Jeda

Memprediksi yang Tak Terprediksi

Mumu Aloha - detikNews
Minggu, 29 Sep 2019 13:40 WIB
Mumu Aloha (Ilustrasi: Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Seekor anak kucing yang saya pelihara, yang berhasil hidup sehat di antara empat anak lainnya yang sebelumnya mati satu per satu, pada suatu pagi hilang. Belum pernah saya merasakan kesedihan akibat kehilangan yang begitu besar, seperti ketika anak kucing yang telah berusia tiga bulan itu tiba-tiba lenyap dari kehidupan saya.

Kesedihan itu mendera saya selama berhari-hari, dan saya gagal menghibur diri untuk melupakannya. Hanya seekor kucing! Nanti, si induk betina yang biasanya datang dan pergi itu juga akan segera bunting lagi, dan beranak empat ekor lagi. Tapi, usaha yang saya lakukan untuk meyakinkan hati saya bahwa kesedihan itu akan segera berlalu rasanya sia-sia saja.

Ketika saya mendengar kasak-kusuk tetangga bahwa kucing kecil saya itu bukan "hilang", melainkan sengaja dibuang oleh salah seorang tetangga kami yang merasa terganggu, saya menjadi semakin sedih. Sejak itu, saya jadi memperhatikan dan mengawasi setiap ada kucing di jalanan, siapa tahu itu kucing saya yang dibuang itu. Tapi, lagi-lagi semua sia-sia, dan saya justru merasa telah bertingkah berlebihan dan bahkan tidak masuk akal.

Hanya seekor kucing, sekali lagi dan lagi saya terus berusaha menghibur diri. Lupakan saja. Lupakan saja. Tapi, kesedihan itu begitu nyata dan kuatnya, menguasai perasaan saya, mengalahkan hampir semua hal yang masih bisa saya rasakan. Saya ingat ketika kucing kecil itu pagi-pagi membangunkan saya, meong-meong meminta makan, lalu berlarian melompat-lompat dari satu tumpukan buku ke tumpukan lainnya di kamar saya, berdiri di bingkai jendela kaca, memandang pagi dengan bahagia.

Saya ngilu membayangkan, di mana sekarang kucing itu berada? Apakah dia sudah makan? Siapa yang memberinya makan? Apakah yang dia lakukan sekarang? Apa yang dia rasakan dengan "dunia baru"-nya, tanpa saya, bukan di kamar saya, dan melihat orang-orang yang bukan saya? Apakah dia sedih dan merana seperti saya?

Ternyata kehidupan bisa berubah pada suatu pagi. Kau bangun tidur, dan mendapati apa yang biasanya terjadi, apa yang biasanya kamu rasakan, tiba-tiba tidak sama lagi. Bagimu, dan bagi kucing yang bersamamu. Rasanya seperti mimpi; ketika kau bangun segalanya tidak nyata. Seperti fatamorgana; kau mengedipkan mata, dan ternyata tak melihat apa-apa.

***

Di kalangan penekun dan pecinta Ilmu Fisika, ada diskusi tentang SF. Bukan singkatan dari science fiction, melainkan "shooter" (petembak) dan "farmer" (petani). Dua kata itu mengacu pada dua hipotesis, keduanya melibatkan sifat fundamental hukum alam.

Hipotesis Petembak: seorang petembak ulung menembak sasaran, membuat lubang setiap sepuluh sentimeter. Sekarang, misalkan permukaan sasaran dihuni oleh makhluk pintar dua dimensi. Para ilmuwan mereka, setelah mengamati alam semesta, menemukan satu hukum penting, bahwa "terdapat satu lubang di alam semesta setiap sepuluh sentimeter".

Mereka salah memahami ketepatan petembak sebagai hukum alam semesta yang tidak bisa diubah.

Hipotesis Petani, di sisi lain, sedikit beraroma horor: seorang petani memiliki peternakan kalkun. Setiap pagi, sang petani memberi makan kalkun itu. Salah satu di antara kalkun-kalkun itu, yang sangat pintar, atau sebut saja kalkun ilmuwan, setelah mengamati pola itu, yang bertahan selama hampir satu tahun, menemukan suatu hukum. Bahwa "setiap pagi pukul sebelas, makanan akan tiba."

Pada pagi hari Thanksgiving, sang kalkun ilmuwan mengumumkan hukum itu kepada kalkun-kalkun lainnya. Namun, pada pagi hari itu juga, tepat pukul sebelas, makanan tidak datang. Justru yang terjadi, petani datang untuk menyembelih mereka!

***

Polarisasi politik akibat pilpres tempo hari melahirkan dua kubu "cebong" dan "kampret" yang saling berhadap-hadapan dengan luar biasa sengit. Saking sengitnya pengelompokan itu, kita (atau sebagian besar dari kita) kehilangan kewarasannya. Oke, mungkin akan lebih keren kalau dikatakan: kehilangan imajinasinya.

Seperti saya yang tak menduga bahwa kebersamaan bersama sang kucing bisa berakhir begitu saja pada suatu pagi, atau seperti ilmuwan makhluk pintar dua dimensi yang salah menyimpulkan sehingga menganggap hukum alam tidak bisa diubah, begitu pula yang terjadi dalam dunia politik kita. Tak ada realitas apapun di luar cebong dan kampret. Semua hanya tentang dua kubu itu.

Kita menjadi kalkun-kalkun yang gembira karena mengira bahwa datangnya makanan pada setiap pukul sebelas pagi adalah kebenaran mutlak. Kita lupa, atau memang telah menjadi demikian bebalnya, sehingga tak pernah terbetik sedikit pun pemikiran bahwa sang petani akan datang pada suatu pagi tanpa makanan, melainkan pisau berkilau di tangan.

Mengatakan bahwa polarisasi politik itu adalah ilusi tentu saja bisa memicu debat panjang yang selain tak berkesudahan juga tak berguna. Karena faktanya itu memang terjadi, sebagian di antara kita benar-benar merasakannya, atau setidaknya kita bisa melihat fenomenanya sebagai realitas politik hari ini. Tapi, memahami realitas politik sebegitu hitam putih, seolah-olah hukum alam yang tak bisa diubah, tanpa imajinasi tentang "sang petani dan kalkun-kalkunnya", jelas menjebak dan menyesatkan.

Bersatunya mahasiswa turun ke jalan, dalam berbagai aksi di sejumlah daerah (Gejayan Memanggil, Bengawan Melawan, Surabaya Menggugat) secara masif dalam kekuatan dan spirit yang mencengangkan, memberi pelajaran bahwa politik itu bukan rumus jika A sama dengan B, maka B sama dengan A. Politik itu bisa pagi A, sore B. Perlu imajinasi kreatif untuk memprediksi yang tak terprediksi, membaca yang tak tertera di halaman terbuka setumpuk buku di atas meja.

Selalu ada kemungkinan halaman yang hilang, atau bab yang "ketlingsut" dari buku yang kita sangka telah tercetak dengan sempurna. Selalu ada yang tersembunyi di bawah meja, atau sebaliknya berserakan di luar tempurung kenyamanan kita, di luar kotak-kotak kaku yang telah kita ciptakan.

Alangkah mudahnya jika politik bisa dirumuskan dengan kepastian. Bahwa hanya ada dua kubu yang berhadapan. Bahwa dengan mengerahkan "buzzer" yang men-trending-kan hashtag tertentu di media sosial, maka segalanya beres. Menjadi pemimpin itu tidak gampang. Politik adalah seni mengantisipasi kemunculan "angsa hitam" di antara angsa-angsa yang selama ini kita yakini biasanya pasti berwarna putih.

Politik adalah seni membaca yang tersirat; usaha untuk tidak terlena pada citra yang telah dibangun, melainkan bagaimana waspada dengan menyiapkan dan membentengi diri dengan perangkat untuk menghadapi sebuah kemungkinan yang tak terbayangkan. Bagaimana memahami sebuah generasi yang selama ini kita "kuyo-kuyo" dengan berbagai stigma negatif, kita pandang sebelah mata dengan penuh prasangka sebagai sekumpulan anak-anak muda yang apolitis, buta sejarah, asyik dengan dunia sendiri, tiba-tiba bisa terbangkitkan secara kolektif oleh panggilan untuk menyuarakan kepedulian pada isu-isu yang menyangkut masa depan kehidupan privat warga negara dan hak-hak demokratisnya, serta kelangsungan upaya pemberantasan korupsi?

Bangkitnya gerakan mahasiswa pada 2019 ini adalah sesuatu yang barangkali tak pernah diprediksi oleh siapapun, bahkan pengamat dan analis politik paling jitu sekalipun. Kendati jika kita melihat gejalanya secara global bisa mengatakan bahwa hal ini tidaklah terlalu mengejutkan, tapi tetap saja kita baru bisa mengatakannya setelah semua itu terjadi.

Barangkali memang naif, bahkan mungkin agak konyol, kalau kita melihat pamflet-pamflet yang diacungkan dalam demo-demo itu, yang sekilas terkesan simplistis ("Aku ingin yang-yangan tanpa ditangkap polisi"). Tapi, jika kita telaah lebih lanjut, itulah suara jujur dan asli dari generasi yang telah berubah, yang selama ini kita salah pahami atau kita pahami dengan salah.

Pamflet, bagaimanapun juga, bukanlah kajian ilmiah atau jurnal yang "ndhakik-ndhakik". Kita paham apa maksudnya, bahkan terasa sebagai sebuah "strategi diskursif" yang cerdas bila kita mengingat bahwa karakter generasi ini memang tidak sama --atau bahkan mungkin sudah "terputus"-- dengan zaman kita dulu.

Tanpa bermaksud, karena memang tidak perlu juga, untuk mengglorifikasi mereka, anak-anak muda itu dengan segala "kepolosannya" berbeda dengan generasi dulu yang "heroik", menyukai jargon ("hanya satu kata: lawan!"), dan memuja narasi-narasi besar. Mereka adalah generasi patah hati, generasi "meme", generasi stand up comedy, generasi webseries, generasi ambyar...mengolah kosa kata dari dunia keseharian mereka sendiri, dan mereproduksinya sebagai sebuah bentuk suara perlawanan, aspirasi politik; ringan, lucu, tapi jernih dan autentik.

Mereka lebih santai, mungkin terkesan dangkal, main-main, tidak menukik....tapi, hei, siapa bilang itu sama artinya dengan tidak paham substansi? Sekali lagi, mereka hanya berbeda saja dengan kita.

Dan, karena perbedaan itu, banyak di antara kita yang tidak siap menyambutnya, masih melihatnya dengan tatapan curiga ("ditunggangi kepentingan lain"), karena kita telah menjadi ilmuwan di antara sekelompok kalkun, yang terkecoh oleh pola, dan yakin telah menemukan sebuah hukum.

Mumu Aloha wartawan, penulis, editor

(mmu/mmu)