detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 27 Oktober 2019, 15:26 WIB

Jeda

Politik dan Kekecewaan-Kekecewaannya

Mumu Aloha - detikNews
Politik dan Kekecewaan-Kekecewaannya Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Ketika Soeharto mengumumkan susunan kabinetnya setelah Pemilu 1977, perhatian media dan publik segera tercurah pada sosok-sosok menteri yang rata-rata dinilai berusia relatif muda. Ini menimbulkan sensasi dan harapan tersendiri, sebab di samping tuntutan kemampuan, profesionalitas, serta kecocokan antara penguasaan keterampilan dan latar belakang pendidikan seseorang dengan kursi kementerian yang didudukinya, faktor usia memang selalu menarik perhatian.

Tanpa bermaksud memiripkan Jokowi dengan Soeharto, ketika Kabinet Indonesia Maju diumumkan tempo hari, hal yang kurang lebih sama terjadi. Sejumlah menteri yang dipilih diketahui berusia muda, seperti telah dijanjikan sebelumnya, dan itulah antara lain yang menjadi salah satu yang disambut gembira dan banyak diperbincangkan oleh publik. Sekali lagi, tentu saja, ditambah dengan faktor-faktor kemampuan, keahlian dan kecocokan itu tadi.

Namun, bagaimanapun, faktor usialah yang paling menarik, karena yang lain-lainnya itu baru bisa terlihat dan terbukti nanti kalau sudah bekerja. Sedangkan usia adalah sesuatu yang jelas-jelas bisa dipastikan saat ini, dan lebih bisa untuk dijadikan semacam ancang-ancang bagi ditaruhnya harapan-harapan baru terhadap para menteri tersebut.

Era digital seakan memang "menyingkirkan" mereka yang sudah berusia "tua", karena dipandang tidak lagi kompatibel dengan zamannya. Mereka diistilahkan sebagai kaum "migran", yang mendapati teknologi digital sebagai sesuatu yang baru dan harus dipelajari (sehingga tak jarang melahirkan kegagapan), sedangkan anak-anak muda itu disebut sebagai kaum "native", yang lahir dan tumbuh dalam budaya yang telah berubah tersebut.

Ungkapan lama yang mengatakan bahwa "usia membawa pengalaman" barangkali sudah tak terlalu menarik, karena faktanya, dunia telah banyak berubah. Hal-hal yang dulu dilihat sebagai sesuatu yang melekat dalam perbandingan lurus dengan usia, seperti kearifan, kebijaksanaan, dan keuletan kini seolah menjadi kurang relevan, karena teknologi tidak hanya mengubah segalanya, tapi juga menyediakan segalanya. Pendek kata, jargonnya sekarang adalah serahkan pada anak muda, habis perkara.

***

Pasti ada yang langsung berseru, tidak sesederhana itu. Ya tentu saja. Memang segalanya selalu tidak sesederhana yang bisa diucapkan. Sebab, apapun alasannya, muda saja tetap tidak cukup. Dan, itu baru satu hal. Belum hal-hal lainnya. Masih banyak pertanyaan. Mengapa Prabowo? Mengapa memberi jabatan pada lawan politik? Mengapa menempatkan orang militer sebagai Menteri Agama? Mengapa si A tidak dipilih lagi (padahal hasil kerjanya bagus)? Mengapa si B tidak diberi kesempatan (padahal sejak awal berada di barisan pendukung)? Mengapa begini, mengapa begitu?

Maka, kekecewaan pun merebak di sana-sini sesaat setelah susunan menteri Kabinet Indonesia Maju diperkenalkan kepada publik. Cak Imin kecewa (dengan cara menyindir lewat pantun), NU kecewa, Muhammadiyah kecewa. Pegiat dan aktivis HAM kecewa. Bahkan Projo pun, yang setia mengawal Jokowi sejak pencalonan sebagai Gubernur DKI pada 2012, juga kecewa dan langsung mengumumkan pembubarannya, ikhlas melepas junjungannya "berjalan sendirian" karena merasa sudah tidak dibutuhkan lagi.

Jika lima tahun lalu, pada periode pertama terpilihnya Jokowi, yang menjadi bintang panggung adalah Susi Pudjiastuti (tidak lulus SMA, bertato, dan merokok), pada jilid dua terpilihnya kembali Jokowi kali ini, yang menjadi "rol"-nya adalah Nadiem Makarim. Muda, ganteng, sukses mendirikan start-up yang berhasil mencapai status decacorn pertama di NKRI, lulusan Harvard --kurang apalagi? Tapi, menjadi "rol" juga tidak cukup untuk membuat sejumlah pihak tidak kecewa. Mengapa "orang bisnis" ditempatkan sebagai Menteri Pendidikan? Maka, konon, dosen-dosen dan kalangan pendidik pun kecewa.

Menjadi "rol" ternyata tidak gampang. Kabinet bukan panggung ketoprak, yang untuk menjadi "rol" cukup hanya bermodal muda, ganteng, dan pintar. Istilah "rol" memang berasal dari dunia seni pertunjukan tradisional Jawa untuk menyebut bintang panggung. Tapi, apa bedanya? Pengumuman nama-nama menteri memang selalu menjadi "pertunjukan" yang paling ditunggu-tunggu dari rangkaian pemilu. Setelah tahu presiden dan wapres terpilih, setelah berbagai drama perselisihan kecurangan, setelah presiden dan wapres terpilih resmi dilantik, maka puncak dari seluruh tontonan politik rakyat itu adalah susunan menteri kabinet.

Inilah bagian yang paling benar-benar bisa menyatukan dua kubu pendukung yang sebelumnya berseteru. Bila sebelumnya pertemuan antara Jokowi dan Prabowo di Stasiun MRT masih menyisakan kasak-kusuk, sinisme, dan keraguan; jika sebelumnya acara pelantikan presiden dan wapres terpilih masih memunculkan kampanye "matikan TV seharian" di media sosial sebagai semacam bentuk "boikot" akibat belum pulihnya kekecewaan; maka pengumuman menteri adalah episode yang tak seorang pun ingin melewatkannya, karena inilah puncak dari seluruh rangkaian "ketoprak politik" lima tahunan itu.

Pengumuman menteri adalah titik balik ketika rakyat menyadari bahwa pertunjukan telah berakhir. Tak ada lagi hak memilih, hak memberikan suara, mencoblos gambar....semua kembali menjadi penonton --yang gembira, bersorak, bersungut-sungut, puas, ragu, berharap, putus asa, berdiri di depan panggung, memuji, mengomel, tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala penuh makna penerimaan dan persetujuan atau melengos, bertepuk tangan atau langsung berbalik badan, pergi, dan tak kembali.....

***

Pada akhirnya inilah politik. Kau mendukung mati-matian calonmu, jagoanmu, dengan segala sikap fanatik, lalu semua berakhir begitu saja ketika junjungan masing-masing saling berangkulan, foto bersama, dan berbagi jabatan. Kau menganggap orang yang punya pilihan politik berbeda denganmu sebagai musuh yang harus diperangi, lalu segala yang pernah kau bela dengan membabi buta itu ternyata tidak membela pilihanmu.

Kita telah menggelar pemilu dengan biaya yang sangat besar, sampai banyak petugas meninggal dunia karena kelelahan, dan di antara kita saling lempar tuduhan kecurangan, protes turun ke jalan, bentrok berdarah-darah, lalu semuanya selesai, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa pada hari-hari kemarin, seolah semua ini hanya soal bagi-bagi kursi, dan semua mendapatkan bagiannya.

Bila sudah begini, kita bisa apa? Di hadapan politik, di depan kekuasaan, kita selalu tak berdaya. Kita berikan suara untuk sesuatu yang kita yakini, kita pertahankan sampai titik darah penghabisan, lalu kita kecewa. Memang, keberuntungan selalu ada; ada yang belakangan ternyata mendapat jatah jabatan wakil menteri, dan "mencabut" kekecewaannya (dan tidak jadi membubarkan diri). Selebihnya, bagi rakyat yang banyak, tidak ada siapa-siapa di luar sana. Tidak teman, tidak juga musuh. Hanya kita sendiri, ditinggalkan, dan kesepian.

Lalu kita hanya bisa terduduk, kelelahan, sambil menggumamkan sebaris puisi sedih yang tiba-tiba terlintas kembali di ingatan: tak perlu berdebat lagi, kita bertukar saja tempat/ sangkar itu kosong, dan kita bikin ranjang untuk kantuk yang tertunda// sebenarnya, apakah yang kita perebutkan?/ hingga kuyup tubuh ini, hingga letih kita, oleh/ keinginankeinginan kosong// sesungguhnya kita hanya ingin berebut tempat/ dalam sehalaman buku sejarah, yang mungkin/ hanya akan kita tulis dan kita baca sendiri.*)

*) dari puisi Sebuah Radio Kumatikan - fragmen ke 23 karya Dorothea Rosa Herliany

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com