detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 04 Oktober 2019, 11:54 WIB

Kolom

Belajar Pariwisata dari Suku Maori

Setiawan Priatmoko - detikNews
Belajar Pariwisata dari Suku Maori Rumah adat Suku Maori
Jakarta -

Dalam sebuah kesempatan saat tugas di Selandia Baru, saya bersama beberapa dosen dari Indonesia berkunjung ke rumah adat Suku Maori. Suku Maori adalah penduduk asli Selandia Baru. Kami mendapat undangan dari pusat kebudayaan Maori di dalam komplek kampus Auckland University of Technology (AUT).

Rumah adat suku Maori disebut Marae. Rumah adat tersebut dikelilingi pagar kayu yang rapat setinggi sekitar dua meter lebih sedikit. Dari luar pagar tidak bisa dilihat apa yang ada di dalam karena susunan pagar kayu yang rapat. Dari pihak kampus AUT sebelumnya memberitahukan kepada kami bahwa tidak ada jaminan kami dapat diterima masuk bahkan ke dalam pagar rumah adat Maori.

Mengapa? Suku Maori akan menanyakan terlebih dahulu kepada leluhur mereka melalui suatu ritual khusus untuk memastikan bahwa kami tidak membawa pengaruh jahat atau negatif kepada mereka. Jadi sementara mereka melakukan ritual, kami hanya bisa menunggu dari luar pagar. Sesekali terdengar semacam kidung-kidung dengan bahasa yang tidak kami kenal, Bahasa Maori.

Ritual dilakukan sekitar 10 menit dan kemudian tak lama gerbang dari kayu yang sama rapatnya terbuka perlahan. Muncul seorang gadis yang mempersilahkan kami masuk dan menyatakan bahwa arwah leluhur telah memberikan izin.

Secara teknis sikap yang ditunjukkan oleh tuan rumah dalam melakukan aksi ritual penyambutan atau lebih tepatnya seleksi atas tamu yang akan memasuki rumah adat mereka tampak sederhana. Namun kesederhanaan dan ritual yang mereka tunjukkan itu membawa kesan yang mendalam bagi kami sebagai tamu.

Selanjutnya saya bersama 19 dosen utusan Kemenristekdikti lain yang ada saat itu merasakan kesan yang sama: tidak berani sembarangan ketika memasuki rumah adat tersebut. Walaupun kami sadar bahwa ada kemungkinan lain dari ritual yang ditunjukkan tersebut adalah sebuah skenario atraksi menyambut tamu/wisatawan tetap saja kami tidak berani coba-coba untuk bersikap sembarangan.

Ada satu hal lagi yang cukup mengesankan. Setelah kami dipersilakan masuk ke dalam rumah adat dan sedikit basa-basi sambutan, selanjutnya kami dipersilakan untuk makan bersama. Aneka jenis hidangan sudah disiapkan dan kami makan bersama. Uniknya semua orang termasuk tuan rumah wajib membawa sendiri piring-piring dan gelas kotor yang telah dipakai dan menaruhnya di dekat dapur.

Tidak ada pelayan yang mengambil gelas dan piring kotor bekas makan tamu. Hal ini dilakukan karena orang Selandia Baru berpedoman: Engkau memang datang sebagai tamu, tetapi ketika pulang engkau telah menjadi bagian dari keluarga kami. Bukan keluarga namanya kalau piring dan gelas yang sudah dipakai tidak dibawa sendiri ke dapur atau tempat cucian piring.

Itulah yang dilakukan orang Selandia Baru untuk menjaga adat sekaligus harga diri mereka sebagai sebuah bangsa. Selandia Baru telah menjadi tujuan jutaan orang wisatawan dari seluruh dunia. Orang Selandia Baru sadar bahwa selain alamnya yang memang masih terjaga dan indah, kebudayaan juga menjadi daya tarik yang tidak boleh begitu saja takluk dengan bisnis pariwisata.

Wisatawan memang diharapkan datang dengan uang dan belanjanya, tetapi harga diri dan kehormatan mereka tetap dijaga sehingga walaupun posisi kami sebagai utusan negara pun harus melalui saringan ritual sebelum memasuki rumah adat mereka.

Bagaimana dengan kita? Apakah kita sudah seberani dan segagah orang Maori dalam menerima wisatawan? Apakah kita bisa dan berani membuat skenario yang membuat wisatawan tidak berani sembarangan ketika misalnya memasuki rumah joglo atau tempat-tempat ritual dan keagamaan?

Ada banyak cara yang sebenarnya dimiliki oleh kearifan lokal berbagai budaya di Nusantara dalam menyambut tamu. Tujuannya hampir sama dengan yang dilakukan suku Maori yaitu melakukan seleksi awal apakah si tamu membawa pengaruh negatif atau tidak terhadap lingkungan secara fisik atau batin pemilik rumah.

Namun karena sebagian dari kita tidak paham dan kadang gagap menghadapi tamu-tamu khususnya wisatawan berduit, nilai-nilai sakral budaya setempat jadi terabaikan. Maka muncullah berita-berita semacam rombongan wisatawan berbuat tak sopan di desa wisata atau wisatawan melecehkan tempat yang dianggap sakral oleh kelompok masyarakat tertentu.

Ketidakpahaman warga masyarakat ini memang harus dijembatani dengan baik oleh orang-orang yang paham dengan isu-isu pariwisata global. Kondisi bisnis pariwisata saat ini sangat berbeda dengan lima tahun ke belakang. Saat ini dengan kemudahan akses dan teknologi informasi membuat orang-orang dari seluruh Indonesia bahkan dunia mudah menjadi wisatawan.

Dahulu wisatawan sering dikoordinasi dalam grup-grup besar yang di dalamnya ada tour leader dan pemandu wisata yang membantu mengarahkan. Kini dengan adanya aplikasi travel online, wisatawan lebih banyak dalam bentuk grup kecil atau individu. Mereka sering tidak merasa perlu tour leader atau pemandu wisata karena semua dianggap bisa dicari dari Google.

Apabila pengelola berbagai destinasi berbasis budaya tersebut tidak memahami situasi tersebut, maka ketahanan budaya dan harga diri pelaku bisnis pariwisata di Indonesia akan dianggap bisa dibeli dengan uang. Wisatawan tidak merasa perlu belajar kesopanan dan adab sebagai tamu karena tidak dikenalkan instrumen penyaring seperti yang dilakukan oleh Suku Maori tadi.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com