detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 10 Oktober 2019, 12:30 WIB

Kolom

Tantangan Studi Islam Era Digital

Syamsul Kurniawan - detikNews
Tantangan Studi Islam Era Digital Foto: dok. AICIS
Jakarta -

Ada empat bentuk gejala sosial keagamaan yang umumnya menjadi perhatian dalam studi Islam. Pertama, scripture atau naskah-naskah atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama. Kedua, para penganut atau pemimpin atau pemuka agama, yaitu yang berkenaan dengan perilaku dan penghayatan para penganutnya. Ketiga, ritus-ritus, lembaga-lembaga dan ibadat-ibadat. Keempat, alat-alat, organisasi-organisasi keagamaan tempat penganut agama berkumpul.

Persoalan berikutnya adalah bagaimana kita dapat melihat masalah keislaman tersebut sebagai sasaran studi budaya atau sosial yang aktual. Apalagi kemunculan media baru diakui telah ikut mengubah karakter masyarakat beragama, yang sebelumnya oleh Weber disebut mengalami perubahan dari agraris ke industri, kini semakin kompleksitas dengan budaya digital.

Tren digital Islam inilah yang kemudian menjadi tema yang diusung pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-19, yang bertempat di Hotel Mercure Batavia, Jakarta, 1-4 Oktober lalu. Sebagaimana tema AICIS ke-19, Digital Islam, Education, and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam. Asumsinya, tantangan studi Islam pada hari ini memang telah mengalami banyak perubahan. Salah satu penyebabnya adalah kemunculan media baru.

Kemunculan media baru pada hari ini juga menandai kemunculan karakter baru masyarakat muslim yaitu dalam posisinya sebagai "digital natives", generasi yang lahir ketika teknologi sudah berada di lingkungannya. Melalui dukungan mesin pencari misalnya, masyarakat muslim dapat dengan mudah mencari bahan referensi keagamaan yang diinginkan secara real time dengan biaya yang teramat dengan sangat murah.

Semua itu menjadi mungkin, oleh karena sumber belajar keagamaan dan proses interaksi telah berhasil didigitalisasi oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Jadilah sebuah kondisi di mana dunia terbebas dari batas-batas jarak dan waktu akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan sekarang orang sudah mulai mendiskusikan tentang era industri 4.0.

Konsekuensi perubahan ini jelas juga mengubah landscape studi Islam. Paradigmanya pun juga sepatutnya berubah, menyesuaikan dengan tantangan era digital. Contohnya, kecenderungan masyarakat muslim sebagai digital natives mengkreasi pemahamannya atas doktrin atau ajaran Islam dalam bentuk tafsiran-tafsiran di medsos atau media online menjadi tantangan studi Islam saat ini. Contoh lain, seperti fatwa online, ngaji online, penggunaan aplikasi Al-Quran pada smartphone, dan komodifikasi Islam merupakan lahan baru dalam studi Islam saat ini.

Untuk itu paradigma baru diperlukan dalam merumuskan berbagai hal yang berhubungan dengan pertanyaan seperti; pertama, apa yang harus dipelajari dari fenomena masyarakat muslim di era digital? Kedua, persoalan-persoalan apa yang yang harus dijawab terutama dalam menjawab kemunculan karakter baru masyarakat muslim di era digital? Ketiga, bagaimana metode untuk menjawabnya? Keempat, aturan-aturan apa yang harus diikuti dalam menginterpretasikan informasi yang diperoleh?

Paradigma baru ini diperlukan untuk meneroka fenomena masyarakat muslim sebagai digital natives dalam memahami dan mendalami serta mengamalkan Islam jelas berbeda dengan umat Islam generasi sebelumnya (baca: digital immigrants). Karena sulit memungkiri bagaimana kondisi era digital pada hari ini telah banyak mengubah paradigma masyarakat muslim dalam berislam dalam pengertian memahami, mendalami, dan mengamalkannya.

Paradigma baru ini berangkat dari asumsi bahwa dimensi-dimensi Islam tidak seharusnya sekadar dilihat dalam aspek dogmatis-teologis, tetapi juga aspek empiris-sosiologis. Kaidah al-muhafadhatu ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al jaded alashlah (memelihara pada produk budaya lama yang baik dan mengambil produk budaya baru yang lebih baik) memungkinkan masyarakat muslim menerima budaya atau pranata sosial yang telah ada sebagai habitus mereka dan menyesuaikannya dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.

Sehingga fenomena digital Islam sebagai objek dalam kaitannya dengan Islam sebagai sasaran studi budaya dan sosial adalah Islam yang telah menggejala atau yang sudah menjadi fenomena masyarakat muslim digital saat ini.

Syamsul Kurniawan mahasiswa S3 Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, speaker pada Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-19 di Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com