detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 22 Oktober 2019, 14:54 WIB

Kolom

Potensi Kewirausahaan Santri

Sauqi Futaqi - detikNews
Potensi Kewirausahaan Santri Foto: dok. IWAPI Bogor
Jakarta -

Akhir-akhir ini terminologi kewirausahaan (entrepreneurship) diangkat menjadi pembicaraan yang cukup santer di kalangan pesantren. Hal ini mengingat potensi santri yang sangat besar dalam mendorong kemajuan pembangunan bangsa melalui pengembangan kewirausahaan.

Potensi ini bisa diidentifikasi dari beberapa hal. Pertama, besarnya jumlah pesantren dan santri yang tersebar di Indonesia. Bahkan dari tahun ke tahun jumlah pesantren dan santri ini terus mengalami peningkatan. Pada 2001 jumlah pesantren seluruh Indonesia mencapai 11.312, dengan santri sebanyak 2.737.805 orang. Lima tahun kemudian, pada 2005, jumlah pesantren mencapai 14.798, dengan jumlah santri 3.464. 334 orang. Data terakhir Kementerian Agama pada 2016 menunjukkan pesantren sudah mencapai 28.961, dengan santri sebanyak 4.028.660 jiwa.

Kedua, etos kemandirian santri. Dari historisitasnya, pesantren mempunyai kultur kemandirian yang sangat kuat. Pada masa kolonial, misalnya, pesantren mampu bertahan meski akses terhadap kekuasaan sangat lemah. Ini menandakan sebuah etos kemandirian kiai dan santri dalam menjalankan proses pendidikan pesantren. Kemandirian ini semakin kuat mengingat kebutuhan, pola, dan gaya hidup di pesantren rata-rata dipenuhi sendiri.

Santri yang bermukim selama bertahun-tahun memungkinkan dapat memantapkan kemampuan dalam mengatur diri, dan bahkan sebagian santri memenuhi kebutuhan sehari-hari secara mandiri. Artinya bahwa para santri sebenarnya dididik dengan mental kemandirian. Salah satu nilai penting adalah mentalitas santri yang tahan banting, tidak gensi, dan siap menjalankan apa saja, mulai dari pekerjaan yang remeh temeh sampai dengan batas kemampuan dirinya. Etos semacam ini jarang sekali dimiliki oleh usia muda yang tidak memiliki latar belakang pesantren.

Etos kemandirian santri juga bisa dilihat dari variasi pekerjaan sepulang dari pesantren. Kebanyakan santri memilih pekerjaan yang bervariasi. Ada yang bertani, berdagang, pengusaha, ustaz, dan sebagian menjadi ulama atau kiai. Meski legalitas ijazah pesantren tidak menjanjikan secara finansial, terutama pada tipe pesantren salafiyah, namun etos kemandirian itu membuat para santri harus berpikir kreatif sehingga jarang sekali santri yang hidup dalam kemiskinan akut.

Paling tidak mereka mampu mengembangkan skill dan mental kemandiriannya untuk melahirkan sesuatu yang bernilai. Terkait permasalahan ini menarik diteliti bagaimana para santri dulu, sebelum dihancurkan etosnya oleh mekanisme kerja modern, memenuhi kebutuhan ekonominya.

Mental kemandirian dalam edukasi keseharian di pesantren ini sebenarnya merupakan potensi yang sangat besar. Oleh karena itu, model ini harus dipandang sebagai proses edukasi yang progresif jika diarahkan pada kemandirian yang lebih efektif dan efisien.

Ketiga, kesederhanaan. Gaya hidup sederhana merupakan karakteristik yang melekat pada kehidupan sehari-hari santri selama di pesantren. Meski dari latar belakang orangtua yang berada, rata-rata santri dibentuk dengan perilaku kesederhanaan. Mereka hidup dalam tata aturan yang sama tanpa dibedakan menurut status sosial.

Gaya hidup kesederhanaan semacam ini sebenarnya merupakan potensi yang tidak kecil. Di tengah godaan ideologi konsumerisme dan gaya hidup glamor, kesederhanaan menjadi nilai penting sebagai benteng diri agar tidak terjebak pada sikap boros, berlebih-lebihan, dan bermewah-mewahan.

Kesederhanaan juga merupakan perlawanan terhadap mitos "bendawi", di mana benda dimitoskan sebagai objek pemujaan. Mitos bendawi mengajak manusia untuk mengejar, merebut, mencintai, dan bahkan memuja benda. Akibat dari mitos bendawi, spiritualitas yang menjadi inti dari sikap hidup seseorang selaku makhluk bertuhan, hampir tidak mendapat tempat sama sekali. Kehidupan seolah-olah semata hanya mengejar kepuasan materi.

Perlu Dikembangkan

Potensi kewirausahaan santri di atas patut mendapat perhatian serius bagi praktisi pendidikan pesantren. Di tengah kesibukan para santri dalam mempelajari ilmu-ilmu agama, pada saat bersamaan para santri juga perlu dikembangkan jiwa kewirausahaannya melalui berbagai pelatihan dan praktik yang berkelanjutan. Ini merupakan tawaran yang tidak bisa ditunda-tunda lagi mengingat perkembangan dan persaingan ekonomi yang semakin bervariatif.

Jika mau menengok sedikit ke belakang, para santri pada masa lalu kebanyakan tidak memiliki orientasi ekonomi sama sekali. Para santri hanya berniat mengaji dan mencari ilmu. Sepulang ke kampung halaman, kebanyakan mereka melanjutkan model Kiai dengan berprofesi sebagai guru ngaji dan tokoh agama sambil menjalankan berbagai kegiatan usaha yang bervariatif, meski tidak sedikit yang sukses menjadi pengusaha. Yang jelas, mereka tidak terlalu digelisahkan dengan identitas karier dan profesi, karena mereka bersedia (tidak gengsi) untuk melakukan berbagai percobaan usaha.

Dalam perkembangan modern, dunia pekerjaan sudah berubah. Kuantitas santri semakin banyak dan ini harus disiapkan sejak mereka berproses di pesantren. Mereka tidak hanya dibentuk karakter religiusnya, melainkan perlu diasah kemampuannya dalam mengembangkan kewirausahaan. Mereka juga tidak cukup dibekali modal akhirat, melainkan juga perlu dibekali keterampilan hidup di tengah perkembangan yang begitu cepat dan pesat.

Sauqi Futaqi alumni Pesantren Al-Ishlah Gresik, dosen UNISDA Lamongan, menyelesaikan program doktoral PAI Multikultural di UNISMA Malang


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com