detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 01 Oktober 2019, 15:32 WIB

Kolom

Iriana dan Kamera HP Jadul

Budi Adiputro - detikNews
Iriana dan Kamera HP Jadul Iriana bersama Puan Maharani, Megawati dan Jokowi (Foto: Budi Adiputro)
Jakarta - 10 November 2013, hari itu, jurnalis salah satu stasiun TV berita yang saat ini menjadi koresponden CNN Indonesia TV Nessia Megawati, seperti biasa meliput kegiatan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Hari itu memang belum ada agenda kegiatan yang jelas. Alhasil, Nessia harus menunggu sedari pagi di rumah dinas gubernur, Taman Suropati, Menteng.

Tiba-tiba secara mendadak (seperti biasanya) sekitar pukul 09.30 WIB, Jokowi keluar rumah. Sebagai jurnalis yang 'menempel' kegiatan Jokowi sehari-hari, tentunya Nessia mengikuti iring-iringan rombongan gubernur. Tak ada yang tahu tujuan blusukan Jokowi saat itu.

Dalam perjalanan barulah didapat info bahwa rupanya Jokowi harus menemani Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri untuk menghadiri sebuah acara menanam pohon salak di daerah Condet, Jakarta Timur. Acaranya ya berisi seremoni serta tanam-menanam seperti kesukaan ibu ketua umum.

Pagi itu, baik Jokowi maupun Megawati tampil full team. Presiden kelima Indonesia itu hadir dengan didampingi putrinya, Puan Maharani. Sementara Jokowi tampil mesra membawa Ibu Iriana. Mereka berempat tampak asyik mengikuti rangkaian acara dengan duduk berdampingan.

Nessia yang bersama wartawan lain kebagian duduk ngedeprok di tanah tiba-tiba kaget dengan gerakan dan suara kode dari seseorang yang memanggil.

"Psst...psst...foto, foto!" bisik seseorang dari arah Megawati, Jokowi, Puan sambil memberi kode melalui tangannya untuk difoto. Pesan itu pun ditangkap Nessia.

Nah, setelah pesan yang dimaksud ditangkap, sang pemberi kode lalu mengambil posisi foto dan mendekat ke arah Puan Maharani. Rupanya orang itu ingin difoto bersama Puan Maharani, seperti layaknya para fans yang ingin foto dengan idolanya. Dan, cekrek! Nessia memfoto dari BlackBerry-nya.

Sekitar 6 bulan setelah kejadian "minta difoto" di Condet, peristiwa serupa juga terjadi. Orangnya sama, kronologinya hampir sama, namun dengan tempat yang berbeda. Saat itu, adalah hari pencoblosan Pemilu Legislatif, 9 April 2014. Jokowi yang sudah ditetapkan sebagai capres dari PDI Perjuangan, bersama Iriana menemani Megawati dan kedua anaknya Puan Maharani dan Prananda memberi hak suara di TPS Kebagusan.

Selepas pencoblosan, para petinggi partai banteng menggelar jumpa pers. Komposisinya mirip seperti di Condet. Ada Jokowi, Megawati, Puan Maharani, Prananda dan Iriana. Begitu mereka bersiap duduk untuk memberikan keterangan bagi awak media, kilatan foto dan sorotan kamera televisi tak henti menyambar wajah para petinggi tersebut. Saya yang bertugas meliput, seperti biasa duduk ngedeprok di hadapan para tokoh yang akan menggelar konferensi pers.

Sambil mendengarkan keterangan Megawati, pandangan saya menyapu ke sisi lain meja konferensi pers. Di situlah muncul kode yang sama seperti di Condet dari orang yang sama pula.Tapi kali ini tanpa suara, hanya kode mulut dan mata. Saya yang sudah tahu cerita kejadian sebelumnya, sontak mengeluarkan BlackBerry, dan... cekrek! langsung memfoto.

Kemudian foto itu langsung dikirim ke BBM (aplikasi pesan singkat) milik sosok yang meminta foto. Objeknya, lagi-lagi Puan Maharani, Megawati, dan tentunya sang pemberi kode.

Sebenarnya dia bisa saja meminta foto dari para juru foto profesional yang bertaburan di sana. Mungkin, dia juga punya juru foto pribadi dan tentunya profesional yang pastinya selalu ikut ke mana Jokowi pergi. Kualitas foto yang dihasilkan sudah pasti jauh lebih baik, daripada cuma kamera BlackBerry milik saya.

Dan, sejurus kemudian, foto jepretan saya dipakai jadi foto profil di aplikasi pesan singkat milik si pemberi kode. Walaupun hanya beberapa hari, tapi pikir saya lumayan juga foto jepretan saya dipakai sosok orang penting.

Tapi begitulah sosok si pemberi kode. Dia tampil apa adanya, layaknya orang-orang biasa pada umumnya. Memfoto dengan kamera smartphone, lalu memajangnya di profil picture.

Oh iya, pemberi kode itu sekarang biasa kita panggil dengan sebutan Ibu Negara.

Pada hari ini, 1 Oktober, Ibu Iriana merayakan hari jadinya. Banyak cara kita dalam mengenang dan mengingat seseorang. Saya pribadi melihat sosok Iriana yang seperti itu. Sederhana, dan bahasa Jawa Timurannya tidak "mbosi" alias bergaya layaknya bos besar. Rasanya apa yang kita lihat memang tidak dibuat-buat dan enggan bergelimang hormat, meskipun sangat bisa jika ingin memanfaatkannya.

Sekali lagi selamat ulang tahun, Ibu Iriana Joko Widodo!

Budi Adiputro jurnalis CNN Indonesia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com