detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 04 Oktober 2019, 13:57 WIB

Kolom

Menggerakkan Wisata Warisan Industri

Christian Saputro - detikNews
Menggerakkan Wisata Warisan Industri Lawang Sewu bekas Kantor Jawatan Kereta Api zaman kolonial kini jadi ikon wisata Kota Semarang
Jakarta -

Di Indonesia wisata warisan industri mulai digerakkan, atau setidaknya telah banyak diwacanakan. Potensi dan asetnya memang sangat besar. Banyak industri strategis milik negara di bawah wewenang Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha milik Daerah (BUMD). Selain itu tentunya juga industri-industri yang dipelopori oleh perusahaan swasta dan masyarakat.

Karena pertimbangan soal lokasi maupun fasilitas pendukungnya, aset-aset lama warisan dunia industri itu sering tidak dipergunakan lagi, mulai dari area perkebunan, pabrik-pabrik, dan perkantoran. Aset-aset ini tentunya merupakan saksi sejarah dan bisa untuk pembelajaran masyarakat mengenai perkembangan sosial, budaya, dan ekonomi kawasan jika diberdayakan dengan benar dan optimal sebagaimana telah dibuktikan di negara lain.

Jika aset-aset ini tidak diberdayakan dan dilestarikan akan mangkrak dan hancur sia-sia. Padahal industri-industri tersebut bisa jadi pernah menjadi ikon dan denyut sebuah kota.

Meningkatnya Perhatian

Komite Internasional untuk Pelestarian Warisan Industri (The International Committee for the Conservation of the Industrial Heritage) atau biasa disebut TICCIH (dibaca "ticky") telah menghasilkan kesepakatan mengenai pengertian warisan industri dan arkeologi industri yang mengacu pada The Nizhny Tagil Charter For The Industrial Heritage.

Warisan industri merupakan peninggalan budaya industri yang mempunyai nilai sejarah, teknologi, sosial, arsitektur dan ilmiah. Peninggalan ini bisa berupa bangunan, mesin, bengkel, pabrik, pertambangan, tempat pengolahan dan pemilahan, gudang, toko, tempat yang menghasilkan, menyalurkan dan menggunakan energi beserta seluruh infrastrukturnya. Termasuk tempat-tempat yang digunakan untuk kegiatan sosial dan lingkungan berkaitan dengan industri seperti perumahan, rumah ibadah, atau pendidikan.

Sedangkan pengertian arkeologi industri adalah disiplin ilmu yang mendalami peninggalan teraga maupun tak teraga, dokumen, artefak, stratigrafi, struktur, pemukiman, lansekap alam, dan perkotaan yang dibangun untuk atau oleh proses industri. Arkeologi industri merupakan disiplin ilmu paling sesuai untuk meningkatkan pemahaman tentang industri di masa lalu maupun masa kini.

Sidang Majelis Umum TICCIH ke-15 pada 2012 di Taipeh menunjukkan meningkatnya perhatian TICCIH tentang pusaka industri di Asia yang terancam. Sidang ini menghasilkan rumusan kesepakatan tentang pelestarian warisan industri di Asia yang sifat dan jenisnya berbeda dengan warisan industri di Barat.

Warisan industri bentuk intangible berupa proses kegiatan peninggalan budaya industri (termasuk ritual), pengetahuan dan ketrampilan peninggalan budaya industri, dan objek yang berkaitan dengan kegiatan peninggalan budaya industri (berupa produk, instrumen yang digunakan untuk handicrafts, dan sebagainya).

Sedangkan bentuk tangible berupa bengkel atau ruang kerja, perusahaan dan pabrik (termasuk bangunan kantor), kawasan atau kampung, dan rumah sekaligus sebagai tempat produksi.

Sejarah Kota

Aktivitas kegiatan ekonomi masyarakat yang digerakkan perusahaan-perusahaan yang ada tentunya menjadi salah satu bagian peninggalan sejarah kota, baik dalam bentuk tangible yang berupa sarana pewadahan aktivitasnya maupun yang berbentuk intangible yang berupa aktivitas itu sendiri beserta instrumen dan produknya.

Warisan industri mampu memberikan bagian alur cerita sejarah perkembangan kota dari sisi perekonomian dan menjadi bagian dari nilai sosial, kehidupan masyarakat, dan memberikan sentuhan rasa dan identitas kota. Oleh karena itu, warisan industri yang dimiliki perlu dilestarikan dalam rangka untuk mempertahankan eksistensi aktivitas ekonomi masyarakat yang telah ada sejak dulu serta mampu mempertahankan bangunan-bangunan bersejarah.

Diharapkan warisan industri tak hanya jadi mesin ekonomi, tetapi juga merupakan wujud organisasi sosial dan budaya masyarakatnya. Sehingga pengembangan warisan industri ke depan tetap berbasis pelestarian.

Ceruk Pasar

Kota Sawahlunto di Sumatra Barat adalah salah satu kota di Indonesia yang berusaha mengeksploitasi aset warisan industrinya. Sejak 2004, Sawahlunto memiliki kebijakan untuk menjadikan warisan industri sebagai tujuan wisata termasuk merehabilitasi jalur kereta api. Hasilnya cukup menggembirakan karena pada 2014 sepertiga pendapatan daerah berasal dari bidang pariwisata.

Di beberapa daerah lainnya, wisata warisan industri ini mulai dilirik baik oleh swasta maupun BUMN. Di Semarang, beberapa perusahaan mulai mendirikan living museum, seperti PT KAI dengan proyeknya Lawang Sewu, Museum Kereta Api Ambarawa, PT Jamu Jago dengan Museum MURI, dan PTPN IX Jawa Tengah dengan Kampung Kopi Banaran Resort, kafe, dan paket agrowisatanya. Di Solo ada The Tjolomadu Heritage dan Rumah Atsiri di Karanganyar.

Wisata warisan industri memang merupakan wisata minat khusus. Tetapi kalau digarap dengan serius ke depan bisa mempunyai prospek yang cerah. Dalam hal ini Kementerian Pariwisata harus bisa menggandeng para pemangku kepentingan untuk mengolah potensi yang ada dan menjual ke pasar.

Pemerintah daerah harus bisa meyakinkan perusahaan dan para konglomerat yang sudah sukses untuk membangun rekam jejak usahanya berupa aset gedung-gedung kantor, pabrik, dan aset lainnya sebagai living museum bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR)-nya.

Sedangkan untuk sasaran ceruk pasar khususnya adalah siswa-siswa yang diatur dalam paket wisata karya. Kunjungan wisata ke objek wisata warisan industri ini bertujuan mengenalkan potensi daerah, membangun semangat wirausaha yang didapat dari jejak patron konglomerat yang berhasil, menggerakkan ekonomi masyarakat, dan pada gilirannya mendukung pelestarian pusaka industri di Indonesia.

Christian Heru Cahyo Saputro Direktur Jung Foundation Lampung Heritage dan peneliti Sekelek Institute and Publishing House, anggota Jaringan Sumatera untuk Pelestarian (Pan Sumatera Network); tinggal di Bandar Lampung


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com