detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 07 Oktober 2019, 10:00 WIB

Kolom

Bahasa Inggris Orang Jepang

Hasanudin Abdurakhman - detikNews
Bahasa Inggris Orang Jepang Hasanudin Abdurakhman (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Orang Jepang terkenal sebagai orang yang tekun. Dengan ketekunan itu mereka menguasai banyak hal. Tapi ada sebuah pengecualian, yaitu soal bahasa Inggris. Tingkat penguasaan bahasa Inggris orang Jepang sangat rendah, mungkin di bawah orang Indonesia. Secara umum orang Jepang tidak menguasai bahasa asing. Mengapa demikian? Bukankah orang yang terbiasa tekun seharusnya juga tekun dalam belajar bahasa? Soal bahasa ini jadi semacam anomali dalam masyarakat Jepang.

Pendidikan Jepang sebenarnya cukup bagus. Tidak seperti pendidikan kita yang sejak dini sudah menjejali anak-anak dengan pengetahuan, atau lebih tepatnya hafalan, pendidikan Jepang pada usia dini berfokus pada pembentukan karakter dan practical intelligent. Anak-anak tidak diajari dengan pengetahuan berbasis buku teks, tapi diarahkan untuk berpikir dan mencari solusi.

Anak-anak juga diajari berbagai pengetahuan dan keterampilan sosial yang berguna bagi kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat. Tata cara naik kendaraan umum, misalnya, diajarkan sebagai bagian dari mata pelajaran di sekolah. Tapi semua itu seakan tak berlaku untuk pelajaran bahasa Inggris.

Pelajaran bahasa Inggris di sekolah-sekolah Jepang tidak mengajari siswa untuk punya keterampilan berbahasa. Mereka diajari untuk mengingat bahasa Inggris sebagai sebuah pengetahuan tata bahasa. Tujuannya hanya agar mendapat nilai tinggi dalam ujian. Dalam hal ini sekolah di Jepang tak jauh berbeda dengan sekolah di Indonesia.

Dengan metode belajar yang demikian anak-anak yang tekun tidak menggunakan ketekunan mereka untuk berlatih berbicara. Mereka tekun dalam hal meraih pengetahuan tata bahasa untuk ujian saja. Ini menjelaskan kenapa sifat tekun tidak membuat orang Jepang mahir berbahasa Inggris.

Entah mengapa metode pengajaran ini tidak diubah. Pemerintah Jepang cukup memberi perhatian soal ini. Mereka menghabiskan cukup banyak dana untuk menyewa guru-guru asing dari Inggris, Amerika, dan Australia, dan menempatkan mereka di sekolah-sekolah. Sayangnya upaya itu tidak mampu menembus tembok tebal yang menghalangi orang Jepang untuk meraih keterampilan berbahasa Inggris.

Faktor bahasa asal juga sangat berpengaruh. Bahasa Jepang punya pelafalan khas, yang aspek bunyinya memang agak jauh dari pelafalan bahasa Inggris. Jadi, sangat sulit bagi orang Jepang untuk mengubah pelafalan. Contoh dasarnya adalah bahasa Jepang tidak punya bunyi "l". Orang Jepang tak tahu cara mengatur lidahnya untuk membunyikan huruf "l". Semua dibunyikan dengan bunyi "r". Karena itu banyak kosa kata bahasa Inggris yang tidak bisa mereka ucapkan dengan benar.

Misalnya, kosa kata "law" diucapkan jadi "raw", yang tentu saja punya makna lain dalam bahasa Inggris. Yang paling terkenal adalah "election day" yang berubah jadi "erection day". Tembok pelafalan ini sangat sulit untuk bisa dilewati oleh orang Jepang. Alih-alih mengatasi itu, orang Jepang mencari solusi lain, yaitu menekuk bahasa Inggris sesuai kebutuhan mereka.

Mereka menciptakan kosa kata serapan yang mudah mereka ucapkan. Contohnya, kata "animation" yang disingkat jadi "anime", atau "omelette rice" menjadi "omuraisu". Celakanya, kata-kata itu jadi populer di sebagian belahan dunia.

Faktor lain yang juga menghambat adalah perilaku sosial. Orang Jepang sangat komunal. Mereka terbiasa berkelompok. Berkelompok membuat mereka sulit berbeda, juga tidak mau tampak berbeda. Mereka tidak mau tampak menonjol. Karakter itu membuat anak-anak Jepang tak berani mencoba tanpa takut salah. Saat ia mencoba ia akan jadi sorotan. Saat ia dalam sorotan dan salah, itu jadi masalah besar. Karena itu mereka enggan mencoba berbicara.

Jepang adalah pemimpin dunia dalam hal teknologi, juga ekonomi. Karena itu banyak orang dari bangsa lain yang menyesuaikan diri dengan mereka. Orang-orang Amerika dan Eropa yang berbisnis di Jepang memilih atau terpaksa menguasai bahasa Jepang ketimbang berharap orang Jepang menguasai bahasa Inggris. Orang-orang Jepang terbiasa "dimanjakan" seperti itu.

Saat mereka bekerja dan berbisnis di luar negeri, mereka lebih mengandalkan jasa penerjemah lokal, ketimbang meningkatkan kemampuan karyawan dalam berbahasa Inggris. Atau, mereka menguasai bahasa lokal secara apa adanya, sekadar cukup untuk berkomunikasi secara minimalis. Ringkasnya, nyaris tidak ada keadaan memaksa bagi orang Jepang untuk berbahasa Inggris. Tanpa kemampuan bahasa Inggris pun mereka bisa merambah berbagai belahan dunia.

Apakah Jepang punya kebanggaan bahasa yang tinggi seperti orang Prancis yang menolak berbahasa Inggris? Sejauh yang bisa saya amati tidak demikian. Orang Jepang cenderung merendah. Mereka menganggap tidak bisa berbahasa Inggris itu karena mereka memang tidak bisa, semacam pengakuan keterbatasan.

Tentu saja perlahan Jepang juga sedang berubah. Berkembangnya korporasi mereka yang berbisnis secara global sedikit mendorong anak-anak muda untuk lebih tekun belajar berbicara dalam bahasa Inggris. Perusahaan juga melakukan usaha yang lebih serius untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris karyawan.

Turisme Jepang sekarang juga terasa semakin meningkat aktivitasnya. Jepang sedang membuka diri secara besar-besaran untuk menerima kunjungan wisatawan. Ini sedikit banyak akan mendorong orang-orang Jepang untuk lebih mahir berbahasa Inggris.

Hasanudin Abdurakhman cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com