Kolom

Meninjau Ulang Sikap Kita atas Bahasa

Arief Balla - detikNews
Senin, 28 Okt 2019 13:05 WIB
Foto: Thinkstock
Jakarta -

Di Terminal Mallengkeri Makassar, saya hendak mudik dan kebetulan bertemu seorang kawan dari kampung. Saya mengajaknya mengobrol dalam Bahasa Bugis dan ia langsung memotong,

"Jangan mi pake Bahasa Bugis, Bahasa Indonesia saja."

Di sebuah waktu yang lain, seorang pemuda dari kampung saya berangkat kuliah ke Jakarta. Tak cukup lama, gaya bahasanya mulai berubah ala Jakarta. "Gue...gue...loe...loe...." Ia menggunakannya tidak hanya saat menulis status di sosial media, tetapi juga kepada orang-orang di kampung. Mereka pun setengah tak mengerti karena tak karib dengan gaya bahasa anak Jakarta.

Sementara itu Bahasa Indonesia juga dapat digeser oleh Bahasa Inggris. Di kota-kota besar jamak kita temui orang-orang --umumnya pejabat, tokoh publik, dan anak muda-- senang menyelip-nyelipkan istilah Bahasa Inggris meski sebenarnya memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia. Tak hanya di Tanah Air, di luar negeri beberapa mahasiswa baik tergabung di Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) lebih cenderung berbahasa Inggris ketika bertemu sesama orang Indonesia meski sebenarnya tak perlu keminggris.

"Aneh sebenarnya sebab kita kan sesama Indonesia, ngapain Bahasa Inggris kalau bisa Bahasa Indonesia saja," Kata seorang kawan sambil memperlihatkan chat WA di salah satu grup Permias.

Sebenarnya dengan bahasa apapun adalah pilihan. Pilihan tak terlepas dari cara kita memandang bahasa. Dan tentu, pilihan juga memiliki konsekuensi. Salah satunya terancam punahnya bahasa daerah atau tergusurnya bahasa Indonesia oleh Bahasa Inggris. Ujung-ujungnya kita membuat kasta superioritas bahasa sendiri. Bahasa lokal menjadi korban perkembangan Bahasa Indonesia dan Bahasa Indonesia seolah secara hierarki berada di bawah Bahasa Inggris. Dan tentu bahasa mempengaruhi pikiran dan cara kita berpikir, kata Sapir dan Whorf.

Thomason, seorang pakar sosiolinguistik yang pertama kali mendalami fenomena "language contact", menyebut sikap ini sebagai "language attitude" --cara kita bersikap terhadap bahasa. Hal inilah yang turut berperan terhadap perubahan bahasa yang terjadi ketika dua atau lebih bahasa mengalami interaksi. Sebuah fenomena yang tentu tak terelakkan.

Bagi Thomason, seberapa besar penghargaan kita terhadap bahasa menentukan seberapa besar keinginan untuk lebih memilih berbahasa tertentu daripada yang lain. Mufwene, seorang pakar linguistik di University of Chicago kelahiran Kongo, menyatakan hal serupa. Baginya, seorang anak memilih berbahasa tertentu bukan hanya karena proses linguistik itu sendiri, tetapi keadaan sosial turut andil menentukan.

Saat kita memiliki kemampuan multilingual, semisal bahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, bisa jadi kita memiliki perlakuan yang berbeda kepada satu dan yang lainnya. Bahasa-bahasa yang kita kuasai tidak berkompetisi dengan sendirinya. Sikap kita berpengaruh apakah bahasa tersebut cenderung dipertahankan atau tidak. Hal ini juga termasuk bahasa apa yang hendak kita ajarkan kepada anak kita.

Bahasa daerah kalah prestisius daripada Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Anak-anak tidak diajarkan bahasa daerah. Tak hanya karena Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris lebih menjanjikan secara ekonomi untuk masa depan, tetapi kemampuan berbahasa daerah bukanlah hal yang perlu dibanggakan. Jika seorang anak mampu berbahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, maka akan dianggap hebat, cerdas, dan keren. Sebaliknya jika bahasa pertamanya Bahasa Indonesia lalu mampu berbahasa daerah, maka dilihat biasa saja.

Kasus yang mirip dicontohkan Thomason di Amerika Serikat. Jika seorang penutur asli Bahasa Inggris multilingual dengan mampu berbahasa selain berbahasa Inggris, maka dipandang intelek, cerdas, dan istimewa. Sebaliknya jika imigran yang bukan penutur asli Bahasa Inggris --utamanya Black American dan Latino-- lalu mampu berbahasa Inggris, maka dipandang biasa saja, bukan simbol kecerdasan atau kehebatan.

Padahal semua bahasa sama saja. Nilai bahasa sama antara satu dengan yang lain. Bahwa ada yang lebih terkenal daripada yang lain, tak lepas dari sejarah dan kebijakan politik. Persepsi kita juga dibentuk oleh asumsi yang dibangun di tengah masyarakat dan tentu tak lepas pula dari kebijakan pemerintah.

Di era Soeharto, Bahasa Indonesia menjadi bagian pembangunan nasional. Bahasa Indonesia gencar dipromosikan. Ia pun sering digunakan orang-orang terdidik dan pejabat dan tentu orang-orang di kota. Bahasa Indonesia lalu dianggap sebagai simbol kemajuan dan modernitas. Sikap ini berkembang hingga kini dan sukses menggusur bahasa daerah. Prof Nurhayati Rahman, seorang budayawan Bugis, menyebut penyebaran Bahasa Indonesia di daerah tanpa mempedulikan bahasa lokal adalah salah satu penyebab terancamnya eksistensi bahasa daerah seperti Bugis-Makassar.

Sementara, Bahasa Inggris dianggap lebih keren dan simbol intelektualitas dimulai sejak 1966. Bahasa Inggris perlahan-lahan menggeser Bahasa Belanda yang sebelumnya dianggap juga oleh bahasa elit. Bahasa yang sering dipakai orang-orang terdidik dan menjadi penanda strata pendidikan.

Seiring dengan waktu, Bahasa Inggris semakin memiliki pengaruh terhadap perkembangan Bahasa Indonesia. Sneddon (2003) membandingkan jumlah leksikon yang diambil dari Bahasa Inggris. Ia mencatat pada 1966 hanya 126 kata sifat dan 39 kata kerja. Jumlah ini meroket tajam pada 1996 dengan 600 kata sifat dan 500 kata kerja diserap dari Bahasa Inggris.

Status Bahasa Inggris semakin diperkuat oleh sikap pejabat yang sering menyusupkan Bahasa Inggris terutama ketika mereka berbicara dengan wartawan. Wartawan mengutipnya. Dan persepsi bahwa Bahasa Inggris adalah bahasa elit dan menjadi penanda intelektualitas semakin mengakar kuat sampai kini.

Sikap serupa juga dimiliki tokoh bahasa yang turut mengembangkan perkembangan Bahasa Indonesia. Alisjahbana dan Moeliono adalah dua tokoh yang berperan penting dalam penyusunan perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Meski keduanya sama-sama progresif, Alisjahbana lebih cenderung memilih sumber-sumber dari Eropa atau Barat sementara Moeliono lebih mengutamakan dahulu sumber dari Bahasa Melayu (Sneddon, 2003).

Beberapa kata yang berhasil diperkenalkan Moeliono seperti 'suku cadang' daripada 'onderdil' (Bahasa Belanda) atau 'mantan' dari Bahasa Besemah dialek Sumatra yang merujuk pada 'ex, former' (Bahasa Inggris). Dalam perluasan maknanya kini, kata 'mantan' tentu lebih pas daripada 'eks' untuk merujuk pada bekas pacar misalnya.

Sebenarnya perubahan bahasa adalah dinamika yang tak terhindari. Namun yang salah kaprah seringkali adalah menempatkan bahasa tidak pada tempatnya. Bahasa digunakan untuk gagah-gagahan sembari memandang remeh, kalau bukan rasis, yang lain. Bahasa digunakan sebagai simbol kecerdasan dan kebanggaan yang berlebihan, tetapi kehilangan substansi dan esensi pembicaraan.

Pada sebuah waktu misalnya dalam debat tim sukses calon presiden 2019 lalu di Mata Najwa, Mardani Ali Sera menyelipkan sebuah kalimat Bahasa Inggris penuh untuk mendukung argumennya sehingga tampak meyakinkan dan valid. Namun, konten argumennya kosong belaka sebab yang ditanyakan Najwa adalah rekam jejak yang relevan untuk presiden, namun ia sibuk menyebutkan keberhasilan Prabowo saat mendaki Gunung Everest. Di kesempatan yang lain, Ali Mochtar Ngabalin, tim sukses Jokowi, juga pernah menyelipkan istilah Bahasa Inggris yang ia sendiri tak paham apa maksudnya.

Terlepas dari bahasa adalah pilihan masing-masing, kita sepatutnya menempatkan bahasa pada koridornya masing-masing tanpa perasaan superior-inferior. Bahasa tidak sepatutnya dilihat lebih tinggi sembari merendahkan bahasa yang lain terutama bahasa sendiri seperti bahasa lokal. Sikap kita yang mendiskriminasi bahasa daerah telah berhasil dengan gemilang memunahkan bahasa daerah yang seharusnya jadi aset budaya tak ternilai.

UNESCO menyebut 143 bahasa lokal, sebagian besar di Indonesia Timur, dalam ancaman kepunahan. Bahasa lokal lain seperti Bugis-Makassar dalam waktu 25-50 tahun akan punah menurut Balai Pusat Bahasa Jakarta. Salah satu penyebabnya adalah orangtua tak mau mengajarkan bahasa daerah pada anaknya karena takut tertinggal.

Padahal studi justru menunjukkan bahwa anak multilingual, semisal dapat berbahasa daerah, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, memiliki potensi kecerdasan lebih baik daripada anak monolingual. Hal ini sebab anak multilingual otaknya lebih aktif bekerja sehingga dapat memaksimalkan fungsi otak. Nia Nacamulli dalam presentasinya di TED Talk menyebut anak multilingual memiliki kemampuan memecahkan masalah lebih baik, meningkatkan kreativitas, meningkatkan kemampuan memori, memiliki tingkat rasa empati yang lebih, lebih sensitif pada suara-suara baru, dan meningkatkan intelegensi (IQ).

(mmu/mmu)