detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 03 November 2019, 12:16 WIB

Jeda

Senja Sehabis Hujan yang Ditunggu-Tunggu

Mumu Aloha - detikNews
Senja Sehabis Hujan yang Ditunggu-Tunggu Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Senja sehabis hujan, udara berwarna kelabu seperti kanvas raksasa yang merekam lukisan sebuah kampung yang muram. Orang-orang dalam lukisan itu terlihat kecil dan murung, berdiri di pintu-pintu rumah mereka dengan kepala mendongak menatap langit, seperti berdoa. Jalan setapak membelah kampung, kering dan rekah, dengan pepohonan yang kurus dan ranggas.

Oktober baru saja berlalu, dan November datang seperti dunia dalam lukisan itu. Tapi, pada suatu senja di akhir pekan, hujan akhirnya turun, dan orang-orang bersorak. Hujan yang telah lama ditunggu-tunggu. Walau hanya sebentar dan tidak deras, namun cukup untuk membuat udara yang biasanya sangat panas menjadi sejuk. Orang-orang menarik napas panjang, mengisi paru-paru mereka dengan udara senja sehabis hujan yang segar, seperti menuntaskan sebuah dahaga yang panjang dan mencekik jiwa.

Sebab, tak ada yang tahu, apakah besok hujan akan datang lagi. Hari-hari ini, menunggu hujan tak ubahnya menunggu datangnya keajaiban. Kita yang hidup di kota-kota, di kampung-kampung yang padat, yang tak pernah menanam pohon dan menghabiskan sebagian besar waktu keseharian dengan berkendara di jalan raya, hanya tahu bahwa pada bulan-bulan seperti ini, mestinya hujan sudah turun, mengguyur deras setiap hari, membasahi tanah dan mendinginkan malam-malam ketika kita beristirahat di kamar.

Kapan terakhir kali kita merasakan hari-hari yang sepanas ini? Ingatkah, lima musim panas yang terpanas di Eropa sejak tahun 1500, semuanya terjadi pada 2002? Ingatkah gelombang panas mematikan yang terjadi pada 2015 dan menewaskan ribuan orang di India dan Pakistan? Baru-baru ini, kenaikan suhu terus bertambah. Pada 2010 dilaporkan 55 ribu orang tewas karena gelombang panas di Rusia --tiap hari 700 orang tewas di Moskow karenanya.

Pada 2016, di tengah gelombang panas yang memanggang Timur Tengah selama beberapa bulan, suhu di Irak melebihi 37 derajat Celcius pada bulan Mei, 43 pada Juni, dan 48 pada Juli --suhu turun di bawah 37 derajat hanya pada malam hari. Pada 2018, suhu tertinggi yang pernah tercatat pada April terjadi di Pakistan bagian tenggara.

Di India, satu hari dengan suhu di atas 35 derajat Celcius menaikkan angka kematian tahunan 0,75 persen --pada 2016 serangkaian hari di sana bersuhu sampai 48 derajat Celcius pada bulan Mei. Di Arab Saudi, yang suhu musim panasnya sering mencapai titik itu, 700 ribu barel minyak dibakar setiap hari untuk menjalankan AC.

AC memang jelas bisa mengatasi panas. Ada cerita "lucu" tentang itu, dan ini baru saja terjadi. Akhir bulan lalu, media massa dunia diramaikan oleh berita tentang pemerintah Qatar yang "menghadirkan solusi jitu" dengan memasang AC di luar ruangan untuk mengatasi udara yang saking panasnya --mencapai 46 derajat Celcius.

Pemasangan AC berukuran jumbo itu dilakukan di sepanjang jalan maupun di tempat-tempat umum yang strategis seperti mall dan pusat perbelanjaan. Termasuk juga di dalam stadion-stadion bola --mengingat Qatar akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.

Dilaporkan juga, selain memasang AC di luar ruangan, pemerintah negeri yang kaya raya itu melakukan usaha lain untuk mengatasi udara panas, yakni dengan mengecat jalanan beraspal menjadi berwarna biru. Diharapkan dengan dicat warna biru, suhu jalanan bisa turun 15 hingga 20 derajat Celcius. Salah satu jalanan yang dicat biru adalah Jalan Abdullah Bin Jassim di dekat pasar tradisional terbesar di Kota Doha.

Warna biru memang terbukti bisa menurunkan suhu jalanan karena warna ini memantulkan panas dari sinar matahari, dibandingkan warna hitam aspal yang cenderung menyerap panas. Setidaknya, kesimpulan ini telah melalui percobaan ilmuwan Qatar; dengan mengecat jalanan sepanjang 250 meter dengan ketebalan cat mencapai satu milimeter. Tentu saja bukan dengan cat biasa, melainkan cat yang mengandung pigmen yang bisa memantulkan panas.

Qatar bukanlah negara pertama yang melakukan hal itu untuk mengurangi panas. Kota-kota besar lain di dunia juga pernah melakukan hal serupa, salah satunya Los Angeles. Bedanya, di Los Angeles cat yang digunakan bukan berwarna biru, melainkan abu-abu keputih-putihan. Warna ini terbukti bisa menurunkan suhu sampai 5 derajat Celcius.

***

Tapi, bukankah semua cerita itu terjadi di tempat-tempat yang jauh? Tidak di sini, tidak terjadi pada kita? Kita masih bisa beraktivitas dengan normal. Seseorang paling cuma mengeluh, dengan nada berkelakar, "Siapa ini yang membocorkan neraka?"

Udara panas yang terjadi akibat perubahan iklim sebagai dampak dari pemanasan global memang bukan dongeng. Kita merasakannya, walaupun belum "separah" cerita-cerita dari negeri-negeri yang jauh tadi. Kita "masih bisa" menertawakannya, menjadikannya bahan lelucon dalam perbincangan sehari-hari saat makan siang dengan teman sekantor.

Kita mungkin mulai sadar, tapi, ah...masih bisa santai. Sebab, cerita besarnya adalah, perubahan iklim itu terjadi sangat lambat. Cerita lainnya terangkai dalam bunga rampai delusi yang membius: pemanasan global adalah masalah di Artika; pemanasan global hanya masalah tinggi permukaan laut dan daerah pantai, bukan krisis yang melingkupi semua tempat tanpa kecuali dan mempengaruhi semua bentuk kehidupan tanpa terlewat satu pun.

Bahwa perubahan iklim adalah krisis dunia "alami", bukan dunia manusia; bahwa perubahan iklim dan pemanasan global itu tidak berhubungan, dan kita sekarang hidup di luar atau melampaui atau setidaknya bisa bertahan menghadapi alam, bukan di dalamnya tanpa lepas darinya. Bahwa kekayaan bisa menjadi perisai yang melindungi terhadap kerusakan akibat pemanasan global.

Lihat, apa yang dilakukan oleh pemerintah Qatar. Dan, lihat bagaimana media-media menulis berita tentang itu, yakni dengan embel-embel "rich people". Teknologi selalu menyelamatkan kita, menuntun kita ke jalan keluar dari bencana lingkungan hidup --tenang saja, kita berpengalaman menghadapinya. Di Uni Emirat Arab bahkan ada mall yang berpengendali iklim.

Namun, kita lupa, atau terlena, bahwa AC (dan kipas angin) sudah mengonsumsi 10 persen listrik global. Permintaan akan AC diperkirakan berlipat tiga, atau malah berlipat empat pada 2050 nanti. Menurut satu perkiraan, dunia akan menambah 700 juta unit AC pada 2030. Penelitian lain memberi perkiraan bahwa di seluruh dunia pada 2050 akan ada sembilan miliar lebih alat pendingin beraneka jenis.

Karena kita kaya, kita tidak peduli bahwa menyebar AC ke bagian-bagian terpanas planet ini tidaklah ekonomis, dan yang jelas tidak "hijau". Dan, krisis ini akan paling dramatis di Timur Tengah dan Teluk Persia, di mana pada 2015 indeks panas mencatat suhu tertinggi mencapai 72 derajat Celcius. David Wallace-Wells, penulis buku The Uninhabitable Earth: Life After Warming (diterbitkan edisi Indonesianya oleh Gramedia dengan judul Bumi yang Tak Dapat Dihuni: Kisah tentang Masa Depan) dengan baik hati mengingatkan bahwa beberapa puluh tahun ke depan, ibadah haji akan menjadi sangat berat secara fisik bagi banyak Muslim.

***

Bukan cuma haji, dan bukan cuma Mekkah. Di kawasan perkebunan tebu di El Savador, seperlima penduduknya --termasuk lebih dari seperempat dari semua laki-laki-- mengidap penyakit ginjal kronis, diduga karena dehidrasi karena bekerja di kebun, sesuatu yang sampai dua dasawarsa lalu masih nyaman.

Tentu saja stres panas akan menyerang kita di bagian-bagian lain selain ginjal. Bayangkan saja peristiwa kecil ini: ketika AC di ruangan kantor kita mati, kita langsung gaduh, kehilangan konsentrasi, tak bisa bekerja, dan jika itu terjadi dalam waktu yang agak lama, maka produktivitas pun menurun. Perubahan iklim, yang membuat hari-hari kita tahun ini terasa demikian panas, sebenarnya bisa kita pahami dengan cara yang sesederhana itu.

Hawa panas yang kita rasakan adalah sebuah kenyataan yang sangat mudah diterima akal. Sore sehabis hujan yang sebentar, yang tidak deras, namun telah lama kita tunggu-tunggu, membuat kita berpikir kembali bahwa seperti semua hewan, manusia adalah mesin yang menghasilkan panas; untuk bertahan hidup kita harus terus-menerus mendinginkan diri, seperti anjing yang terengah-engah.

Suhu harus selalu cukup rendah supaya udara bisa berfungsi sebagai pendingin, menarik panas dari kulit supaya mesin bisa berjalan. Kita bisa saja memakai payung. Kita bisa saja berdoa atau bahkan melakukan salat berjamaah untuk meminta kepada Tuhan menurunkan hujan. Tapi kita juga bisa, kau tahu, mulai sekarang sedikit saja lebih peduli.

Sebagian besar dari kita pastilah bukan aktivis lingkungan. Sebagian besar dari kita juga bukanlah mereka yang biasa disebut sebagai "pecinta alam". Kita menghabiskan sepanjang hidup di kota-kota, berlibur, menikmati gawai, dan terus-menerus membakar bahan bakar fosil demi pertumbuhan ekonomi. Kita makan daging dan susu dari hasil teknologi industri. Untuk lebih peduli pada lingkungan, kita tak perlu menyembelih sapi sendiri untuk makan malam.

Tak perlu juga menjadi vegan. Kita memang ada di puncak rantai makanan. Tidak ada yang salah dengan hobi kita menjadi pemburu kenikmatan kuliner, sambil memamerkannya di Instagram. Jika di antara kita ikut turun ke jalan dalam sebuah gerakan memunguti sampah, entah itu di gunung, di pantai, di lokasi wisata, atau di jalanan kota sehabis demonstrasi, itu alangkah mulia. Tapi selalu punya gagasan bahwa menjaga sungai dan udara tetap bersih saja itu sudah sangat baik.

Kita mungkin tak punya kekuasaan politik untuk mencegah dan menghentikan pembakaran hutan. Tapi kita bisa, kau tahu, menanam lebih banyak pohon di pekarangan rumah kita. Kita mungkin tak bisa mendaur ulang sampah. Tapi kita bisa, kau tahu, mengurangi atau bahkan menghentikan penggunaan tas plastik saat berbelanja ke supermarket. Kita bisa membiasakan tak membiarkan AC di kamar kita tetap menyala ketika kita sedang pergi. Kita bahkan bisa berjalan sendiri ke warung, untuk mengurangi asap kendaraan, dengan tidak memesan makanan via ojek online, kalau memang tidak sangat perlu dan terpaksa.

Karena semua masalah itu kita tahu dan sadar bahwa kita sendiri yang menciptakan, maka mestinya kita juga cukup bijak untuk selalu punya cara menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi dan masa depan bumi ini. Krisis yang lebih buruk, bencana yang lebih besar, mungkin memang tidak akan terjadi pada zaman kita. Tapi, kita telah melahirkan anak-anak dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Alangkah baiknya jika kita tidak mewarisi mereka sebuah bumi yang rusak, dan tak bisa dihuni.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com