detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 01 November 2019, 13:00 WIB

Kolom

Fenomena Beragama Masyarakat Urban

M. Fahruddin Al Mustofa - detikNews
Fenomena Beragama Masyarakat Urban Sebuah acara pengajian bersama seorang ustaz kondang di Surabaya (Foto: Amir Baihaqi)
Jakarta -

Keresahan ini bermula ketika salah seorang teman bercerita kepada saya tentang pengalamannya ketika pulang ke kampung halamannya di daerah Jagakarsa. Ia kedapatan mengisi satu kajian menggantikan ustaz, yang notabene lulusan Timur Tengah, karena ada sebab yang menghalanginya hadir.

Seperti lazimnya pengajian-pengajian sebelumnya, takmir musala pun mendekati teman saya dan membisikkan arahan untuk membuka termin tanya-jawab. Akhirnya ia mempersilakan para hadirin untuk bertanya. Ada sekitar lima pertanyaan yang masuk. Segera dipungkasi agar tidak terlalu memakan waktu. Ternyata dari lima pertanyaan itu, hanya tiga yang bisa ia jawab. Sembari mengatakan, "Mohon maaf ya bapak-ibu dan jamaah sekalian, kalau yang ini kami tidak bisa menjawab. Mungkin kami cari dulu referensinya di kitab lain."

Ternyata respons jamaah pun di luar dari apa yang dibayangkan. Mereka kecewa dan ngedumel dari belakang, bahkan ada yang nyeletuk, "Ustaz macam apa, pertanyaan gini aja gak bisa jawab. Gak kayak Ustaz A." Teman saya hanya bias mengelus dada dan pulang dengan rasa heran. Usut punya usut, ternyata Ustaz A yang biasanya mengisi kajian mingguan tersebut aktif membuka sesi tanya-jawab, dan menjawab segala pertanyaan yang diajukan. Khas seperti pendakwah milenial dengan segala ketergesaan dalam memberikan fatwa dan hukum agama.

Ada dua fenomena yang ingin saya angkat di sini. Pertama, kecenderungan dai dan ustaz milenial untuk menjawab segala pertanyaan yang ada. Kedua, karakteristik jamaah yang bertanya.

Tidak Tergesa-gesa

Dalam tradisi Islam klasik kita tentu akan membaca banyak sekali literatur yang menerangkan tentang bagaimana kearifan seorang ulama ketika menghadapi pertanyaan dari murid dan orang awam. Salah satu yang masyhur adalah kisah Imam Malik Bin Anas yang menolak untuk menjawab pertanyaan yang belum beliau kuasai. Tak berhenti di situ, beliau juga sering menjawab persoalan dengan kata-kata ampuh yang berat sekali diucap oleh dai, ustaz, agamawan hari ini. Apa itu? "Aku tidak tahu."

Pernah juga, Imam Malik ditanya oleh seseorang dan beliau menjawab, "Aku tidak tahu." Lantas sang penanya bilang, "Perkara mudah gini saja tidak tahu." Imam Malik pun marah dan berkata dengan nada keras, "Tak ada dalam ilmu sesuatu yang remeh."

Apa yang dilakukan Imam Malik bukanlah sebuah apologi atas ketidaktahuannya. Tapi merupakan etika luhur untuk tidak tergesa-gesa dalam berfatwa dan menjawab problematika keagamaan. Karena agama harus dilandasi dengan ilmu, jika ilmu ini tercerabut dari hati seorang muslim, maka banyak terjadi kerusakan dan kesesatan di kalangan umat manusia.

Kehati-hatian para ulama ini bukan tanpa dalil, para sahabat dan tabi'in telah menerapkannya dalam menjawab persoalan. Ibnu Abbas dalam suatu riwayat pernah ditanya tentang kesunahan mandi dan memakai minyak wangi pada hari Jumat. Beliau menjawab, "Mandi di hari Jumat memang benar (sunah), adapun memakai wewangian saya tidak tahu."

Abdullah bin Mas'ud juga mengatakan hal senada dalam riwayat Abu Hurairah, beliau berkata, "Barang siapa yang tahu (urusan agama), maka dia harus mengatakan (kebenaran), tapi jika tidak, maka hendaknya berkata wallahu a'alam. Karena Allah berfirman kepada nabi Muhammad:

"Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak meminta imbalan sedikit pun kepadamu atasnya (dakwahku); dan aku bukanlah termasuk orang yang mengada-ada." (QS Shad ayat 86)

Ajaran mulia ini tentu bersumber dari akhlak mulia Nabi Muhammad SAW. Banyak permasalahan beliau jawab dengan kalimat, "Saya tidak tahu.'" Apakah hal ini mengurangi derajat kemuliaan Nabi? Apakah hal ini menjadi aib karena Nabi tidak tahu? Tentu tidak sama sekali. Justru inilah pembelajaran Nabi Muhammad kepada umatnya yang didikte langsung oleh Allah bahwa urusan agama itu urusan yang agung, dan mirisnya, kita mulai melupakan manhaj an-nabawi (metode kenabian) ini dan dengan sombongnya kita merasa tahu segalanya.

Semangat Bertanya

Fenomena kedua adalah munculnya antusiasme masyarakat dalam mempertanyakan urusan agama. Hal ini tentu berakar dari latar belakang dan kondisi sosial masyarakatnya. Di kota-kota besar sudah mulai marak pengajian dan kajian rutin yang di akhir acara memberi ruang untuk bertanya. Kadang takmir atau panitia membatasi pertanyaan harus sesuai dengan tema kajian, atau membebaskan penanya bertanya apapun.

Mereka yang sehari-harinya berkutat dalam kesibukan pekerjaan mencari kepuasan dahaga lewat kajian-kajian yang mencerminkan Islam begitu hitam-putih; kalau tidak salah ya benar, bidah-kafir, dan ketidakmampuan memberikan alternatif jawaban yang mendamaikan.

Di sisi lain, ustaz, dai, dan agamawan dituntut untuk bisa menjawab segala pertanyaan yang diajukan. Hal inilah akar dari problematika yang ingin saya angkat. Masyarakat ingin mendengar jawaban yang puas dan pas di hati mereka, sementara para dai ada rasa gengsi, takut, tertekan apabila tidak bisa menjawab dan tidak berani mengakui ketidaktahuan. Sehingga begitu sembrono berbicara hukum agama tanpa berpikir konsekuensi jangka panjangnya.

Ada juga penanya yang bertanya dengan tujuan untuk mengetes ilmu agama sang dai. Ketika ia bisa menjawab, mereka bertepuk tangan, tapi ketika ia tak bisa menjawab, mereka akan mencibir, kecewa, hingga sampai pada satu titik mereka berhenti mengikuti pengajian dai tersebut dan beralih ke pengajian lain yang dapat memuaskan nafsunya dalam beragama. Sungguh miris sekali ketika agama menjadi komedi dan para ustaz, kai, dan dai sebagai komikanya.

Pertanyaannya, apakah agama Islam mengajarkan hal demikian?

Dalam tradisi pesantren, tentu kita akan menemukan hal-hal seperti di atas. Karena salah satu hal paling dasar yang diajarkan para kiai adalah akhlak. Bagaimana para santri menghormati gurunya dan para ahli ilmu, bahkan sampai pada menghormati keluarganya. Daya kritis dibangun berlandaskan pemahaman yang dalam atas ilmu. Jadi, dalam doktrin pesantren, adab dan tata krama di atas ilmu.

Tentu kita ingat bagaimana akhlak penuntut ilmu ketika bertanya kepada gurunya, mereka bertanya ketika dipersilakan. Atau ketika mereka tidak paham atas materi yang disampaikan. Maka tak heran jika kita banyak menemukan kitab dan buku yang dikarang para ulama berasal dari pertanyaan seorang santri kepada gurunya. Bayangkan, jika itu diterapkan di pengajian-pengajian masyarakat urban perkotaan.

Ali Ahmad Tahtawi menegaskan dalam bukunya Fatawa Ar-Rasul bahwa sebagian adab dan etika orang yang bertanya kepada ahli ilmu, guru, mufti adalah hendaknya seorang penanya memandang sang guru dengan pandangan kasih sayang, bukan pandangan kebencian. Tahtawi melanjutkan, seorang penanya tidak diperkenankan bertanya hal-hal yang menjatuhkan dan mendiskreditkan pribadi sang guru.

Dua hal di atas inilah jawaban atas keresahan yang saya rasakan di awal atas apa yang menimpa teman saya. Masyarakat begitu semangat bertanya, hingga melupakan perasaan yang ditanya. Banyak juga ketika sang ustaz berbeda pandangan dalam satu masalah, mereka yang kebanyakan tidak tahu langsung menghujat dengan kasar, bahkan ada yang sampai diusir. Terutama ketika pertanyaan berupa pandangan politik, jamaah bisa begitu beringas dan mudah disulut dengan bumbu politisasi agama.

Untuk menutup keresahan ini, saya kutipkan kredo dari pemikir dan cendekiawan muslim kontemporer dari Mesir, Abbas Mahmoud Aqqad, untuk memberikan semacam pengingat atas gejala keagamaan di atas.

''Umat yang masif menyuarakan kebenaran dan lantang mengkritik dan melawan kebatilan, maka akan selamat dari sebab-sebab yang menghantarkan mereka kepada kehancuran.''




(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com