detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 11 Oktober 2019, 16:02 WIB

Kolom

Mengatasi Defisit Neraca Gula

Ida P - detikNews
Mengatasi Defisit Neraca Gula Aksi petani tebu memprotes impor gula (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Indonesia hingga saat ini masih belum terlepas dari permasalahan di sektor industri gula. Neraca domestik gula konsumsi masih mengalami defisit, karena jumlah produksi masih belum mampu memenuhi kebutuhan atas permintaan konsumsi oleh masyarakat. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan gula masyarakat, pemerintah melakukan impor dari luar negeri.

Gula adalah salah satu sumber kalori dalam struktur konsumsi masyarakat selain bahan pangan. Gula memiliki peran penting bagi masyarakat Indonesia yang tercermin pada suatu kebijakan pemerintah bahwa gula pasir adalah salah satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan rakyat banyak. Wajar saja pemerintah membuat beberapa kebijakan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Berdasarkan outlook yang dipublikasikan oleh Kementerian Pertanian dapat menjelaskan bagaimana perkembangan produksi, konsumsi, hingga jumlah impor gula yang dibutuhkan, perkembangan gula dapat digambarkan dengan melihat perkembangan produksi tebu yang dihasilkan pada Outlook Tebu 2017. Perkembangan produksi tebu dalam wujud gula hablur berfluktuasi dari 1998 bahkan sampai sekarang.

Pada 2004 produksi tebu cenderung mengalami peningkatan hingga sekarang. Hasil angka estimasi Ditjen Perkebunan, produksi gula di Indonesia meningkat pada 2017 dengan jumlah 2,46 juta ton. Salah satu faktor penyebab meningkatnya produksi gula adalah luas panen tebu yang semakin meningkat. Luas panen tebu pada 2017 meningkat menjadi 452.138 ha. Namun, dengan meningkatnya produksi gula belum dapat mengatasi jumlah kebutuhan gula yang dikonsumsi karena jumlah gula yang dibutuhkan masih lebih besar dibandingkan produksi gula yang dihasilkan.

Secara rata-rata perkembangan konsumsi gula cenderung menurun sebesar 1,30% per tahun. Pada 2012 terjadi penurunan yang sangat signifikan sebesar 12,29%. Namun pada 2015 jumlah konsumsi gula di Indonesia mulai meningkat hingga sekarang. Berdasarkan data Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, kebutuhan gula secara nasional pada 2016 mencapai 6 juta ton. Meskipun perkembangan konsumsi cenderung menurun, tetapi jumlah konsumsi masih lebih besar daripada jumlah produksi. Salah satu penyebab dari penurunan konsumsi gula adalah harga yang meningkat tiap tahunnya.

Harga gula di pasar dalam negeri cenderung meningkat dengan rata-rata 13,29 per tahun. Berdasarkan data BPS, harga rata-rata gula secara nasional di pasar domestik pada Januari 2019 sebesar Rp 12.130/kg, namun masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan oleh Kementerian Perdagangan sebesar Rp 12.500kg.

Belum Tercukupi

Pemenuhan kebutuhan atas permintaan gula yang selalu meningkat tiap tahunnya dengan komoditas yang tersedia masih belum mencukupi. Maka pemerintah melakukan impor. Volume impor gula tiap tahunnya secara rata-rata meningkat sebesar 160,27% per tahun. Pada periode 2016 volume impor gula mencapai 4,76 juta ton, tertinggi sejak 1980. Jumlah impor gula periode 2018 sebesar 4,52 juta ton.

Pemerintah menargetkan swasembada untuk mengatasi neraca domestik gula konsumsi yang defisit. Target swasembada gula mestinya terjadi pada 2019, tetapi belum dapat terealisasikan. Hal tersebut dikarenakan pabrik gula masih belum beroperasi dengan maksimal. Berdasarkan hasil proyeksi dari Ditjen Perkebunan dan Pusdatin, pada 2017-2021 produksi gula di Indonesia diperkirakan akan meningkat sebesar 0,14% per tahun. Pada 2017 terjadi penurunan produksi gula, tetapi 2018 hingga 2021 terjadi peningkatan menjadi 2,48 juta ton.

Proyeksi 2017-2021 masih mengalami defisit, di mana jumlah produksi gula masih lebih kecil dibandingkan jumlah konsumsi gula. Jumlah produksi gula dan konsumsi gula berdasarkan hasil proyeksi 2019 sebesar 2,45 juta ton dan 5,35 juta ton. Jika dilihat hasil proyeksi dari Ditjen Perkebunan dan Pusdatin, target pemerintah masih belum dapat tercapai. Sehingga swasembada gula 2019 tidak terealisasikan atau sulit untuk direalisasikan.

Pada Mei lalu Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menyatakan, Indonesia diprediksi bisa mewujudkan swasembada gula pada 2024. Hal tersebut dikarenakan luas lahan meningkat sehingga jumlah produksi gula dapat ditingkatkan. Target swasembada gula 2024 dibutuhkan sebesar 3 juta ton.

Pemerintah telah menetapkan kebijakan pembangunan perkebunan demi mewujudkan swasembada gula nasional. Pemerintah menetapkan lima poin arah peningkatan produktivitas gula nasional. Pertama, proyeksi produksi nasional. Kedua, penambahan luas areal kebun tebu. Ketiga, penetapan sepuluh provinsi pengembangan tebu di luar Pulau Jawa. Keempat, revitalisasi on farm dan pabrik gula atau PG BUMN. Terakhir, pembangunan pabrik gula baru.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com