detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 29 Oktober 2019, 16:22 WIB

Sentilan Iqbal Aji Daryono

"Instant Karma" dan Ketakberdayaan Kita

Iqbal Aji Daryono - detikNews
Instant Karma dan Ketakberdayaan Kita Foto: Iqbal Aji Daryono (Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Orang satu itu, Charlie namanya, memang menyebalkan. Dia berkali-kali tertangkap kamera tengah menantang kawannya untuk bertinju di luar ring. Tapi cuma dua-tiga detik selepas ia sodorkan sepasang sarung tinju kepada si kawan, Charlie sendiri sudah mulai melancarkan pukulan-pukulan.

Si kawan, atau yang sudah menjadi lawan itu, kontan gelagapan. Tentu saja ia belum siap. Tapi Charlie terus memberondongkan jab dan hook-nya. Lawannya sampai jatuh terjengkang, padahal dari semula sudah berteriak panik, "Hei! Hei! Kamu kenapa, Charlie? Ini kan cuma main-main!"

Kejadian semacam itu bukan cuma sekali-dua kali. Ada kalanya Charlie menantang orang yang posturnya tampak ringkih, menghajarnya dengan cepat, namun tak jarang pula ia memangsa lawan yang badannya lebih besar dibanding dirinya.

Sialnya, Charlie memang jagoan. Dia menggebuk tanpa ampun siapa pun di hadapannya. Tentu, tetap dengan cara-cara yang menyebalkan.

Lantas kisah penutupnya pun tiba. Seorang pemuda bongsor berkulit gelap datang menantang Charlie. Mereka pun berduel di atas ring, di sebuah pusat kebugaran. Bak-buk-bak-buk, kali ini Charlie keteteran. Ia tak bisa mengatasi anak muda itu. Charlie terus mencoba merangsek, dan si anak muda dengan entengnya menangkis setiap pukulan Charlie.

Charlie, yang terbiasa menang melawan siapa saja, dan terbiasa dengan seenaknya memukuli siapa saja, tampak begitu mendongkol. Dia ngambek, melompati tali ring, lalu keluar meninggalkan si pemuda berkulit gelap.

Tapi cerita belum berakhir. Si pemuda mengejar Charlie, diiringi sorak-sorai banyak orang yang berkerumun di sekitar mereka. Charlie terpojok tak bisa lari, dihujani bogem mentah si pemuda legam, sampai ia tersungkur, terus dipukuli, hingga kemudian di titik kritis seseorang memisahkan keduanya.

Semua tertawa. Sepertinya semua lega. Seorang pahlawan telah datang memberikan pelajaran kepada lelaki sok jago yang menyebalkan namun tak terlawan. Cerita pun berakhir dengan happy ending, sambil seolah semua mulut berteriak, "Mampus kau, Charlie! Rasakan! Makanya jadi orang jangan sok-sokan! Hahaha!"

Video kompilasi semua adegan itu bertebaran di Youtube dan Facebook dalam entah berapa versi, dan setiap versi selalu menangguk penonton mulai puluhan ribu hingga jutaan. Bahkan, video terakhir tentang kisah itu yang (lagi-lagi) saya tonton telah memajang angka kunjungan 15 juta kali!

***

Video ala-ala kisah Charlie itu ada banyak sekali. Ratusan adegan bertebaran di internet dengan jenis serupa. Ada para petarung MMA yang bermulut comberan, mengobral umpatan dan ejekan kepada lawan, kemudian di atas ring si mulut besar itu ternyata tumbang dalam sekali sambar. Ada pula pengemudi di jalan yang kebanyakan lagak, tapi tiba-tiba karena ulahnya itu mobilnya malah nyungsep menubruk entah apa. Tak jarang pula muncul adegan perampok yang justru dibekuk oleh calon mangsanya sendiri.

Instant karma. Ketik saja istilah itu di Youtube, maka variasi video yang tersaji di hadapan Anda akan lebih memuaskan daripada video-video prank. Biasanya ada kata kunci lain, mulai instant justice, life karma, bully fails, hingga when you mess with wrong person. Dan hampir semua video jenis begitu meraup jumlah penonton yang gila-gilaan.

Saya tidak sedang memberikan ide kepada Anda untuk menyaingi Atta Halilintar. Ini bukan pemetaan segmen pasar iklan Youtube. Saya cuma ingin mengajak Anda untuk mencermati situasi psikologis komunal yang ada di balik betapa larisnya video-video instant karma.

Saya sendiri penonton video begituan. Bahkan pada beberapa kesempatan, saya jatuh menjadi pecandu, bukan lagi sekadar penonton. Bisa berjam-jam sekali duduk saya menyimak video-video kompilasi instant karma, dan sangat sulit berhenti. Dan itu bukan cuma sekali. Berkali-kali.

Melihat meledaknya jumlah penonton yang tertera di angka viewers baik di Youtube maupun video Facebook, saya tak kuasa menolak dugaan bahwa di muka bumi ini ada banyak sekali orang yang menyimpan dendam. Dendam itu menggumpal, mungkin bertahun-tahun, belasan tahun, puluhan tahun, dan tidak terlampiaskan. Dendam kepada orang lain, dendam kepada keadaan, dendam kepada nasib.

Dunia tidak ramah kepada semua orang. Ada kalanya muncul para pecundang yang terus dihajar habis-habisan oleh dunia dan kehidupan, tanpa sedikit pun mampu melawan. Ada juga orang yang tampak hidupnya sempurna, namun menyimpan bara api dari masa lalunya.

Mereka tak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasi itu semua. Mereka tak berdaya. Yang dapat mereka lakukan hanyalah mengumpat habis-habisan, lalu duduk dengan khidmat, memegang HP di tangan masing-masing, kemudian berjam-jam menonton video kompilasi instant karma. Lalu mereka tertawa lega, barangkali sedikit merasakan bahagia.

Lewat video instant karma, diam-diam mereka menitipkan skenario pembalasan dendam mereka sendiri. Tak ada yang dapat mereka lakukan di dunia nyata, maka mereka menumpang pada imajinasi-imajinasi terliar yang masih dapat dibayangkan. Charlie-Charlie dalam ratusan video itu adalah monster yang pernah menyakiti mereka. Adapun si pemuda berkulit gelap yang menghantam pelipis Charlie adalah alter ego para pecundang, penyimpan bara api yang lama tertahan-tahan.

Saya sendiri sangat menyukai video-video instant karma. Jika Anda bertanya saya punya dendam macam apa, rasanya saya juga tidak benar-benar tahu jawabannya. Tapi kalau bawah sadar saya dibongkar habis, saya pun tak yakin, betulkah saya tak punya dendam apa-apa?

Sepertinya ada. Dendam yang mengerak, dari sepotong masa lalu, dan saya tak punya kekuatan secuil pun untuk membalaskannya.

Saya yakin, ada jutaan manusia Indonesia yang menyimpan dendam. Mereka semua pecundang diam-diam. Mereka semua pasti sangat suka video instant karma.

Tentu populasi ini tidak mencakup orang-orang dari jenis Nia Ramadhani, yang tak bisa mengupas buah salak dan pernah kesasar di rumahnya sendiri. Tetapi kita, para penonton Nia Ramadhani, para penonton sandiwara setiap hari, adalah pasar yang rentan kecanduan video-video instant karma. Sebab kita menyimpan dendam, dari waktu ke waktu terus dihajar oleh para kreator dendam, tapi kita tak punya daya untuk melampiaskan.

***

Lima tahun terakhir, kita dijebak dalam perkelahian-perkelahian yang menancapkan dendam demi dendam. Ada berapa kehancuran sendi-sendi sosial yang terjadi karena akumulasi perkelahian itu? Ada berapa tudingan dan amarah antar-saudara dan antar-tetangga yang diletupkan? Ada berapa perceraian antar-pasangan? Ada berapa pemutusan perkawanan? Bahkan, ya Tuhan, ada berapa kematian?

Setelah semua paket sandiwara itu, kita membayangkan satu akhir cerita yang indah permai: ketika kebaikan menang di atas kejahatan. Kita memimpikan hasil yang nyata dari segenap perjuangan, perjuangan yang diam-diam membuat kita mengorbankan beberapa sisi terbaik dari kehidupan.

Namun ternyata ada yang meliuk tajam dari jalinan cerita di ujung sana. Semua peta berubah. Jauh, jauh sekali dari sangkaan kita. Orang-orang itu, yang semula tampak keras berlawanan, ternyata cuma saling berbagi jarahan. Kita pun menontonnya bersama-sama dengan ternganga. Bingung. Tak paham. Sambil melirik kawan bergelut yang sama-sama kebingungan di sudut sana, kita bertanya: lalu untuk apa semua energi ledakan yang selama ini kita curahkan habis-habisan?

Kita pun marah. Kecewa. Kecewa sekali. Merasa dipermainkan dan disakiti.

Tapi, kita bisa apa? Tak ada yang kita bisa. Tak ada sama sekali. Mengamuk? Mengamuk kepada orang-orang yang telah menyulap kita menjadi bidak-bidak halma? Memangnya apa yang kemudian bisa kita lakukan kepada mereka? Tidak ada, bukan? Ya, tidak ada. Benar-benar kita ini tak berdaya. Kita cuma bisa tertawa kecil, sedikit mengumpat, sambil menekuri seribu kekonyolan yang telanjur kita lakukan.

Akhirnya kita melangkah gontai, menyambar telepon pintar yang selalu membuat kita jauh dari pintar, lalu duduk senyaman mungkin, untuk selanjutnya selama berjam-jam menonton puluhan video instant karma. Cuma di situlah kita bisa menitipkan kejengkelan-kejengkelan kita.

Iqbal Aji Daryono esais, tinggal di Bantul


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com