detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Minggu 20 Oktober 2019, 12:05 WIB

Jeda

Pada Hari Pelantikan Presiden

Mumu Aloha - detikNews
Pada Hari Pelantikan Presiden Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Pada hari pelantikan presiden, aku bangun kesiangan. Tidak, mungkin lebih tepat kalau dibilang saja bangun siang. Sebab, ini hari Minggu, dan itu artinya hari bangun siang, seperti biasa, seperti yang telah terjadi sebelum-sebelumnya. Seperti kata sebuah lagu, hari Minggu adalah hari santai. Easy like Sunday morning. Jadi, kenapa ada acara pelantikan presiden pada hari Minggu?

Hal pertama yang kulakukan adalah mengecek HP. Tidak, ini bukan salahku. Ini sudah menjadi hukum. Bahwa tujuh puluh sembilan persen pemilik telepon genggam mengecek telepon genggam mereka dalam 15 menit pertama sesudah bangun tidur pada pagi hari. Kamu tidak mungkin berada di luar angka tujuh puluh sembilan persen itu, percayalah.

Dan, "mengecek HP" itu artinya mengecek aplikasi-aplikasi media sosial. Semalam aku mengunggah beberapa foto di Facebook, dan penting artinya untuk melihat sudah berapa orang yang sudah 'nge-like' dan mengomentari foto itu. Lalu, aku berpindah ke Twitter, dan di antara berbagai keriuhan yang kujumpai, terlihat ada hashtag kampanye "matikan TV seharian".

Aku tidak tertarik, tapi terlalu mudah diduga bahwa itu adalah propaganda yang berkaitan dengan, apalagi kalau bukan, acara pelantikan presiden pada hari ini. Sebab, tidak mungkin bahwa itu merupakan kampanye untuk mengurangi kecanduan atau dampak paparan layar dan gadget pada anak. Tak terlalu sulit juga menduga bahwa kampanye itu disebarkan oleh kelompok yang kecewa dengan kinerja pemerintahan hari-hari ini.

Tapi, kalau dipikir-pikir, memangnya apa dampaknya kalau kita mematikan TV seharian dan tidak menyaksikan berita-berita, tayangan, dan berbagai laporan mengenai acara pelantikan presiden hari ini? Lebih dari itu, yang lebih aku herankan, hari gini memangnya masih ada ya orang yang menonton televisi? Hehehe....

Bagaimanapun hebat juga bahwa pada hari Minggu, hari yang mestinya santai, para pasukan "buzzer" tetap bekerja keras men-trending-kan sebuah hashtag kampanye --hashtag "matikan TV seharian" itu berhasil menjadi trending topic nomor satu. Dan, gara-gara melihat daftar trending topic, aku jadi tahu bahwa ada hashtag lain yang juga sedang viral dan jadi trending, yang nadanya "anti" terhadap acara pelantikan presiden pada hari ini --hashtag "presiden alam gaib" (entah apa maksudnya).

Sedangkan dari kubu pendukung pemerintah, ada hashtag "kita bermesraan lagi". Terlihat sekilas bahwa beberapa tweet yang menggunakan hashtag tersebut berisi gambar-gambar, meme, dan foto pasangan presiden dan wakil presiden terpilih, disertai berbagai tulisan ucapan: "selamat bekerja kembali", "kami tunggu kerja nyatamu lagi", semacam itu.

Bosan melihat-lihat timeline di Twitter, aku kembali ke Facebook. Begitulah hidup ini. Kesibukan antara aplikasi ke aplikasi lain. Kita datang dan pergi, memasuki dan meninggalkan kerumunan demi kerumunan. Muncul dan menghilang dalam gelembung-gelembung obrolan. Terselip dan berusaha terlihat dalam setiap keramaian di garis-garis waktu digital. Tergopoh-gopoh menyambut setiap notifikasi yang masuk. Lalu terhenyak, ada pesan baru nggak ya di Tinder? Oh iya, ada story apa lagi di Instagram para idola kita?

Sampai akhirnya tersadar, sejam telah berlalu dan kita masih berkutat di tempat yang sama, tidak beranjak ke mana-mana, tidak melakukan apa-apa. Inilah perilaku otomatis yang dipicu oleh isyarat situasional, kata psikolog. Inilah hal-hal yang kita lakukan dengan sedikit atau bahkan tanpa dorongan alam sadar. Akuilah, kita memang kecanduan.

Baiklah, baiklah, lima atau sepuluh menit lagi. Aku kembali ke Facebook. Mengecek "memories". Ada beberapa foto yang tampak konyol --itu setahun yang lalu. Ada status berupa semacam esei pendek tentang "filosofi hidup" di zaman digital --itu tiga tahun lalu; astaga, betapa cerewetnya aku! Lalu, ada sebuah status dari tahun 2014, mengomentari tentang....pidato pelantikan presiden.

Jadi, memang acara pelantikan presiden itu selalu digelar pada 20 Oktober. Kebetulan saja kali ini jatuh pada hari Minggu. Kubaca lagi pelan-pelan statusnya lima tahun lalu itu: Pidato pelantikan Presiden Jokowi bagus banget. Puitis, penuh metafora tapi juga to the point dan terang benderang. Ada dua kata kunci: kerja dan laut.

Aku tertegun? Jadi, aku dulu ternyata seorang "cebong"? Sekarang, siapakah aku?

Entah ada dorongan apa, mendadak aku bangkit dari kasur, meletakkan HP di atas tumpukan buku-buku, keluar dari kamar. Kucing-kucing kecil peliharaanku menyambutku, mengeong-ngeong minta sarapan. Aku pun langsung teringat bahwa harus segera memanaskan sayur sisa semalam agar tidak basi dan bisa dimakan lagi hari ini.

Pada hari pelantikan presiden, aku bangun siang, mengecek HP, memberi makan kucing-kucing kecil yang lucu, lincah, dan berisik, kemudian memanaskan sayur untuk sarapan diriku sendiri. Sambil menunggu sayur hangat kembali, aku memanaskan air untuk membuat kopi, dan menyapu lantai. Di depan pintu kupandangi rumah-rumah tetanggaku. Pintu-pintunya tertutup. Apakah mereka juga bangun siang, atau justru telah pergi untuk menikmati hari libur?

Angin berembus mengelus pipiku. Kulihat daun-daun jambu di kebon sebelah rumah menari-nari. Dunia senyap dan sepi. Aku merasa satu-satunya penghuni planet bumi ini. Dan, seolah-olah semua yang terlihat di mataku baru saja tercipta tadi malam, menjadi pemandangan baru yang membuatku merasa asing. Aku kembali pada kucing-kucingku, mengelus dan menggelitiki mereka; satu per satu melompat-lompat, menjauh dan mendekat, meminta perhatianku.

Sesaat kemudian aku ke dapur mematikan kompor, menghirup aroma harum sayur yang telah panas, menyeduh kopi, dan membawanya ke kamar. Sambil menunggu panas kopi mereda, aku mengecek HP lagi. Kulihat foto Presiden di Instagram. Beberapa jam lagi dia akan dilantik. Untuk periode yang kedua. Apakah dia sudah minum kopi? Apakah seorang presiden --pada hari pelantikannya-- juga merasa kesepian?

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com