitasi" itu tadi.

Aktivitas utama saya menulis. Biasanya saya menulis di kamar tertutup, siang hari saat anak saya sekolah, atau malam hari saat semua sudah tidur. Itu pun tidak setiap hari saya menulis. Kalau sedang di luar, tak jarang saya menulis hanya dengan HP.

Saya merasa semua ini baik-baik saja. Toh beberapa kali anak saya juga saya pameri buku saya, saya tunjuki foto-foto saat saya sedang mengisi materi di seminar dan pelatihan, juga beberapa lainnya. Namun ternyata masih saja muncul pertanyaan itu. "Bapak kerjanya di mana? Punya kantor enggak?"

Sangat mungkin dia mendapat referensi dari teman-temannya. Barangkali ada teman sekolahnya bercerita bahwa ayahnya bekerja di kantor yang gede, atau ketemu cuma seminggu sekali karena si ayah berkantor di luar kota. Adapun anak saya bingung saat harus bercerita tentang bapaknya. Maka, "Bapak punya kantor enggak?"

Aduh. Saya kira, inilah salah satu tantangan di zaman ini. Aktivitas profesional apa pun sekarang ini acap tidak punya urusan dengan ruang. Ruang yang kita masuki adalah ruang-ruang digital yang tak berbentuk, yang abstrak, dan berbeda sama sekali dengan gambaran klasik tentang ruang. Sementara, anak-anak yang tumbuh di zaman ini berada pada masa transisi, ketika mereka masih melihat ruang dalam makna konvensional, namun juga dihadapkan pada realitas baru ruang-ruang digital.

Hasilnya, para orangtua seperti saya jadi tidak cukup gampang dalam menampilkan ruang-ruang kepada anak. Memang anak bisa diberi penjelasan, sebagaimana istri saya kemudian membukakan Youtube dan memutarkan film pendek Digital Nomad. Tapi penjelasan itu rentan hanya berhenti di ranah kognitif, dan sulit dibawa masuk ke bawah sadar anak-anak. Kenapa? Ya karena mereka tidak terbiasa menyaksikan sendiri bagaimana kepayahan orangtua mereka dalam bekerja.

***

Huruf-huruf ini saya ketik di sebuah tempat sejarak 2.500 kilometer dari rumah kami. Saya sedang berkeliling untuk memberikan pelatihan di beberapa kota, yang mengharuskan saya tidak menengok rumah hampir sebulan lamanya.

Awalnya, berat hati saya melakukan ini. Sebulan tak pulang itu belum pernah saya lakukan. Hingga kemudian saya ingat, anak-anak saya butuh contoh untuk diimitasi. Meski tidak secara langsung melihat bagaimana saya bekerja, setidaknya mereka akan bisa bercerita kepada teman-teman mereka, "Bapakku kantornya kadang-kadang di luar kota. Dan dia kalau pergi lama."

Adapun tentang kenyataan bahwa di tiap kota bapak mereka hanya bekerja dua hari, sedangkan lima hari sisanya cuma untuk jalan-jalan, ah, tolong soal itu janganlah terlalu dibesar-besarkan.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com