Kolom

Darurat Operasi Mahasiswa

Firman Hidayat - detikNews
Selasa, 24 Sep 2019 13:12 WIB
Aksi mahasiswa di Tegal, Jawa Tengah (Foto: Imam Suripto)
Jakarta -
Sejumlah aksi yang dimotori oleh mahasiswa mencuat ke berbagai platform media, Senin (23/9) kemarin dan berlanjut hingga hari ini. Menghebohkan jagat maya. Darurat operasi aksi ini menjalar di berbagai titik. Di antaranya Bintan, Padang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Jombang, dan Malang hingga menjamur ke daerah lainnya yang tidak perlu disebut satu per satu.

Pada hakikatnya, daerah operasi mahasiswa ini kembali bergulir bukan tanpa sebab. Keinginan untuk kembali begitu kolektif. Yakni, ketidakberesan dan ketidakwarasan DPR meluluhlantakkan demokrasi di Indonesia. Intinya, semangat komunal ini berdasarkan desakan untuk menunda pembahasan ulang terhadap pasal-pasal bermasalah dalam RKHUP. Lalu, menolak segala bentuk pelemahan terhadap upaya pemberantasan korupsi, terkhusus UU KPK.

Acap kali aksi-aksi seperti ini didesasdesuskan dengan penunggangan dari berbagai pihak. Kerap berbagai oknum ingin mengempeskan semangat mahasiswa ini dengan melemparkan framing HTI. Seolah-olah HTI menjadi kesempatan mereka untuk mengucilkan aksi. Beragam cuitan seperti ini bertengger di media sosial. Namun, bukan saat yang tepat mahasiswa melakukan kompromi. Penyemutan justru terjadi di berbagai titik aksi.

Momentum Kegentingan

Romantisme masa lalu serasa menghampiri kami sebagai peserta aksi. Wajah memerah, keringat menetes, teriakan menggema, lantunan lagu mahasiswa yang mengiris hati kami, seperti mengantarkan pada aksi 1998 lalu. Berulang kali, "hidup mahasiswa!" terucap lebar, jika dihitung bisa ribuan kali.

Walaupun semua itu kami baca lewat buku, mendengar kesaksian sampai bualan alumnus 98. Setidaknya kami dapat merasakan aromanya. Ihwal nasib aksi ini berbeda, karena melawan pelaku dan korban dari sejarah Reformasi. Mereka semua berkumpul dan hadir di pemerintahan rezim ini. Soeharto-Soeharto kecil ini berkumpul pada kekuasaan struktural. Kami harus berjibaku dengan sekawan lama seperti alumni 98 di DPR dan jenderal-jenderal pelanggar HAM masa lalu.

Kami berbeda. Kami sedang berupaya membuat sejarah empiris. Teori Positivisme Auguste Comte sangat cocok diimplementasikan dalam aksi ini. Menciptakan perjuangan objektif dengan pembelajaran, pengamatan, dan analisis objektif untuk dikorelasikan pada pesatnya perkembangan informasi yang begitu dinamis. Setidaknya konsolidasi aksi sudah matang, mericek dan mengklarifikasi upaya kepentingan personal.

Tidak ada alasan mundur selangkah pun. Jika sebab musabab sudah begitu terang, mendudukpersoalkan maksud aksi pun tidak beralasan lagi. Maka tidak heran, aksi ini muncul dari berbagai daerah. Tinggal menunggu tanggal main kegentingannya, jika DPR dan pemerintah terus mengabaikan aspirasi masyarakat dan sama sekali tidak membereskan persoalan dari tuntutan aksi.

Tak Ada Pilihan Lain

Dekan takut rektor, rektor takut menteri, menteri takut presiden, presiden takut mahasiswa. Ungkapan klise ini memang sedikit remeh temeh dengan era sekarang. Untaian receh. Ketidakmungkinannya akan terjadi; memikirkan lebih dari dua kali pola ketakutan yang dilahirkan pada masa-masa 98 akan muncul lagi.

Pelbagai niat mahasiswa urung mengikuti demonstrasi kecil di pelataran pusat kota. Ngapain bakar-bakar ban, jika ujung-ujungnya tendensi ini disematkan negatif oleh masyarakat. Mengobrak-barik arus lalu lintas, mengecoh aktivitas pekerjaan dan mengganggu kenyamanan orang lain. Mending kita lakukan aksi lebih preventif, mendatangi pihak-pihak terkait dan mengkampanyekan berbagai tuntutan lewat media sosial. Begitulah kira-kira alasan yang telah menjadi rahasia umum mahasiswa milenial.

Justru terlalu paradoks semua alasan itu. Pada akhirnya, demonstrasi dibutuhkan sebagai ruang ekspresi terakhir. Namun jangan terlalu berbangga diri sebagai mahasiswa sering berdemo. Alasan mahasiswa sekarang telanjur was-was alias logis. Mereka membaca dengan saksama melewati berbagi macam sudut padang yang terbuka, teranalisis, terverifikasi, dan melakukan langkah-langkah termudah terlebih dahulu. Sebab, bukan hal mudah mengumpulkan kembali semangat kolektif seperti tahun 98. Tidak dinafikan jika perubahan zaman sudah terjadi. Karakter mahasiswa juga ikut berubah.

Berbeda dengan hari ini; sejumlah aksi kolektif disikapi dengan perlakuan represif, suara dibungkam, dan aspirasi tidak didengar. Tidak ada pilihan lain, selain demonstrasi. Terkini, berhubungan pula di beberapa tempat tengah terindikasi kerusuhan dengan aparat. Seperti di Bandung, Jakarta, dan Samarinda. Logis, mahasiswa telah bergerak mengikuti aksi demonstrasi. Semua sudah dimulai.

Harapan Baru

Benar ungkapan klise dari pola berputarnya ketakutan struktural tersebut tidak pernah pupus. Lihat, yang terjadi dengan Hong Kong. RUU Ekstradisi dikecam habis-habisan oleh mahasiswa di sana. RUU tersebut memberikan kuasa kepada pemerintah Hong Kong menahan warganya untuk diadili dan dikirim ke China.

Mereka yang mengatasnamakan massa pro-demokrasi hampir setiap hari memberikan tekanan pada pemerintah lewat demonstrasi. Alhasil, pemimpin eksekutifnya yaitu Carrie Lim mengumumkan pembatalan secara resmi. Semua berakar dari suara mahasiswa. Mereka bahkan melakukan boikot perkuliahan untuk melancarkan aksinya tersebut. Tidak main-main, masyarakat juga tergerus simpatik bersama-sama mengikuti demonstrasi yang kabarnya diikuti jutaan peserta.

Secercah harapan bukan mustahil akan terjadi di Indonesia. Sependeknya, meraup empati masyarakat akan memperkuat aksi mahasiswa. Sepanjang-panjangnya, rahim demokrasi melahirkan kembali pemuda kritis membangun konstruksi berpikir bersih melihat perilaku korupsi sebagai malapetaka negara. Waktu akan menjawab dan menentukan semua harapan baru ini, apakah tuntutan ini akan ditimbang menjadi masalah utama.

Firman Hidayat mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia

(mmu/mmu)