detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Selasa 01 Oktober 2019, 11:01 WIB

"Common Sense" Ishadi SK

Mengenang Aristides Katoppo

Ishadi SK - detikNews
Mengenang Aristides Katoppo Ishadi SK (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Jurnalis hebat Aristides Katoppo telah pergi meninggalkan kita, Minggu (29/9). Jenazahnya akan dikremasi. Pihak keluarga mengatakan separuh abu kremasi akan disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata (Almarhum pemegang Bintang Mahaputra), dan separuh ditaburkan di Puncak Gunung Gede diiringi para pendaki dan pencinta alam Mapala (Almarhum pendiri Mapala).

Pertemanan saya dengan Almarhum berlangsung sejak tahun 1967 ketika saya menjadi reporter muda TVRI Jakarta. Saya mengaguminya dan ketika mempersiapkan disertasi saya untuk program S3 di Universitas Indonesia 1998, saya menulis panjang lebar tentang Aristides Katoppo, karena masuk dalam bagian penting riset saya.

Saya kutipkan bagian dari disertasi saya yang kemudian diterbitkan dalam buku Media dan Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto (Gramedia:2014).

Ini adalah cuplikan dari buku tersebut, pada sub Bab V halaman 140-145.

Intimidasi terhadap Aristides Katoppo

Hukuman bagi pers yang dianggap beroposisi dan melawan pemerintah bisa lebih berat. Mochtar Lubis, jurnalis senior Indonesia, dan redaktur muda Agil Ali yang saat itu menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Memorandum Surabaya, dipenjara berbulan-bulan tanpa proses pengadilan. Aristides Katoppo, Pemimpin Redaksi Sinar Harapan, pada 1976 diancam akan dibunuh. Lebih dari itu, keluarganya pun diancam akan mengalami nasib yang sama.

Aristides Katoppo dilahirkan sebagai wartawan. Ayahnya, Elvianus Katoppo, pegawai tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Manado, mendidik anak-anaknya mencintai buku sastra dan seni. Dari sepuluh bersaudara, tiga adalah wartawan dan penulis ternama di Indonesia. Adiknya, Henriette Marianne Katoppo, menang dalam sayembara penulisan novel South East Asian Writers yang bermarkas di Bangkok pada 1978 untuk novelnya Raumanen. Novel itu juga mendapat penghargaan Dewan Kesenian Jakarta dan Yayasan Buku Utama. Adiknya yang lain, Yossie Katoppo, adalah wartawan Sinar Harapan. Karena tulisan-tulisannya yang sangat kritis kepada pemerintah ia dipaksa menyingkir ke Belanda oleh pemerintah Orde Baru dan bekerja di radio Hilversum Belanda.

Di awal kariernya Aristides Katoppo sebagai redaktur muda Kantor Berita Biro Pers Indonesia (1957-1958), dia mendapat penghargaan Adinegoro Award untuk liputan mengenai gerakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Riau. Berita pertama yang diliputnya adalah peristiwa penggranatan Presiden Soekarno di Sekolah Cikini, Juli 1957. Ketika itu dia sedang berada di tempat kejadian dan menyaksikan langsung peristiwa tragis itu. Dia ikut serta membantu menyelamatkan para korban ke rumah sakit, dan setibanya di kantor diminta menulis laporan jurnalistik mengenai peristiwa itu karena menjadi satu-satunya wartawan yang berada di lokasi.

Sudah menjadi karakter Aristides Katoppo untuk berpikiran kritis terhadap setiap ketidakadilan. Merasa tidak nyaman dengan pekerjaan wartawan Indonesia yang terpaksa harus mengabarkan cerita sukses saja, dia kemudian memutuskan berhenti dari Kantor Berita Biro Pers Indonesia dan bekerja sebagai freelancer untuk koran The New York Times dan kantor berita Associated Press. Di sini kemampuan profesionalnya dipuji. Dia banyak mendapat wawancara eksklusif dengan tokoh oposisi Indonesia dan tulisannya mendapat banyak pujian dari berbagai kalangan wartawan asing.

Pada 1961, dia diminta oleh Hendrikus Gerardus Rorimpandey, wartawan senior yang pernah mendirikan Buletin Ekonomi Keuangan pada 1955, untuk membantu Sinar Harapan. Penerbit harian ini didirikan oleh sebagian besar orang Kristen bekas anggota Partai Kristen Indonesia (Parkindo), yang menurut Daniel Dhakidae, sejak awal ingin memperjuangkan posisi politik kaum minoritas Kristen di Indonesia.

Sinar Harapan mengisi kekosongan harian sore kala itu. Pada 1950, Inyo Beng Goat pernah mendirikan harian sore Keng Po yang sukses besar. Koran ini ditutup pada 1967 karena sering tidak sejalan dengan politik Soekarno. Penggantinya, yakni Pos Indonesia, pada 1960 juga ditutup karena menentang Manifesto Politik Soekarno.

Dalam terbitannya, Sinar Harapan banyak membuat berita eksklusif. Di masa itu wartawan-wartawan nasional terbaik berkumpul di harian tersebut, di antaranya Sabam Siagian, Annie Bertha Simamora, Max Karundeng, dan Subagyo PR. Sinar Harapan dengan cepat merebut hati pembaca karena keberaniannya menggali dan mengemukakan fakta.

Karena keberaniannya untuk mengungkap masalah secara mendalam dan eksklusif tanpa pandang bulu, mulai 1970 koran ini sudah mulai bermasalah dengan penguasa. Secara terus-menerus Sinar Harapan membongkar korupsi yang dilakukan Direktur Utama Pertamina, Ibnu Sutowo, dan para jenderal yang berada di sekeliling Presiden Soeharto seperti Soedjono Hoemardani, Achmad Tirtosudiro, Alamsyah Prawiranegara, Suhardiman, dan Suryo.

Demonstrasi mahasiswa yang kemudian marak seiring dengan kampanye antikorupsi yang dilancarkan oleh media, termasuk Sinar Harapan, mengakhiri bulan madu Presiden Soeharto dengan mahasiswa yang empat belas tahun sebelumnya membantunya menggulingkan Soekarno. Soeharto belum tersentuh oleh kampanye antikorupsi tersebut, namun berjanji memberantas korupsi dengan membentuk Komisi Empat yang terdiri dari sejumlah tokoh partai dan pendidikan, yaitu Wilopo (PNI), IJ Kasimo (Partai Katolik), Johannes (mantan rektor UGM), dan Anwar Tjokroaminoto (PSII), serta menggandeng sesepuh bangsa Moh. Hatta sebagai penasihat.

Tim tersebut bertugas mencari fakta dan menyampaikan saran kepada Presiden tentang bagaimana memberantas korupsi yang dituduhkan mahasiswa itu. Temuan Komisi Empat, di antaranya adalah korupsi di proyek-proyek Pertamina, Badan Urusan Logistik (Bulog), Departemen Kehutanan, dan beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Soeharto sangat marah dan merasa dipermalukan ketika laporan Komisi Empat yang menyebut-nyebut nama Jenderal Suryo, Asisten Pribadi Keuangan Presiden dibocorkan oleh Sinar Harapan. Aristides Katoppo menolak tuduhan membocorkan temuan Komisi Empat. Dia berpendapat bahwa Komisi Empat dibentuk dengan tujuan untuk merespons tuntutan mahasiswa, karena itulah temuannya wajib untuk diberitakan. Soeharto tidak dapat mengambil tindakan apa pun kepada Sinar Harapan.

Saat meresmikan Rumah Sakit Pusat Pertamina di Jakarta, Presiden Soeharto mengatakan gerakan menentang proyek Ibu Tien telah dipolitisasi menjadi gerakan untuk mengganggu stabilitas nasional dan menentang serta menjatuhkan dirinya sebagai Presiden. Ia mengancam akan menggebuk penentangnya dan akan menggunakan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) jika diperlukan.

Sejak itu Aristides Katoppo menjadi sasaran intrik dan beberapa kali diinterogasi oleh aparat keamanan. Salah satu pengalaman yang dirasakan amat menekan adalah ketika pada suatu hari dia diculik dan dibawa ke tempat interogasi yang biasanya digunakan untuk menginterogasi tahanan G30S/PKI. Seperti dikatakannya:

"Ada satu hal yang waktu itu benar-benar menekan saya, ketika pejabat intel yang menginterogasi saya mengatakan begini, 'Anda kuat, tahan, dan kami angkat topi. Tapi kami pun harus melaksanakan tugas. Anda tahu intel punya banyak cara. Anda tahu orang yang ditabrak truk di Senayan beberapa hari lalu dan di kantongnya ditemukan identitas pemuda rakyat, kami bisa buat yang sama terhadap Anda.'

Saya bilang, 'itu kan tanggung jawab Anda. Kalau urusan nyawa itu di tangan Tuhan.' Tapi kemudian yang bikin saya guncang ketika dia bilang begini, 'Anak-anak kamu kan tiap hari menyeberang di Jalan Pegangsaan untuk berangkat atau pulang sekolah. Di situ kan ramai sekali. Sesuatu juga bisa terjadi terhadap anak Anda.' Ini membuat saya tegang. Saya tak punya hak untuk melibatkan anak saya dalam hal ini." (footnote: wawancara Aristides Katoppo, 8 April 2002)

Namun, Aristides Katoppo sadar bahwa tentara tak akan menutup korannya. Pertama, karena mereka suka orang yang berani. Kedua, Sinar Harapan adalah koran Kristen yang antikomunis, yang perlu dijaga kelangsungan hidupnya. Aristides Katoppo juga menceritakan peristiwa lain tentang perilaku penguasa terhadap pers pada waktu itu:

"Pada 1971, ada berita menarik mengenai kampanye Golkar. Kita sudah di-briefing, pokoknya akan ada minggu tenang. Koran jangan melakukan berita yang mengarah pada provokasi. Tapi di minggu tenang itu Golkar justru main kayu bekerja sama dengan tentara melakukan intimidasi. Sinar Harapan mengangkat berita itu. Saya ditelepon Yoga Sugama untuk menghentikan berita itu. Rencananya ada tiga seri berita. Baru satu, terus dihentikan. Tapi laporan dari Jawa Tengah dan Jawa Barat yang dibuat Yopie Lasut kita hentikan. Laporan dari Sumatera yang dibuat Panda Nababan lolos dan dimuat. Pagi-pagi saya ditelepon karyawan yang mengatakan Sinar Harapan akan ditutup. Saya bergegas ke percetakan untuk menahan terbitnya Sinar Harapan dan mengganti bagian yang membuat laporan itu. Sebagian sudah keburu beredar. Saya minta paling tidak Sinar Harapan yang mengarah ke rumah Yoga Sugama ditahan. Saya ke rumah Yoga dan dimarahi. Diancam akan ditutup. Karena targetnya sebelum Pemilu akan ada dua koran yang akan ditutup. Belakangan yang saya tahu adalah KAMI dan Duta Masyarakat yang dibredel." (footnote: wawancara Aristides Katoppo, 8 April 2002)

Pada Desember 1973, Sinar Harapan akhirnya dibredel karena memuat berita tentang Komisi Empat menggalang gerakan antikorupsi. Tapi alasan sesungguhnya adalah Sinar Harapan dituduh membocorkan angka Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mestinya akan diumumkan oleh Presiden 1 Januari 1974. Sinar Harapan diizinkan terbit lagi oleh Harmoko, dengan syarat Aristides Katoppo tidak aktif lagi di koran itu. Dia kemudian bersekolah di Universitas Stanford dan Universitas Harvard (Amerika Serikat) sampai 1975.

Selamat jalan, Aristides Katoppo! Anda telah memberi inspirasi kepada jurnalis muda soal esensi menjadi jurnalis sejati; berani dan tidak pernah tergetar dalam mencari kebenaran.

Ishadi SK Komisaris Transmedia


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com