Pinker, Harari, dan Dunia Kita

Kolom

Pinker, Harari, dan Dunia Kita

Aliurridha - detikNews
Minggu, 27 Okt 2019 12:28 WIB
Foto: AP Photo
Foto: AP Photo
Jakarta -

"Dunia telah menjadi lebih baik," begitu kata Steven Pinker. Dengan berbagai data yang ia sajikan dalam berbagai bukunya, Pinker yang seorang ahli bahasa dan juga ilmuwan bidang psikologi kognitif yang kerap melihat fenomena dunia dalam skala global menunjukkan berbagai data dunia yang menurutnya kian ramah. Kekerasan berkurang, perang tidak ada, orang miskin berkurang, kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin berkurang drastis dibandingkan tahun-tahun yang lalu. Ia adalah seorang optimistik atau mungkin datanya kurang, mungkin juga Indonesia luput dalam pengawasannya.

Berbeda dengan Pinker, Yuval Noah Harari sebaliknya adalah seorang pesimistik yang melihat dunia selalu lewat sudut pandang pesimismenya. Ia mengulas berbagai kejadian yang menurutnya genting. Penulis berbagai buku best seller ini kerap membahas ketimpangan relasi antara dunia Barat dan Timur, merosotnya demokrasi liberal, menguatnya konservatisme agama, kebanggaan ras, fasisme, hingga kebangkitan digital dictatorship yang diinisiasi oleh perkembangan teknologi dalam setiap bukunya.

Keduanya melihat fenomena yang sama dalam skala global, namun dari dua sudut pandang yang bertentangan. Suatu fakta yang tidak terbantahkan bahwa terjadi penurunan drastis kematian akibat pembunuhan, perang, terorisme, kekerasan, kelaparan yang mana merupakan sesuatu yang sangat positif menurut Pinker. Harari justru melihat dari sudut pandang berbeda bahwa kematian akibat pembunuhan, perang, terorisme, kekerasan, kelaparan jika digabungkan tidak bisa menggantikan kematian akibat bunuh diri.

Dari fakta itu Harari menyimpulkan bahwa dunia sebenarnya belum berubah ke arah yang lebih baik, hanya menggeser penyebabnya. Justru kematian akibat bunuh diri menunjukkan bahwa manusia pada masa ini justru lebih rentan, lebih tertekan, dan lebih keras hidupnya; bukan kekerasan fisik, namun kekerasan yang dilakukan justru tanpa melibatkan fisik.

Harari selalu melihat celah kecil di balik optimisme yang disajikan Pinker. Ia selalu melihat bahwa dengan mata kritisisme yang tajam berbeda dengan Pinker yang selalu cerah dan berbinar-binar. Jika Harari selalu tersenyum dan berbicara dengan nada sinikal, Pinker selalu tersenyum dengan nada ramah dan berseri.

Harari tidak mengesampingkan bahwa dunia sudah lebih sejahtera dan tenteram daripada abad-abad sebelumnya. Manusia lebih sehat dan lebih mampu menghindar dari wabah penyakit. Semua ini adalah berkah dari kearifan manusia. Namun ia selalu berpesan, jangan pernah menganggap remeh kedunguan manusia. Jika sekelompok kecil saja manusia membuat keputusan yang tidak bijak, perang bisa saja kembali. Dibutuhkan begitu banyak manusia bijak untuk membuat perdamaian namun cukup satu orang bodoh untuk memulai perang, demikian ucapnya.

Perihal perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan keduanya tidak kalah berseberangan. Pinker lewat bukunya Enlightenment Now menyebut abad ini sebagai abad pencerahan yang ditandai dengan pesatnya teknologi, ilmu pengetahuan, dan meluasnya persebaran informasi. Kesemua ini telah memudahkan hidup manusia dan memotong ongkos hingga waktu kerja manusia. Teknologi seperti mesin cuci misalnya bisa memotong jam kerja manusia yang pada 1920 bisa mencapai 11,5 jam, pada 2014 bisa menjadi 1,5 jam. Dengan ini manusia bisa semakin produktif dalam mengerjakan hal lainnya.

Pinker membahas teknologi dengan sangat positif; hanya membahas dampak baiknya ketimbang buruknya. Tidak berbeda, ia juga melihat bagaimana kecerdasan buatan merupakan sesuatu yang sangat baik dan manusia akan selalu mampu mengendalikannya. Ia berargumen dengan sangat optimis bahwa robot tidak akan pernah menggantikan eksistensi manusia.

Berkebalikan dengan Pinker, Harari justru melihat perkembangan teknologi yang begitu masif justru berbahaya. Dalam buku terbarunya, 21 Lessons for 21 Century, Harari menceritakan Partai Komunis Cina (PKC) mulai melakukan eksperimen dengan menggunakan kecerdasan buatan untuk memantau tindak tunduk warga negaranya. Terdapat 200 juta kamera pengawas yang terhubung pada perangkat digital di Cina untuk memberikan penilaian terhadap aktivitas yang dilakukan warganya.

Penilaian dihitung berdasarkan skor yang diberikan dari mana yang menjadi anjuran pemerintah dan tidak. Ketika seseorang melakukan sesuai yang dianjurkan maka mendapat poin, namun bila bertentangan maka nilainya dikurangi. Setiap warga negara yang mendapat skor yang baik akan diberikan penghargaan berupa tempat tinggal, waktu libur, hingga jaminan kepada masa depan anaknya, seperti jaminan beasiswa.

Namun jika apa yang dilakukan warganya bertentangan dengan saran pemerintah seperti seorang warga Cina bernama Lu Hu yang berprofesi sebagai seorang wartawan yang justru mengungkap praktik korupsi petinggi PKC dan mengungkap pembunuhan-pembunuhan misterius, justru dicabut fasilitas dan kemudahan untuknya. Hu bahkan tidak bisa menggunakan aplikasi untuk memesan tiket kereta api.

Selain itu Harari juga mencemaskan kecerdasan buatan yang mulai mengejar kemampuan manusia. Suatu saat kecerdasan buatan akan melampauinya manusia dan ketika itu akan memunculkan kelas baru, yakni kelas manusia tidak berguna. Selain itu manusia yang pada mulanya memiliki kuasa akan terdegradasi hingga menjadi sekedar data.

Skandal Cambridge Analytica adalah contoh yang paling konkret bagaimana pemilihan Presiden Amerika dikotori dengan memanfaatkan algoritma dari sosial media dan Youtube digunakan menetapkan preferensi politik para swing votters. Hal ini akan menyebabkan merosotnya demokrasi di mana preferensi politik seseorang bisa dimanipulasi dan bisa memunculkan apa yang ia sebut sebagai diktator digital yang lebih buruk dari semua rezim yang pernah tercatat dalam sejarah.

Perbedaan Pinker dan Harari juga menyangkut revolusi genetika. Pinker melihatnya lebih positif; ia melihat begitu banyak orang mulai sadar dan menolak makanan yang telah direkayasa dan mulai beralih ke organik. Jika orangtua saja menolak makanan produk tumbuhan atau hewan yang organik, mana mungkin akan membiarkan anaknya menjadi objek penelitian?

Namun mimpi utopis kebangkitan ras dan nasionalisme sebagai ideologi yang kian mengarah ke arah fasisme membuat Harari melihatnya bahwa revolusi genetika dan bioteknologi merupakan ancaman yang nyata. Keduanya menjadi berbahaya karena meskipun semua negara di dunia sepakat untuk tidak melakukan riset tentang revolusi genetika yang kemudian diujikan pada manusia dan ada satu saja negara yang melakukannya, maka negara lain tidak akan mau tertinggal dan juga melakukan hal yang sama karena keuntungan yang didapatkan sangat besar.

Dibutuhkan suatu kerja sama global untuk menangani masalah ini karena ini bukan lagi masalah internal negara, tapi telah menjadi masalah global. Harus muncul regulasi yang dipatuhi oleh semua negara, namun melihat bagaimana fenomena Brexit di mana Inggris menarik diri dari Uni Eropa sepertinya memperlihatkan kemunduran beberapa langkah. Selain itu tidak adanya basis filsafat untuk revolusi genetika, bioteknologi, dan kecerdasan buatan membuatnya menjadi susah untuk mengambil keputusan.

Pada kasus perubahan iklim, pemanasan global, dan nuklir masyarakat dunia bisa satu pandangan meski cara dan regulasi seperti untuk menanggulanginya belum ditemukan. Namun untuk revolusi genetika, bioteknologi, dan kecerdasan buatan masih terdapat berbagai pandangan yang berbeda antara manusia yang satu dan lainnya. Ketiganya mungkin merupakan impian bagi yang satu, namun mimpi buruk untuk lainnya.

Optimisme Pinker memang luar biasa dengan penampilannya yang mudah senyum, ramah, dan mata yang selalu berbinar membuat kita yakin bahwa dunia baik-baik saja. Tidak seburuk headline berita ataupun ramalan Harari. Namun tentu saja argumentasi Harari yang membuat kita selalu curiga dan skeptis terhadap segala hal ada baiknya dipertimbangkan.



(mmu/mmu)