Waktu, Tawaran, dan Pilihan

Kolom

Waktu, Tawaran, dan Pilihan

Yohanes Bara` - detikNews
Minggu, 13 Okt 2019 10:40 WIB
Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Ilustrasi: Mindra Purnomo/detikcom
Jakarta -

Durasi waktu yang sama mempunyai arti yang berbeda. Lima tahun bagi tawanan merupakan waktu yang lama dan sangat lambat. Waktu yang sama bagi seorang ibu terasa sangat cepat ketika anaknya tiba-tiba sudah berjalan lincah dan menggemaskan pada usia lima tahun. Bagi seorang pejabat yang amanah, waktu itu sudah mengubah hidup banyak sekali orang.

Kadang ada pula yang tiba-tiba terkejut sudah berada di akhir tahun, membawa pertanyaan, "Aku sudah melakukan apa saja?" Pada saat sadar usia berubah, orang juga bertanya, "Kok usiaku sudah 36 tahun, cepat sekali rasanya, padahal aku belum punya mobil terbaru, rumah besar, jabatan tinggi." Kasus-kasus sadar dan telat mengartikan diri dan waktu itu dapat dibandingkan dengan orang sampai usia lanjut. Orang itu bernama Morrie Schwartz, yang kita baca biografinya dalam buku Selasa Bersama Morrie (2001) yang ditulis oleh Mitch Albom.

Morrie seorang profesor di Universitas Brandeis University, Massachusetts, Amerika Serikat. Ia dosen yang dicintai banyak mahasiswa, rekan yang dikagumi sesama dosen, juga teman bagi banyak orang. Morrie menjalani hidup penuh dengan makna dan kebahagiaan bersama orang-orang di sekitarnya. Namun waktu tiba-tiba berjalan sangat lambat; ia divonis mengidap amyotrophic lateral sclerosis (ALS), kelainan otot yang perlahan-lahan mengurangi fungsi tubuhnya.

Dimulai dari kaki yang tak bisa berjalan, punggung yang tak memungkinkan ia duduk. Lalu, ke tangan yang menghambatnya makan, minum, menulis, dan cebok. Sampai semua ototnya mati, ia akan dibantu bernapas dengan alat dan makan dari selang. Nyawanya masih, tapi terbungkus tubuh yang lumpuh total. Kelumpuhan itu menyerang organ-organ vital seperti jantung dan paru-paru.

Morrie akan meninggal seperti kehabisan napas, seperti tenggelam. Kata dokter, ia hanya bertahan paling lama dua tahun. Namun, profesor ini tahu kemampuannya; ia tak akan selama itu. Morrie bukanlah tokoh dalam novel. Morrie adalah sosok nyata yang pernah ada di dunia. Waktu bagi Morris seperti counting down, menghitung mundur kepastian menuju kematian yang perlahan dan menyakitkan.

Kematian bagi sebagian orang adalah suatu yang mengerikan, entah dengan cara baik-baik, tiba-tiba, atau celaka; saat muda, dewasa, atau tua. Saking takutnya, tak sadar menganggap kematian sebagai fenomena yang terjadi pada orang lain, atau setidaknya akan terjadi saat tua nanti. Padahal, meski kematian tak pasti waktunya, tapi pasti datang. Ada yang sakit, tapi berusia panjang; ada yang hidup sampai belasan atau dua puluhan, ada juga yang sampai seratusan tahun.

Alih-alih berada pada titik keterpurukan, Morrie malah mengundang mantan mahasiswanya, Mitch Albom untuk mendokumentasikan kisah demi kisah dirinya menjelang kematian. Selasa pertama, Morrie hanya bisa berbaring dan menggerakkan tangannya. Ketika seluruh keluarga dan Mitch sudah siap di ruangan, Morrie berdiam agak lama. Orang-orang mulai gelisah, ada yang membuang pandang ke luar melalui jendela, ada yang berulang-ulang melihat jam tangannya, mereka semua menantikan Morrie segera berkata sesuatu.

"Mengapa kalian tertekan oleh keheningan? Kenyamanan macam apa yang kalian cari dalam bermacam-macam kebisingan?" buka Morrie dengan pertanyaan reflektif itu.

Bagaimana jika pertanyaan Morrie itu tertuju pada kita? Sialnya, budaya dan masyarakat yang harusnya menjadi kontrol bagi sesamanya untuk menjadi manusia utuh malah mendorong siapa saja terbelit pada kepentingan diri, karier, keluarga, memiliki banyak uang, mobil baru, dan rumah besar sebagai tanda kesuksesan. Orang-orang menjadi kehilangan waktu bermenung.

"Sungguhkah itu yang ia cari, atau hanya itukah yang ia inginkan dalam hidup?" tanya Morrie pada Mitch. Proses penerimaan diri akan kematian membuat Morrie sungguh mempersiapkan dengan sadar untuk mati sebagai apa. "Ketika kita tahu bagaimana akan mati, kita akan memikirkan bagaimana kita akan hidup," katanya.

Seandainya saja seseorang memiliki time stone seperti di Avenger: Infinity War, ia tak perlu cemas akan salah keputusan yang berujung penderitaan. Ia bisa memanipulasi waktu dan kembali masa lalu untuk memperbaiki kesalahannya. Seperti yang ditulis Alan Lightman dalam novel Einstein's Dreams (1999). Setiap pilihan memiliki konsekuensi yang berbeda.

Seorang pria melihat sebuah topi milik perempuan tertinggal. Pilihan pertama, ia membiarkannya saja, kemudian hari ke hari tetap melanjutkan kehidupan dan pekerjaan rutinnya, kemudian bertemu dengan seorang perempuan baik hati yang kelak menjadi ibu dari anak-anaknya dan mereka menjadi keluarga yang berbahagia hingga tua.

Pilihan kedua, pria itu mendatangi rumah pemilik topi dan berkenalan dengan perempuan itu. Mereka menjalin hubungan dekat. Setelah tahu wanita itu memiliki perangai kasar dan penindas, si pria perlahan menjauh. Ia menjadi sedih dan bermurung karena hidup tanpa wanita yang ia sukai itu.

Pilihan ketiga, ia mengembalikan topi perempuan itu, kemudian berhubungan baik dan melanjutkan ke pernikahan meskipun ia tahu perempuan itu bersikap tidak baik, boros, dan penindas. Ia terpaksa meninggalkan pekerjaan lamanya yang lebih baik demi tinggal bersama istrinya, hari ke hari ia habiskan dengan paksaan istrinya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sehingga waktu tak hanya diartikan sebagai detik, menit, jam, hari, bulan, dan tahun saja.

Pada satu masa waktu, setiap pilihan menentukan masa waktu berikutnya. Alan Lightman menulis bahwa 26 September 1907 akan menjadi akhir waktu. Sebulan sebelum akhir, semua orang mempersiapkan diri dengan bahagia dan lepas bebas. Orangtua membiarkan anak-anaknya menghabiskan uang mereka untuk membeli permen dan mainan. Mereka tahu uang tak akan ada artinya lagi dan anak-anak berhak bahagia di sebulan terakhir ini.

Orang-orang di kafe saling bercengkerama dengan bebas dan tanpa beban tentang hidup mereka. Seorang anak mendatangi ibunya, mereka mengenang masa kecil si anak dan meminta maaf atas konflik-konflik selama ini. Anak-anak berlarian bebas. Orang banyak merenung bebas: buat apa lagi semua yang dimiliki, semua akan sirna bersamaan. Jika saja masing-masing orang mengandaikan hidupnya tinggal sebulan lagi, tentu semua orang akan memberikan dirinya untuk kebaikan sesama, tak egois, dan penuh perhatian.

Jaminan usia panjang memang misteri, tapi mengisi waktu dengan cara apa merupakan kendali penuh semua orang hidup. Sakit atau sehat juga tidak pasti. Walaupun sudah dijaga dan dirawat, tapi menghidupi hidup penuh semangat seperti Morrie dan feel free seolah sebulan lagi semua selesai sepertinya tawaran yang menarik bagi orang zaman mutakhir.

(mmu/mmu)