Kolom

Gejayan: Melampaui Perlawanan

Muhammad Nur Alam Tejo - detikNews
Sabtu, 28 Sep 2019 12:10 WIB
Foto: Istimewa
Jakarta -

Gejayan Memanggil bukan cuma gerakan yang meromantisasi sejarah. Kita tahu pada 8 Mei 1998, Jalan Gejayan, Yogyakarta mengguratkan sejarah yang turut mewarnai pergantian rezim di negeri ini. Moses Gatutkaca, yang diduga mahasiswa Sanata Dharma, tewas bersimbah darah di ruas jalan sebelah selatan kampusnya dan tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit. Diduga ia kehilangan nyawa akibat pukulan benda tumpul di kepalanya. Dari telinga dan hidungnya darah segar terus mengalir.

Aksi kala itu dikenang dengan peristiwa "Gejayan Kelabu". Sembilan belas tahun kemudian sejarah itu coba diulang, namun bukan dengan corak kelabu, melainkan dengan suasana lain yang menandai bahwa zaman sudah berubah dan mahasiswa punya cara lain dalam berdemonstrasi. Tak ada darah yang tumpah pada aksi yang bertitimangsa 23 September 2019 di tempat yang sama. Massa aksi yang mengikuti jalannya aksi bukan hanya mahasiswa se-Yogyakarta; ada buruh, ada aktivis lingkungan, pejuang kesetaraan gender, dosen, dan masyarakat sekitar.

Di Gejayan memang ada jejak luka, pemerintah kita tak bisa membacanya. Aksi Gejayan Memanggil berusaha mengingatkan pemerintah atas luka masa lalu dan luka masyarakat hari ini atas pelemahan KPK, RUU Pertanahan, beberapa pasal RUU KUHP yang bermasalah, dan sederet tuntutan lainnya. Gerakan ini bersifat inklusif, mengajak seluruh elemen masyarakat yang resah untuk memprotes, mempertanyakan ulang, dan mengoreksi kesewenang-wenangan para elite di Senayan.

Gejayan Memanggil berusaha menciptakan sejarah baru yang tak melulu bersimbah darah dan tak melulu soal saga kekalahan rakyat kecil. Ia berusaha menciptakan kemenangan, sekecil apapun, dan merebut kembali ruang publik kepada masyarakat. Ruang publik di mana rakyat bisa bebas menyuarakan kegelisahannya tanpa takut direpresi, apa lagi sampai ditahan oleh negara. Rakyat dalam aksi ini berusaha melepaskan sekat-sekat yang dibuat oleh para elite dan membaur menyuarakan suara yang sama, yakni suara rakyat suara Tuhan.

Rakyatlah yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi dalam demokrasi, bukan anggota DPR dan juga bukan pula Presiden. Rakyat menyuarakan suaranya yang tak terbatas pada kotak suara saat pemilu, mereka hadir dan lantang melawan segala bentuk kedzaliman yang merintangi kehidupan bermasyarakat. Dengan cara inilah rakyat menolak dipolarisasi akibat dampak yang disebabkan pertarungan politik dalam pemilu.

Bagi massa aksi Gejayan Memanggil, persoalan negeri ini terlalu luas untuk sekadar digeneralisasikan sebagai pro-pemerintah (yang seringkali diasosiasikan dengan Cebong) atau anti-pemerintah (yang diasosiasikan dengan Kampret). Ada banyak masalah bangsa yang coba dirangkum dalam aksi ini. Saya kira, sikap ini adalah manifestasi dari peranan mahasiswa dan pemuda sebagai poros ketiga yang menyeimbangkan polarisasi yang tak kunjung selesai.

Mikrokosmos

Banyak kelompok hadir melebur ke dalam harmoni Aliansi Rakyat Bergerak. Sebagai mikrokosmos di dalam massa aksi, tentu saya membawa keresahan tersendiri. Saya sebagai pekerja punya agenda untuk menolak pasal-pasal RUU Ketenagakerjaan yang tidak berpihak pada pekerja. Tapi itu adalah agenda besar pelik untuk diselesaikan dalam satu kali demo, maka saya mempunyai niatan sampingan ketika menjadi massa aksi Gejayan Memanggil.

Niatan itu berupa silaturahmi dengan teman sebaya dan melihat serta mendengar keresahan yang muncul di akar rumput. Ketika mendengar orasi perihal rasisme yang menimpa warga Papua di Yogyakarta, seketika itu pula rasa kemanusiaan saya bergidik dan membuat saya sadar bahwa warisan kolonialisme harus segera enyah dari bangsa Indonesia. Orasi Feminis Indonesia membuat saya paham mengapa RUU Penghapusan Kekerasan Seksual adalah hal mendesak bagi terciptanya kesetaraan antargender. Pandangan dari mahasiswa Hukum tentang pelemahan KPK memperbulat keyakinan saya bahwa KPK adalah institusi yang perlu dijaga dan diperkuat.

Ada lagi orasi dari para aktivis lingkungan dan pertanian yang menuntut pemerintah bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan permasalahan pertanian yang ada di Indonesia beberapa bulan belakangan. Juga ada orasi eksentrik dari mahasiswa UIN yang menyatakan "innalillahi rajiun, bagi hati nurani anggota DPR yang telah mati". Beragam mikrokosmos pikiran dari perwakilan massa aksi membuat saya tersadar bahwa masih banyak permasalahan rakyat yang penting untuk disikapi dan diberikan perhatian lebih ketimbang ribut-ribut soal Cebong atau Kampret.

Aksi Gejayan Memanggil bergerak dalam ranah itu. Mereka jelas-jelas menolak bahwa aksi mereka ditunggangi. Mereka hadir dalam sudut pandang paling manusiawi dari rakyat, mereka menuntut pemerintah mendengar jeritan suara rakyat. Kemanusiawian itu pun tercermin dari dukungan masyarakat sekitar kepada massa aksi yang memberikan support moral ataupun materiil. Ada tukang buah yang membagikan buah gratis kepada massa aksi, ada yang memberikan es teh gratis, dan ada juga yang sekadar memberikan semangat dari atas jendela rumahnya.

Saya rasa, ini adalah sisi romantik bahwa masyarakat sekitar sadar bahwa aksi inilah yang memberikan harapan bahwa rakyat kecil bisa bersuara. Jumlah mereka banyak dan mereka punya kekuatan untuk memberikan tekanan kepada pemerintah untuk mengubah kebijakan yang menyengsarakan mereka. Mereka adalah masyarakat keseharian. Merekalah wujud konkret realitas Yogyakarta secara khusus, dan realitas masyarakat Indonesia secara umum. Mereka pulalah yang sejatinya memperbaiki masalah negeri ini selapis demi selapis, bukan para elite yang malah memperkeruh urusan privat yang belum tentu membawa manfaat bagi mereka.

Ada semangat untuk memperjuangkan prinsip-prinsip kerakyatan yang diusung dalam aksi tersebut. Gejayan Memanggil sekali lagi tidak mendewakan figur; mereka percaya pada massa aksi, bahwa rakyatlah yang memegang kendali, memegang tampuk kedaulatan tertinggi dari hierarki kekuasaan negara demokratis. Mereka membela kemanusiaan bukan sebagai simbol, namun sebagai wujud konkret rakyat yang ditindas dan dirampas hak hidupnya. Begitulah kira-kira mikrokosmos Gejayan Memanggil. Tiap koordinator aksi saling bahu-membahu dengan rakyat menyuarakan suara mereka yang tertindas oleh sistem, oleh keserakahan para elite.

Visi Besar

Gejayan Memanggil adalah satu dari sekian ratus sejarah perlawanan rakyat terhadap kesewenang-wenangan. Dalam berjuang ada banyak aspek yang terus-menerus diusahakan. Perlu ditanamkan pada benak kita masing-masing bahwa aksi ini tidaklah berhenti sebatas jargon kata "lawan". Ia harus bisa melebihi aksi para pendahulunya yang sekadar meneriakkan kata lawan, namun tak mempunyai visi besar arah gerak bangsa Indonesia ke depan. Perlu dipikirkan dari jauh-jauh hari apa yang bisa dilakukan oleh masing-masing kelompok untuk memperjuangkan visi mereka secara bertahap.

Dengan visi yang jelas aktivitas keseharian pun bisa jadi bahan bakar untuk mengubah wajah muram masa depan Indonesia. Ketika visi bangsa Indonesia ke depan adalah Indonesia yang bebas dari kerusakan lingkungan, maka aktivitas keseharian menggunakan tumbler bisa jadi kita telah berupaya mengurangi sampah plastik yang merusak lingkungan. Jika visi besar Indonesia ke depan adalah menekan angka korupsi sampai di bawah 5%, maka mulai berlaku jujur dalam beraktivitas bisa mencegah bibit korupsi tumbuh. Lalu jika penghapusan diskriminasi gender adalah visi besar bangsa Indonesia ke depan, maka menghormati perempuan dan gender lainnya di ruang publik bisa mempercepat terjadinya kesetaraan gender di negeri ini.

Ada banyak cara menyangkal kesewenang-wenangan; demonstrasi damai beberapa hari lalu adalah salah satu contohnya. Namun, bagi saya, api kesewenang-wenangan itu tidak akan berhenti hanya dengan satu tiupan. Perlu napas panjang dalam mengurai centang-perentang persoalan negara ini. Saya yakin perlawanan sesungguhnya terjadi tiap saat dan di mana-mana. Perlawanan itu terjadi di pasar, di jalan raya, di ruang-ruang kelas, atau di balik tembok-tembok kota. Keberanian untuk memperjuangkan hak-hak hidup adalah perjuangan keseharian yang tanpa sadar telah kita lakukan tiap hari.

Oleh karena itu, penting untuk melampaui jargon kata "lawan" dan mulai mencari alternatif-alternatif baru dari sistem yang sudah usang dan mandek. Kacamata pergerakan kaum muda dan mahasiswa jangan sampai terkena lingkaran setan yang sama. Hari ini mendemo pemerintah, esok hari ketika memerintah malah didemo atas permasalahan yang sama. Barangkali dengan memegang teguh prinsip perlawanan dalam perilaku keseharian, maka sifat-sifat keberanian, kemanusiaan, kesetaraan, dan kebebasan akan tumbuh secara berkelanjutan.

Keberlanjutan prinsip nilai yang diusung itu merupakan modal awal untuk memutus rantai ketidakadilan yang terjadi di Indonesia. Selain strategi moral, ada juga strategi ekonomi politik yang harus dipikirkan masak-masak. Tujuan kemerdekaan Indonesia tidak akan tercapai hanya dengan seruan moral semata. Perlu adanya rancangan ekonomi yang jelas keberpihakannya pada rakyat, perlu strategi politik yang inklusif yang merangkul semua golongan, dan perlu aturan hukum yang tidak tebang pilih.

Banyak perlawanan rakyat tumpas sebelum berkembang karena napas panjang perjuangannya tidak mampu memproyeksikan gerakan ke depan. Ada beberapa langkah strategis untuk merawat perjuangan. Pertama, dengan merangkul teknologi. Teknologi digital jadi sedemikian pentingnya untuk memantik kesadaran untuk melawan. Dengan melek teknologi perlawanan rakyat dapat terekspos lebih luas. Dalam aksi Gejayan Memanggil kemarin terasa betul masifnya keresahan dapat tersebar secara luas melalui media sosial. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, aksi kemarin bisa mengumpulkan massa yang jumlahnya ribuan.

Kedua, tidak anti pada kajian-kajian ilmiah. Kajian ilmiah ini penting untuk selalu dilahap dan dikonsumsi habis oleh para pemuda dan mahasiswa. Tanpa kajian ilmiah segala tuntutan aksi hanya akan jadi pepesan kosong. Percuma turun aksi tanpa didukung oleh data-data relevan yang mendukung, lebih baik pulang saja daripada nantinya hanya mempermalukan diri sendiri apa lagi jika alasan aksinya hanya berdasarkan desas-desus konspirasi.

Ketiga, jangan pernah remehkan kekuatan massa aksi. Massa aksi adalah elemen vital dari gerakan sosial. Sifatnya yang destruktif berusaha untuk menekan pemerintah untuk segera melalukan aksi-aksi kongkret yang dilindungi oleh konstitusi. Metode perwakilan saat demonstrasi hanya akan membawa kemunduran, jika bukan kekalahan, kepada tuntutan yang diinginkan massa aksi.

Keempat, rawat semangat perjuangan dengan terus-menerus berdebat tentang pokok persoalan dan memberikan tawaran-tawaran alternatif dari berbagai kajian lintas disipliner. Perdebatan lintas disiplin keilmuan adalah modal penting untuk mengasah kemampuan membaca situasi. Dengan adanya kritik dan tukar menukar informasi kita menjadi terlatih melihat permasalahan dari sudut pandang lain sehingga punya perkakas pengetahuan yang lengkap.

Terakhir, rawat perlawanan dengan segala bentuk kesenian. Dalam gerakan kerakyatan, seni memegang peranan untuk menstimulus kesadaran masyarakat untuk menumbuhkan harapan dan merangsang imajinasi perlawanan. Estetika dan politik seiring sejalan berusaha untuk mencapai jalan kesejahteraan yang merupakan salah satu tujuan akhir dari keindahan.

Gejayan Memanggil adalah satu dari sekian banyak gerakan rakyat yang tentu saja punya banyak pemaknaan. Namun, yang terpenting bukanlah memperdebatkan pemaknaan siapa yang paling benar. Dalam wujud manusiawinya gerakan kerakyatan ialah mengkonkretkan keresahan jadi sebuah aksi nyata, menuliskan sejarah orang-orang kecil yang melawan, dan sedikit demi sedikit memadamkan api ketidakadilan di tanah Ibu Pertiwi.

Muhammad Nur Alam Tejo publisis di Bentang Pustaka dan pegiat komunitas literasi Luarkurung

(mmu/mmu)