detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Sabtu 12 Oktober 2019, 12:05 WIB

Pustaka

Mendengarkan Perempuan, Memahami Islam Kultural

Mutimmatun Nadhifah - detikNews
Mendengarkan Perempuan, Memahami Islam Kultural Foto: istimewa
Jakarta - Judul Buku: Merayakan Islam dengan Irama: Perempuan, Seni Tilawah, dan Musik Islam di Indonesia; Penulis: Anne K. Rasmussen; Penerjemah: Pratiwi Ambarwati dan Azis; Penerbit: Mizan, Juni 2019; Tebal: xxii + 330 halaman

Anne K. Rasmussen melalui buku dengan judul asli Women, Recited Quran, and Islamic Music in Indonesia ini membentangkan kajian mendalam perihal suara perempuan muslim di Indonesia di bidang kesenian dan kebudayaan. Penelitian Anne mengisi kekosongan dalam banyak penelitian tentang Islam Indonesia yang sering hanya diamati daripada didengarkan.

Anne membabarkan suara perempuan yang masih menjadi perdebatan dalam Islam, terutama akibat menguatnya konservatisme Islam dalam ruang publik. Tentu, yang perlu dicamkan, konsep "suara" dalam penelitiannya adalah konsep dalam (budaya) musik, bukan "suara politis". Dari kajiannya, kita tahu bahwa Alquran, pemberdayaan perempuan secara kultural, akulturasi budaya Timur Tengah atau dengan budaya (langgam) Jawa, penetrasi teknologi (seperti radio) terhadap pembelajaran Alquran, sering berada dalam dilema dan pertentangan yang tetap mengikuti suara perempuan.

Barangkali, sebagaimana dicatat Anne, yang belum lazim atau tidak pernah kita dengar adalah suara perempuan yang mengumandangkan adzan atau dilibatkan dalam lomba adzan. Kita seperti diberitahu, yang berhak untuk menyerukan panggilan ilahiah agar umat segera menunaikan ibadah salat itu hanya laki-laki meski dikumandangkan di masjid bernama perempuan. Pembedaan itu adalah rentetan dari sejarah panjang atas diskriminasi akses terhadap perempuan untuk jadi juru tafsir agama.

Partisipasi

Dalam kasus suara perempuan di Indonesia, Anne berhasil membeberkan banyak pembuktian partisipasi suara-suara perempuan yang berimbang dengan suara-suara laki-laki. Dalam festival-festival Alquran yang populer dengan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), perempuan diberikan akses dalam beragam lomba seperti tilawah (membaca dengan melodi dengan kaidah-kaidah khusus), hifdhul (menghafal), tafsir (menafsirkan), fahmul (memahami), syarhul (menjelaskan), dan khat (seni kaligrafi) Alquran.

Anne mencatat 50% keterlibatan perempuan dari berbagai daerah di Indonesia pada MTQ yang dirayakan dan dipopulerkan Orde Baru. Fenomena yang digerakkan oleh kaum muslim tradisional menjadi identitas keislaman di Indonesia saat banyak negara Islam lain masih mempertahankan fatwa bahwa perempuan tidak boleh tampil di hadapan publik dan "suara perempuan itu aurat". Maka wajar peralihan pemerintahan pasca Orde Baru terutama dengan terpilihnya tokoh-tokoh dari kalangan Islam reformis menjadi ancaman terhadap kebudayaan dan kesenian Islam yang bertahun-tahun berlangsung di Indonesia.

Hal ini terbukti pada waktu Indonesia menjadi tuan rumah pada festival Alquran kejuaraan internasional pada 5-8 Desember 2003. Indonesia tunduk segan ironis pada fatwa umum di dunia Islam yang berpartisipasi dalam kejuaraan internasional itu dengan tidak memberikan porsi berimbang terhadap perempuan. Indonesia hanya memberi jatah kepada 8 perempuan pada lomba tilawah Alquran dan tidak sama sekali pada lomba penafsiran Alquran.

Penjelasan suara dan tilawah Alquran di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari nama Maria Ulfah. Dia tokoh legendaris sekaligus model ideal bagi qari-qariah (sebutan untuk laki-laki dan perempuan yang menekuni seni tilawah Alquran) di Indonesia. Kariernya sebagai qariah dan juri dalam berbagai festival Alquran terus melebar di penjuru Indonesia bahkan dunia Internasional.

Maria Ulfah adalah dosen dan pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor II di Institut Ilmu Alquran (IIQ) di Ciputat, Tangerang Selatan. Kampus khusus perempuan ini didirikan oleh Ibrahim Hosen, tokoh yang dikenal sebagai pembaharu dalam hukum Islam di Indonesia. Pemikiran Ibrahim itulah yang memberi pengaruh terhadap keberanian dan karier Maria.

Bersama suaminya, Mukhtar Ikhsan, Maria juga mengelola pondok pesantren Alquran Baitul Qurra, yang menampung sekitar 20-40 santri lelaki dan perempuan, yang hendak mengikuti kompetisi atau yang tidak mampu membiayai pendidikannya.

Musik Kasidah

Dalam perjalanan riset etnografinya, Anne mengakui pembahasan musik Islam di Indonesia menjadi tema tak terduga namun penting dengan mempertimbangkan terbentuknya Ikatan Persaudaraan Qari-Qariah Hafiz Hafizah (IPQAH) di Medan. Kelompok ini mempelopori persatuan para qari-qariah profesional dalam bidang musik yang menggunakan lagu Arab pertama kali di Indonesia.

Nur Asiah Djamil, mantan qariah yang jadi pemusik sekaligus penyanyi dengan grup kasidah Nada Sahara menjadi representasi betapa kuatnya hubungan tilawah dan musik Islam di Indonesia. Lagu berjudul Alquran dari grup kasidah ini sangat terkenal di kalangan muslim Indonesia. Nur Asiah mengakui produksi nada dan teks dalam grup kasidahnya dipengaruhi musik dan penyanyi Mesir seperti Muhammad 'Abd Al-Wahhab dan Umm Kultsum yang populer pada 1960-1970-an di Indonesia.

Sebagaimana grup kasidah lain, kasidah rebana atau kasidah (musik) modern selain ditujukan untuk hiburan, dakwah keagamaan menjadi prioritas dalam seni musik Islam modern ini.

Kritik Feminis

Yang sangat menarik dicatat, saat Anne menyebut festival Alquran yang bertahun-tahun diamati mencitrakan Islam Indonesia yang inklusif, kalangan feminis Islam seperti Musdah Mulia dan Farha Ciciek justru mengkritiknya. Alasannya: akumulasi perempuan lewat riuh festival Alquran dimanfaatkan Orde Baru untuk kepentingan pembangunan nasional. Bukan untuk pemberdayaan, tapi penertiban sebagaimana ciri khas pemerintahan itu.

Festival ini juga dianggap tidak memiliki kontribusi atau pengaruh terhadap produksi kebijakan publik yang berhubungan langsung dengan kepentingan perempuan seperti batas perkawinan anak, larangan poligami, kesehatan reproduksi, dan lansia.

Farha Ciciek secara tegas mendebat temuan Anne dengan mempertanyakan tafsir ramah gender dalam festival Alquran itu. Kata Ciciek, "Di manakah penafsiran Alquran yang ramah gender di MTQ, sebuah acara yang berusaha mengembangkan Alquran di Indonesia? Saya tekankan kepada Anda bahwa hal ini (yakni tafsir ramah gender) bukanlah bagian dari agenda mereka."

Meski festival ini menyemai perdebatan serius di kalangan tokoh-tokoh Islam di Indonesia, kita tetap membutuhkan suara-suara dan tubuh perempuan di ruang publik kesenian dan kebudayaan sebagai identitas Islam Indonesia saat ada suara-suara perempuan lain yang secara militan mempromosikan gagasan sebaliknya baik lewat media daring maupun luring.

Terkait pengendalian suara dan tubuh perempuan itu, Anne dengan optimis menyatakan, "Jika diizinkan berbicara, saya percaya bahwa suara-suara demikian ini pada akhirnya akan tenggelam, atau setidak-tidaknya melemah, oleh suara-suara toleransi dan tradisi, ideal yang secara historis mencirikan wilayah ini, dan yang bakal terus bertahan di negara muslim yang demokratis ini."

Mutimmatun Nadhifah Magister Pengkajian Islam di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com