Setiap permulaan suatu rezim berkuasa, rakyat sering berharap cemas menunggu "pasukan inti" yang akan duduk di kursi kabinet pemerintahan, yaitu siapakah para menterinya? Dengan segala dinamika manuver politik beserta kegaduhannya, terjawablah rasa penasaran itu seiring diumumkan dan dilantiknya para menteri Kabinet Indonesia Maju yang merupakan Kabinet Kerja Jilid II Pemerintahan Presiden Jokowi-Maruf Amin. Dari sekian banyak menteri yang ada, sosok "bos Gojek" Nadiem Makarim cukup menyedot perhatian publik. Setidaknya, hal tersebut tercermin dari banyaknya komentar di media massa maupun media sosial.
Ini adalah kali berikutnya Jokowi "bereksperimen" dalam penunjukan menterinya. Setelah sebelumnya publik cukup terpukau oleh kehadiran menteri "nyentrik" Susi Pudjiastuti yang "hanya lulusan SMP dan bertato", sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Kali ini, Jokowi menunjuk salah satu "icon" generasi milenial yang sangat sukses di Indonesia. Nadiem Makarim, seorang alumnus MBA Harvard Business School, sekaligus pendiri decacorn Gojek yang bernilai fantastis, di atas 10 miliar dolar AS (setara Rp 140 triliun) sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Link and Match
Saya sebenarnya sedikit merenung, apa alasan Jokowi mempercayakan Kemendikbud di tangan Nadiem? Sekilas membaca beberapa pernyataannya di media, Jokowi menginginkan seorang anak muda "milenial" membantunya sebagai menteri di kabinet berikutnya. Anak muda itu haruslah seorang yang out of the box. Munculnya Nadiem di Istana Negara beberapa hari lalu lengkap berseragam putih menguatkan keyakinan saya bahwa Nadiemlah orang yang dicari selama ini oleh Jokowi.
Tetapi, ketika memperhatikan pos menteri apa yang diserahkan kepada Nadiem, saya menjadi terperanjat, karena Nadiem menjabat seorang Mendikbud. Perkiraan saya, yang juga hampir sama dengan seluruh perkiraan publik, Nadiem bakal menjadi sosok menteri yang akan mengurusi dunia bisnis, investasi, atau kreativitas. Karena kesemua hal tersebut setidaknya merupakan legacy Nadiem saat ini.
Saya sebenarnya sedikit merenung, apa alasan Jokowi mempercayakan Kemendikbud di tangan Nadiem? Sekilas membaca beberapa pernyataannya di media, Jokowi menginginkan seorang anak muda "milenial" membantunya sebagai menteri di kabinet berikutnya. Anak muda itu haruslah seorang yang out of the box. Munculnya Nadiem di Istana Negara beberapa hari lalu lengkap berseragam putih menguatkan keyakinan saya bahwa Nadiemlah orang yang dicari selama ini oleh Jokowi.
Tetapi, ketika memperhatikan pos menteri apa yang diserahkan kepada Nadiem, saya menjadi terperanjat, karena Nadiem menjabat seorang Mendikbud. Perkiraan saya, yang juga hampir sama dengan seluruh perkiraan publik, Nadiem bakal menjadi sosok menteri yang akan mengurusi dunia bisnis, investasi, atau kreativitas. Karena kesemua hal tersebut setidaknya merupakan legacy Nadiem saat ini.
Saya pun kembali mencari rasionalisasi, mengapa Nadiem? Meskipun penunjukan seorang menteri terkadang "irasional" --karena adanya "pengaruh politik"-- tetapi saya percaya dari sekian banyak menteri yang berbau politis, sosok Nadiem bukanlah bagian dari pengaruh tersebut. Untuk dunia pendidikan, Jokowi berharap adanya suatu terobosan yang signifikan dalam pengembangan SDM. Khususnya, adanya link and match antara pendidikan dan industri, sehingga lulusan dunia pendidikan menjadi SDM yang siap kerja dan siap usaha ini "ada di wilayah Mas Nadiem", demikian pernyataan Jokowi.
Jadi, inilah alasan mengapa Jokowi menghadirkan sosok Nadiem di Kemendikbud. Artinya, kebijakan pendidikan ke depan adalah lebih memprioritaskan pada kesiapan lulusan ke dunia kerja dan usaha. Harapan itu Jokowi percayakan ke Nadiem untuk mewujudkannya.
Terobosan
Melihat besarnya angka generasi muda yang merupakan salah satu modal dasar pembangunan, tentu kegusaran Presiden dapat kita maklumi. Apalagi, bila modal dasar tadi ternyata nantinya tidak dapat diberdayakan secara optimal untuk pembangunan bangsa.
Tetapi, sejatinya pendidikan tidak hanya fokus menyiapkan peserta didik siap memasuki dunia kerja dan usaha. Ada tujuan-tujuan mulia lainnya, seperti pembentukan mental dan akhlak generasi muda bangsa. Barangkali, ini yang sudah pernah didengungkan "Revolusi Mental" pada era Jokowi sebelumnya. Meskipun, arah tujuan revolusi tersebut juga belum terlalu kelihatan hingga saat ini.
Penunjukan Nadiem sebagai Kemendikbud merupakan terobosan luar biasa yang dilakukan Jokowi. Karena kebiasaan selama ini, sosok Mendikbud adalah orang yang sebagian besar akrab dengan dunia pendidikan. Bukan berarti Nadiem tidak mengenal dunia pendidikan. Tentu sebagai orang yang lama mengenyam pendidikan modern di luar negeri, Nadiem memahami arti pentingnya kualitas pendidikan bagi masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebutlah, budaya mencontek (plagiarism) yang sangat tabu dalam dunia pendidikan Barat. Sementara potret tersebut masih lazim di dunia pendidikan kita. Persoalan klasik lainnya "ganti menteri ganti kebijakan". Belum lekang di ingatan kita, bagaimana keresahan yang cukup mengguncang dengan adanya kebijakan zonasi untuk siswa SD, SMP, dan SMA. Meskipun saya menangkap maksud baik pemerintah dengan kebijakan zonasi tersebut, tetapi "kebijakan kontroversial" tersebut menuai badai protes masyarakat yang demikian hebat.
Ditambah lagi hadirnya Kurikulum 13 (K-13), yang juga menjadikan cukup pusing untuk dipahami baik oleh guru-guru, apalagi bagi orangtua/wali murid di rumah. Itulah sedikit potret permasalahan di dunia pendidikan kita. Belum lagi tugas besar untuk mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia yang ditunjang ketersediaan jumlah guru-gurunya.
Ditambah lagi hadirnya Kurikulum 13 (K-13), yang juga menjadikan cukup pusing untuk dipahami baik oleh guru-guru, apalagi bagi orangtua/wali murid di rumah. Itulah sedikit potret permasalahan di dunia pendidikan kita. Belum lagi tugas besar untuk mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah Indonesia yang ditunjang ketersediaan jumlah guru-gurunya.
Dalam hal ini, Nadiem tentu tidak bekerja sendiri di jajaran birokrasinya. Ada sinergi dengan seluruh pemerintah daerah di Indonesia, yang artinya Nadiem harus akrab dengan dunia birokrasi. Meskipun, saya yakin, sebagai seorang pengusaha Nadiem memahami bagaimana dinamika birokrasi di Indonesia. Tetapi, penunjukan Nadiem kali ini sungguh merupakan ciri khas seorang Jokowi yang memang sering kali membuat suatu kejutan dalam keputusannya.
Membahas dunia pendidikan, tidak terlepas dari input, proses, dan output. Saya pun berpikir, tentu Jokowi dan Nadiem sebagai sesama orang yang berlatar belakang pengusaha telah berdiskusi layaknya pengusaha yang akan membangun dunia usaha baru. Apa Strength, Weaknesses, Opportunity, and Threat (SWOT) yang akan dihadapi dalam usaha baru yang bernama peningkatan kualitas dunia pendidikan?
Dengan berbekal pengalaman mengecap dunia pendidikan ternama di luar negeri sekaligus seorang CEO sukses di bidang transportasi berbasis aplikasi digital, "tangan dingin" Nadiem kita tunggu untuk membenahi sektor pendidikan di Indonesia. Sehingga eksperimen Jokowi kali ini membuahkan hasil nyata sebagaimana yang diharapkan. Selamat bertugas, Pak Menteri! Tugas berat telah menanti. Semoga akan ada gebrakan yang gemilang demi kemajuan dunia pendidikan kita.
Dedy Eryanto kandidat PhD spesialiasi Manajemen Sektor Publik di Victoria University of Wellington, New Zealand
(mmu/mmu)
Dengan berbekal pengalaman mengecap dunia pendidikan ternama di luar negeri sekaligus seorang CEO sukses di bidang transportasi berbasis aplikasi digital, "tangan dingin" Nadiem kita tunggu untuk membenahi sektor pendidikan di Indonesia. Sehingga eksperimen Jokowi kali ini membuahkan hasil nyata sebagaimana yang diharapkan. Selamat bertugas, Pak Menteri! Tugas berat telah menanti. Semoga akan ada gebrakan yang gemilang demi kemajuan dunia pendidikan kita.
Dedy Eryanto kandidat PhD spesialiasi Manajemen Sektor Publik di Victoria University of Wellington, New Zealand











































