detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 17 Oktober 2019, 14:50 WIB

Kolom

Isyarat Politik Pertemuan Kedua

Fathorrahman Hasbul - detikNews
Isyarat Politik Pertemuan Kedua Pertemuan Jokowi dan Prabowo di Istana (Foto: Biro Pers Setpres)
Jakarta -
Pertemuan seringkali menyita perhatian; ia semacam titik api yang melahirkan banyak kesan. Tidak saja dalam konteks dunia asmara, renjana, dan sejenisnya, tetapi juga dalam ruang-ruang kekuasaan khususnya dalam lanskap politik di Indonesia hari ini. Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto di Istana Merdeka (11/10) menjadi gelagat bagaimana perjamuan sublim tersebut telah melampaui batas-batas "perasaan".

Pertemuan tersebut menjadi sebuah peristiwa politik yang lekat dengan motif kepentingan yang benderang. Apalagi pertemuan tersebut menyisakan sedikit drama swafoto keduanya dengan senyum "kenes" dan sumringah yang bagi sebagian orang terkesan menginsinuasi keadaan di tengah situasi kebangsaan yang sedang dirundung banyak masalah.

Pertemuan keduanya sepintas terlihat begitu luhur. Sebab dalam forum tersebut mengangkat sejumlah isu penting perihal kondisi ekonomi global, politik dan keamanan, hingga rencana pemerintah memindahkan ibu kota ke Kalimantan Timur. Tetapi justru yang menjadi kredit poin adalah soal hajat politik yang sebetulnya sangat partikulatif. Pertemuan itu turut membahas peluang Partai Gerindra masuk ke dalam kabinet Jokowi-Maruf, distribusi kursi menteri, dan surplus politik yang lain.

Akhirnya, pertemuan yang diandaikan sebagai peristiwa yang penuh makna dan keleluasaan untuk merentangkan keindonesiaan yang lebih baik itu, sejatinya sama saja dengan pertemuan-pertemuan politik pada umumnya; margin politik bergerak menuju titik-titik pragmatis yang miskin nilai.

Isyarat Politik

Isu signifikan yang dikemukakan oleh keduanya telah menjadi isyarat betapa kerja-kerja dalam spektrum ekonomi global, stabilitas keamanan, dan pemindahan ibu kota mengesankan adanya persoalan yang cukup kompleks. Mengundang Prabowo untuk masuk ke dalam ruas-ruas koalisi hanya semakin menampakkan celah keterbatasan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan politik, ekonomi, pertahanan, dan persoalan-persoalan kompleks lainnya.

Jika pertemuan pertama di Stasiun MRT Lebak Bulus, 13 Juli lalu melambangkan sikap resmi dan legitimasi kemenangan atas Jokowi, maka pada pertemuan kedua justru memperlihatkan sebuah perjamuan panjang dengan tema keabsahan distribusi politik yang sangat gamblang. Dengan kata lain, jika pertemuan pertama hanya mengisyaratkan adanya cooling down pascapilpres untuk sekadar mendinginkan suhu politik yang sempat menghanguskan akal sehat dan nurani pendukungnya, maka pertemuan kali ini merupakan fakta tentang kerja-kerja opportunity structure, tentang peluang-peluang strategis kekuasaan hari ini dan ke depan.

Bahkan pertemuan tersebut juga dapat menjadi isyarat tentang adanya ajang uji coba pengaruh lintas tokoh di sekeliling Jokowi. Pertemuan Jokowi-Prabowo, Jokowi-SBY, dan lain sebagainya merupakan rangkaian dan upaya dari jurus politik santun Jokowi untuk mengimbangi atmosfer dan dominasi tokoh-tokoh kuat di sekitarnya. Terutama bagi tokoh-tokoh yang selama ini tampak memanggul ketika di depan publik dan media, tapi sesungguhnya 'memukul' ketika di belakang keduanya.

Meskipun Prabowo dan Jokowi pernah memilih jalan setapak politiknya yang berbeda, bahkan pernah bertarung begitu keras dan ekstrem dalam sebuah gelanggang politik yang sama, tetapi mereka selalu bisa bertemu kapan pun dan di mana pun. Tentunya selama keduanya melihat politik dari sudut pandang yang sama, bisa dari sudut pandang politik kebangsaan dan kemanusiaan atau politik partikular dan distribusi bagi-bagi kursi.

Mengesampingkan Isu

Pada babakan yang lain, langkah dua tokoh penting ini di satu sisi telah memberikan asa tentang bagaimana beban elektoral politik yang selama ini ditanggung dengan pahit oleh masyarakat akan segera berbuah manis. Tetapi di sisi lain, pertemuan tersebut justru memberikan satu kesan berupa making excuses dari seorang Jokowi untuk menggiring persoalan-persoalan mutakhir Indonesia ke dalam persoalan politik semata.

Seolah-olah pertemuan politik itu menjadi jawaban atas semua persoalan yang terjadi. Baik kasus kekerasan di Papua, korupsi, kebakaran hutan, dan persoalan genting lainnya. Kesan ini kemudian meringkus isu-isu tersebut ke dalam satu kanal, satu kambing hitam. Pada akhirnya yang tampak bukan lagi ketidakmampuan para pembantu Jokowi dalam menyelesaikan persoalan tersebut, tetapi seolah-olah ada daya tonjok politik dari luar kekuasaan yang bergerak secara ofensif yang oleh karenanya ia kemudian merasa perlu untuk 'diamankan".

Perjumpaan elite politik tentu saja niscaya. Tetapi jangan sampai perjumpaan-perjumpaan tersebut justru hendak menenggelamkan isu-isu penting yang bersinggungan langsung dengan kepentingan masyarakat luas. Untuk menunjukkan bahwa Indonesia dalam kondisi baik tak perlu mendemonstrasikan sebuah ekspresi keakraban dan senyuman dalam sebuah swafoto tertentu. Sebab masyarakat sudah terlalu cerdas untuk memilih apa dan dimana hiburan yang sesungguhnya.

Wujud negara dalam kondisi baik adalah ketika negara benar-benar mampu memastikan bahwa kesejahteraan masyarakat harus terus meningkat, dan demokrasi tidak digembosi oleh praktik-praktik korupsi. Itu saja.

Fathorrahman Hasbul peneliti media dan komunikasi politik, menempuh Magister Ilmu Komunikasi di UGM


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com