Bekerja untuk Keabadian

Kolom

Bekerja untuk Keabadian

Dedy Setyo Afrianto - detikNews
Jumat, 20 Sep 2019 12:51 WIB
Foto: Pradita Utama
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Vastly Zaitsev, seorang penembak jitu Uni Soviet pada Perang Dunia II mengisi kariernya dengan cara yang luar biasa. Bidikan senapan jarak jauhnya merontokkan mental pasukan-pasukan Jerman sehingga pada akhirnya perang Stalingrad ini dimenangkan oleh Soviet. Selidik punya selidik, ternyata kehebatan Zaitsev ini dipropagandakan sedemikian rupa oleh pimpinan-pimpinan Soviet melalui publikasi tulisan yang menggelora, digandakan beribu-ribu eksemplar, kemudian disebarkan lewat pesawat terbang agar bisa dibaca oleh semua orang; hal ini sekaligus membuat ciut nyali pasukan musuh sebagai strategi psy war.

Di akhir adegan, Zaitsev, selain sebagai pasukan elit, merupakan simbol kemenangan Soviet untuk peperangan tersebut. Kisah epik itu bisa dilihat pada film Enemy at the Gates (2001). Lain lagi dengan kisah Buya Hamka. Dia merupakan profil lengkap seorang guru, ulama, politisi, sastrawan sekaligus penulis. Dia tergolong penulis yang produktif; tak kurang dari 118 judul buku sudah dia hasilkan, meliputi banyak bidang kajian, seperti politik, sejarah, budaya, akhlak, dan ilmu-ilmu keislaman.

Dari sekian banyak karyanya, paling berpengaruh tentu saja adalah Tafsir Al-Quran 30 juz yang dinamakan Tafsir Al Azhar. Tafsir ini memiliki pengaruh besar, tidak hanya digunakan oleh muslim Indonesia, namun menyebar sampai dengan Malaysia, Brunei, bahkan sampai dengan Thailand. Tafsir ini diselesaikan Hamka saat di jeruji tahanan selama 2 tahun 4 bulan. Tulisannya dalam bentuk sastra beberapa di antaranya Di Bawah Lindungan Ka'bah dan Tenggelamnya Kapal van Der Wijck.

Walaupun karya lama generasi 1930-an, namun karya itu masih relevan untuk menjadi bacaan inspiratif antargenerasi, sehingga masih sangat populer ketika diangkat ke layar lebar. Memang benar, karya-karya menyejarah, seperti punya cara tersendiri agar tetap bersinar tak terbatas ruang dan waktu.

Dua kisah di atas, walaupun hanya fragmen kecil dari sebuah film dan karya pemikiran, namun kita tahu bahwa ketajaman pena memiliki imbas dahsyat untuk mempengaruhi orang lain dengan skala yang luas, tak terbatas ruang dan waktu. Tulisan yang memiliki nilai tinggi bisa mempengaruhi pembacanya, berdampak lebih efektif dan eskalatif.

Semakin banyak karya bermutu tinggi yang beredar di masyarakat, pada akhirnya akan berimbas pada budaya, moralitas, nilai keluhuran, pola pikir masyarakat, dan kualitas SDM yang lebih membaik dari waktu ke waktu. Namun, untuk sampai pada hal ini, peran serta masyarakat jualah yang signifikan. Karena, pada dasarnya masyarakat berperan sebagai "produsen" ide dan gagasan (melalui media tulis), juga berperan sebagai "konsumen", penikmat ide tersebut.

Titik sambung antara banyaknya karya berkualitas dan peningkatan mutu SDM inilah yang dinamakan literasi (kemampuan membaca dan menulis). Sederhananya, masyarakat berperan ganda dalam peningkatan mutu literasi ini.

Level literasi masyarakat memiliki kontribusi besar untuk menentukan kemajuan sebuah bangsa. Banyak riset yang menjelaskan bagaimana kemampuan literasi manusia memiliki relasi positif terhadap kecerdasan, penalaran, dan bahkan kemampuan matematika. Literasi ini pada akhirnya memiliki sumbangsih yang besar terhadap kemajuan negeri. Namun, Indonesia masih memiliki sejumlah 'pekerjaan rumah' untuk mengatasi hal ini.

Penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada 2015 menunjukkan rendahnya tingkat literasi Indonesia dibanding negara-negara di dunia. Ini adalah hasil penelitian terhadap 70 negara. Indonesia berada pada peringkat 62 dari 70 negara yang disurvei.

Problem ini tentunya butuh penuntasan dengan menjadikan pendidikan sebagai kata kuncinya. Sebagaimana kita pahami bahwa faktor penting pendidikan salah satunya ada pada guru. Guru memiliki peran besar untuk dapat menjadikan level literasi ini menjadi lebih baik. Kemudian, bagaimana guru dapat berperan dengan profesinya? Tak lain dengan cara menginspirasi mereka.

Cara terbaik mendekatkan para siswa dengan baca-tulis bisa dilakukan dengan pendalaman materi, dengan mengoptimalkan sumber lain di luar buku paket. Cara ini bisa mendorong keingintahuan siswa dengan bacaan lain, sekaligus menjadikan referensi tambahan yang bermanfaat untuk mencintai membaca.

Berikutnya, menulis adalah aktivitas yang manfaatnya tidak hanya dirasakan pada saat ini dan di tempat ini. Lebih dari itu, menulis, apalagi pada era teknologi saat ini, merupakan "alat edar ide" terbaik dan terluas. Lebih masif dibanding era Zaitsev tentu saja --setiap orang bisa dengan cepat dan mudah membacanya, di mana pun dan kapan pun. Begitu juga manfaatnya bisa dirasakan pada waktu-waktu ke depan, bahkan untuk generasi sesudah kita.

Betapa banyak tulisan-tulisan di jagat maya yang sudah ditulis dari belasan atau puluhan tahun yang lalu, yang masih bisa kita baca di internet hingga sekarang. Begitu juga dengan karya kita saat ini, jika ada pencerahan di dalamnya, maka "suluh" ini bisa dinikmati bahkan sampai masa yang panjang. Benarlah bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Semoga kita bisa menjadi inspirator kebaikan untuk masa yang panjang lewat menulis.

Seperti pernah dikatakan Pramoedya Ananta Toer, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

(mmu/mmu)