detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 03 Oktober 2019, 16:17 WIB

Analisis Zuhairi Misrawi

Setahun Kematian Khashoggi

Zuhairi Misrawi - detikNews
Setahun Kematian Khashoggi Zuhairi Misrawi (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Setahun kematian Jamal Khashoggi di Konsulat Arab Saudi, Istanbul, Turki dirayakan oleh para jurnalis dan sejumlah aktivis hak asasi manusia (HAM), termasuk tunangannya, Hatice Cengiz. Tawakool Karman, peraih Nobel Perdamaian asal Yaman secara tegas menyatakan, apa yang dilakukan terhadap Khashoggi mirip dengan kelakuan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Arab Saudi harus bertanggung jawab penuh atas kematian Khashoggi.

Di Amerika Serikat, sejumlah anggota Kongres juga mendesak pemerintah AS agar mengambil langkah-langkah tegas terhadap pelaku pembunuhan mantan jurnalis yang semasa hidupnya menetap di AS dan menjadi kolomnis di Harian The Washington Post itu. Bahkan jika perlu ada sanksi tegas terhadap Arab Saudi yang diduga kuat adanya keterlibatan Muhammad bin Salman (MBS) dalam kematian tersebut.

Sayangnya, Presiden AS Donald Trump belum mengambil langkah-langkah tegas terhadap Arab Saudi, khususnya MBS. Trump hanya menyatakan bahwa MBS bisa disebut terlibat dan juga bisa disebut tidak terlibat dalam pembunuhan Khashoggi. Alih-alih menekan MBS, Trump justru makin mesra dengan Putera Mahkota Arab Saudi tersebut. Seolah-olah Trump pasang badan terhadap MBS.

Meskipun demikian, kematian Khashoggi akan terus menjadi mimpi buruk bagi MBS. Secara hukum memang belum ada sanksi yang diterima bagi MBS, dan mungkin ia akan bebas melenggang karena posisinya yang tidak mungkin tersentuh sebagai Putera Mahkota dan kandidat kuat Raja Arab Saudi. Tetapi secara moral ia sudah dihukum oleh dunia internasional.

Faktanya, beberapa investor yang sebelumnya berminat melakukan investasi besar-besaran dalam rangka merealisasikan visi 2030 kemudian memilih untuk mengurungkan keterlibatannya dalam mimpi besar MBS tersebut. Itu maknanya, para investor sudah menganggap MBS sebagai sosok yang berlumuran darah dan tak bisa dipercaya dalam menegakkan HAM.

Padahal sebelumnya, MBS sudah melakukan terobosan yang luar biasa dalam rangka memastikan transformasi Arab Saudi dari wajah keras keberislaman menuju wajah moderat. Ia membolehkan perempuan mengemudi mobil, berbisnis, dan ikut berperan dalam militer. Belum lagi, warga Arab Saudi dapat menikmati film-film Hollywood dan konser musik, yang tidak terpikirkan sebelumnya akan bisa dinikmati oleh warga Arab Saudi, khususnya kaum milenial.

Apalagi MBS sampai sekarang juga belum melakukan tindakan hukum terhadap 11 orang dekatnya yang diduga menjadi pelaku pembunuhan Khashoggi. Saud al-Qahtani yang disebut-sebut sebagai eksekutor pun hingga saat ini belum terlihat nasibnya. Ada yang menengarai ia sudah dibunuh, tetapi ada yang menyebutkan ia masih hidup. Sampai saat ini belum ada langkah hukum terhadap orang-orang yang secara nyata terlibat langsung dalam pembunuhan jurnalis yang kritis pada MBS itu.

Belum lagi, yang sangat mengenaskan juga, bahwa jasad almarhum Khashoggi pun tidak jelas posisinya. Ia tidak hanya dibunuh, tetapi jasadnya pun tidak meninggalkan jejak. Khashoggi merupakan wajah dari kebiadaban rezim Arab Saudi yang ingin membungkam suara-suara kritis. Ironisnya, MBS kerap menggunakan "tangan besi" dalam memberangus suara-suara kritis. Bahkan ia menggunakan klaim melawan terorisme dalam menghadapi para jurnalis, aktivis, dan ulama yang menentang kebijakannya.

Konon, ada ribuan orang yang mendekam di penjara tanpa pengadilan yang transparan dan adil akibat kritisisme mereka. Selain itu, orang-orang Syiah yang sebelumnya kerap mengkritik MBS juga disebut-sebut sedang menunggu giliran hukuman mati dari MBS.

Ironisnya, manuver-manuver MBS tersebut hanya dianggap angin lalu oleh AS dan Inggris, dua negara yang selama ini lantang menyuarakan dan menjunjung tinggi HAM. Tidak ada tekanan yang serius dan memaksa terhadap MBS, termasuk dalam kaitan dengan kasus Khashoggi.

AS dan Inggris justru terus memberikan dukungannya terhadap MBS. Setidaknya bisa dilihat dalam kasus Perang Yaman. Padahal Kongres sudah memberi catatan merah terhadap Arab Saudi, karena ada sekitar 50.000 warga Yaman sudah menjadi korban akibat rudal-rudal yang digunakan Arab Saudi. Dan rudal-rudal tersebut berasal dari AS dan Inggris.

AS dan Inggris secara terang-terangan justru memilih untuk mengutamakan bisnis senjata daripada HAM. Kematian Khashoggi yang mendapatkan perhatian dunia internasional tidak mampu mengetuk hati AS dan Inggris. Belum lagi Perang Yaman yang semakin menambah suramnya masa depan HAM di Arab Saudi dan Timur-Tengah.

Padahal masalah kebebasan berpendapat merupakan masalah serius yang setiap saat disuarakan oleh warga Arab Saudi yang menetap di Eropa dan AS. Mereka tidak lelah-lelahnya menyuarakan nasib para aktivis HAM, ulama, dan oposisi di Arab Saudi yang di penjara tanpa pengadilan, bahkan di antara mereka tidak bisa dikunjungi oleh keluarganya.

Maka dari itu, Arab Saudi mempunyai catatan buruk dalam kebebasan berpendapat. Kasus kematian Khashoggi menjadi bukti kuat bahwa MBS akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi mereka yang berseberangan dan mereka yang kerap mengkritiknya. Apa yang disebut sebagai visi 2030 dan moderasi Islam hakikatnya hanya omong kosong belaka, karena tidak menyentuh substansi penghormatan terhadap HAM.

Madawi Rasheed dalam Middle East Eye mengusulkan agar MBS diadili in absentia Mahkamah Internasional. Tidak hanya dalam kasus kematian Khashoggi, tetapi juga dalam kejahatan perang di Yaman. Hanya dengan cara itu, almarhum Khashoggi dan para korban perang mendapatkan keadilannya. Tanpa itu, sulit rasanya menuntut keadilan pada MBS dan Arab Saudi.

Dalam haul kematian Khashoggi, mari kita terus menyuarakan pentingnya kritik dan kebebasan berpendapat. Kritik akan menyehatkan demokrasi, sehingga setiap kebijakan seorang pemimpin dapat diuji publik. Dan Arab Saudi, khususnya MBS dapat mendengarkan suara-suara kritis dari dunia internasional di momen ini. Tidak hanya tahun ini saja, tetapi juga pada tahun-tahun yang akan datang hingga keadilan terwujud dan kebebasan berpendapat mendapatkan tempat di Arab Saudi.

Zuhairi Misrawi cendekiawan Nahdlatul Ulama, analis pemikiran dan politik Timur-Tengah di The Middle East Institute Jakarta


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com