detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 02 November 2019, 10:47 WIB

Pustaka

Menjadi Jawa Sekaligus (Ber)Islam

Ahmad Sugeng Riady - detikNews
Menjadi Jawa Sekaligus (Ber)Islam
Jakarta -

Judul Buku: Saya, Jawa, dan Islam; Penulis: Irfan Afifi; Penerbit: Tanda Baca, 2019; Tebal: 222 Halaman

Perdebatan manusia Jawa yang beragama Islam sudah berlangsung sejak lama. Perdebatan ini dipicu oleh pertanyaan apakah agama Islam yang dianut oleh manusia Jawa benar-benar agama Islam yang autentik? Atau, laku keberislaman manusia Jawa merupakan warisan dari agama-agama yang datang sebelumnya? Kedua pertanyaan ini santer terlihat ketika kita membaca buku-buku yang membahas persoalan Jawa dan Islam.

Termasuk buku yang ditulis oleh Irfan Afifi dengan tajuk Saya, Jawa, dan Islam ini. Meski bisa dibilang buku ini datangnya belakangan, namun pembahasan yang terdapat di dalamnya juga memiliki kedalaman refleksi dan ketajaman analisis. Buku ini memuat empat belas esai dengan tiga pembagian. Pembagian tidak diberi sub-tema, tapi kita bisa menafsirkan bahwa pembagian ini didasarkan pada kesamaan topik yang diangkat.

Pada bagian pertama hanya terdapat satu esai yang sekaligus digunakan sebagai tajuk buku. Esai ini membahas perjalanan Irfan Afifi dalam menemukan jati dirinya. Kegelisahannya untuk menemukan jati dirinya ini tidak muncul begitu saja. Ia disadarkan dari pertemuan dengan Paryono, seorang tukang urut yang memberinya pitutur untuk melakoni hidup yang seharusnya. Pertemuan sederhana itu bisa dikatakan menjadi kilas balik bagi Irfan Afifi untuk menemukan jawaban atas kegelisahannya mencari jati diri sebagai manusia Jawa yang beragama Islam.

Akumulasi memori kolektif Irfan Afifi kecil yang hidup dan besar dari kultur laku keberislaman di desa, dan sederet pengetahuan yang diperolehnya dari bangku perkuliahan ternyata belum cukup untuk menemukan jawaban dari kegelisahannya tersebut. Pencarian jati diri dilanjutkan dengan membaca buku babon yang banyak dijadikan rujukan untuk mendefinisikan manusia Jawa yang beragama Islam, sebut saja buku History of Indian Archipelago karya Crawfurd dan History of Java dari Rafles. Kedua buku ini secara mengejutkan menghadapkan Jawa dan Islam sebagai "musuh". Sederhananya, manusia Jawa yang beragama Islam itu Islamnya tidak autentik karena sudah campur dengan tradisi yang dibawa oleh agama-agama sebelumnya.

Usai banyak buku pembanding yang dikhatamkan, Irfan Afifi menafsirkan bahwa Jawa dan Islam yang dihadapkan sebagai musuh merupakan konstruk untuk memuluskan upaya kolonialisme di Indonesia. Hanya saja yang disayangkan, ternyata masih banyak generasi yang datang belakangan tidak menyadari hal tersebut. Alih-alih mengkritik dan menelusurinya, justru kedua buku di atas malah banyak diamini dengan dikutip di berbagai diskusi dan tulisan ilmiah.

Sedangkan di bagian kedua, ada enam esai dengan dua benang merah. Tiga esai pertama membahas perihal ilmu dengan segala sumber dan orientasinya. Sedangkan tiga esai selanjutnya menguraikan cara untuk mengaktualisasikan ilmu tersebut dengan mengangkat subjek sebagai contoh.

Kalimat sangkan paraning dumadi acap digunakan sebagai pengingat bahwa manusia ada dan akan kembali kepada-Nya. Kalimat ini juga menunjukkan eksistensi manusia di bumi tidak lebih hanya sekadar makhluk. Sehingga hawa nafsu dengan segala jenisnya harus bisa ditekan dan dikendalikan menggunakan ilmu. Merujuk pada Serat Wedhatama, manusia Jawa memiliki rumusan ilmu yang tidak cukup hanya untuk ilmu, tapi ilmu yang berorientasi untuk memperbaiki kualitas manusia.

Dalam konteks hari ini, banyak kita temui manusia yang berilmu dengan sederet gelar dan buku yang telah dikhatamkan, tapi kualitasnya sebagai manusia seringkali masih dipertanyakan. Sebab ilmunya tidak berbanding lurus dengan lakunya di kehidupan sehari-hari. Misalnya, bisa mengkhatamkan satu buku babon tentang teori filsafat eksistensialis, tapi senangnya mengjustifikasi kesalehan orang lain dengan dalil yang lemah. Menyandang gelar magister, tapi melakukan eksploitasi tiada henti. Padahal ngelmu iku kelakone kanthi laku --ilmu itu didapat dari laku, kemudian didarmakan kepada sesama dan semesta agar bisa mencapai kebahagiaan sejati.

Suryomentaram misalnya. Kepandaian dan status sosialnya yang mentereng justru membuatnya gelisah, karena tidak bertemu dengan manusia di antara kerumunan. Kegelisahan yang mungkin jarang dirasakan oleh orang-orang pada masanya dan masa sekarang. Sehingga ia memilih untuk meninggalkan fasilitas mewah yang disediakan oleh kerajaan, kehendak yang mesti terkabul dengan sekali tunjuk, dan menanggalkan statusnya sebagai pangeran agar bisa berbaur dan menjadi masyarakat biasa. Selain Suryomentaram, buku ini juga mengangkat Empu Supa dan perempuan Jawa sebagai prototipenya.

Adapun pada bagian ketiga memuat tujuh esai dengan tiga benang merah. Pergulatan budaya Jawa dengan agama Islam mewarnai dua esai pertama. Budaya sebagai piranti untuk mendakwahkan agama Islam justru dikritik karena bisa berpengaruh terhadap keautentikan ajaran agama Islam. Padahal para wali terdahulu melalui kebudayaan masyarakat setempat berhasil mendistribusikan dan mengkompromikan ajaran agama Islam sehingga bisa diterima. Budaya menjadi bagian integral dalam agama Islam, bukan sebagai musuh yang harus diperangi kemudian diganti dengan jubah dan jenggot panjang.

Jeritan petani yang dirampas tanahnya mengisi dua esai selanjutnya. Profesi yang terus-menerus ditekan kesejahteraannya, tapi diwajibkan untuk memberi pangan terbaik di negeri ini berulang kali dihadapkan pada realitas tragis dan tangis. Menilik sejarah masa lalu, petani digencet terus-menerus oleh kolonial sampai sesak bernapas. Pemberontakan demi pemberontakan tidak berhasil membebaskan dari cengkeraman, justru beban yang ditimpakan oleh kolonial kepada petani semakin membuatnya melarat.

Meski kolonial sudah pergi puluhan tahun lalu, kondisi petani sekarang tetap berada pada garis kemelaratan. Petani di Kendeng oleh buku ini dijadikan prototipe kehidupan petani yang kurang beruntung. Tanah mereka digusur atas nama pembangunan. Petani sudah kalah, tapi disuruh mengalah sampai akhirnya hanya bisa pasrah terhadap realitas yang semakin tidak berpihak padanya.

Kemudian tiga esai terakhir menyoal agama Jawa yang sering disalahpahami bukan sebagai agama Islam. Padahal jika menilik Serat Centhini, ada banyak bagian yang relevan dengan ajaran agama Islam, salah satunya soal wahdatul wujud. Mungkin serat ini menjadi semacam indikasi bahwa agama Islam yang masuk dan berkembang pesat di masa itu --di tanah Jawa utamanya-- adalah versi tasawufnya, bukan fiqh. Sehingga banyak budaya setempat yang bisa diakomodasi, asalkan memiliki orientasi kepada-Nya.

Seperti yang saya sebut di paragraf awal, perdebatan agama Islam di Jawa selalu menyasar soal autentisitas ajarannya. Para orientalis terdahulu juga memberi justifikasi bahwa keberislaman orang Jawa sudah terkontaminasi dengan adat lokal dan budaya Hindu. Mereka menyebutnya sebagai muslim yang hanya ada pada permukaan. Namun sayangnya, pendapat ini keburu dijustifikasi tanpa ada pembahasan yang mendalam soal agama Islam di Jawa.

Demikian, buku ini bisa menjadi representasi dari ihwal keberislaman manusia Jawa yang sedikit banyak mulai terabaikan. Bukan karena kesulitan untuk mencari datanya, namun meramunya tidak cukup hanya dengan logika, tapi juga perlu olah rasa. Mengutip bagian Purwaka (pembuka), Irfan Afifi mengatakan, buku ini mungkin sejumput makna yang saya ambil di tengah aliran arus perjalanan sungai yang masih saja terus-menerus mengalir itu. Iya, buku yang mungkin pembahasannya tidak akan bertemu dengan kata 'khatam'.




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com