detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Senin 16 September 2019, 15:16 WIB

Kolom

Menangani (Kalang) Kabut Asap

Oryz Setiawan - detikNews
Menangani (Kalang) Kabut Asap Foto: FB Anggoro/Antara
FOKUS BERITA: Darurat Kabut Asap
Jakarta -
Bencana kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah melintasi batas (transboundary haze) wilayah Indonesia dan mengganggu negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ancaman kesehatan, gangguan penerbangan, hingga mengusik aktivitas masyarakat terutama di wilayah Sumatera dan Kalimantan tak terelakkan. Terbaru, lebih dari 40.000 hektar hutan dan lahan di wilayah tersebut terbakar dengan titik api (hot spot) lebih dari 5.000 titik.

Seakan bencana kabut asap telah menjadi langganan dalam kurun waktu satu dasawarsa terakhir. Bencana kabut asap terus menjadi problem baru kerusakan lingkungan. Cuaca terik, musim kemarau yang berkepanjangan, serta ulah tangan manusia baik secara sengaja maupun tidak sengaja yang dilakukan secara perorangan, kelompok maupun korporasi menjadi awal malapetaka bencana baru.

Kondisi alam tidak serta merta dapat "disalahkan", namun faktor manusialah (man made) yang paling dominan sebagai biang keladinya. Pemerintah daerah bersama lintas sektor telah berupaya mencegah dan menanggulangi dampak kabut asap. Bahkan Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan untuk penanganan khusus masalah kabut asap ini dan mengultimatum para pejabat yang tidak bisa mengatasi masalah kabut asap, namun justru kian meluas.

Daerah Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan adalah wilayah terparah dengan kualitas udara masuk katagori sangat berbahaya. Ukuran partikel particulate matter (PM) 2,5 mikrometer dengan tingkat Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU) lebih besar dari 500. ISPU adalah laporan kualitas udara kepada masyarakat untuk menjelaskan tingkat kebersihan atau tercemarnya kualitas udara serta bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah menghirup udara tersebut selama beberapa jam/hari/bulan.

Penetapan ISPU ini mempertimbangkan tingkat mutu udara terhadap kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, bangunan, dan nilai estetika. Sesuai tingkatan ISPU, bila indeks lebih dari 300 masuk masuk katagori "berbahaya". Hal ini bermakna bahwa kualitas udara sangat buruk yang berdampak langsung pada gangguan kesehatan masyarakat. Dengan kata lain, tingkat kualitas udara berbahaya yang secara umum dapat merugikan kesehatan yang bermakna pada suatu populasi.

Buruknya kualitas udara berdampak langsung bagi kehidupan manusia, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan (khususnya ibu hamil) dan anak-anak. Bahkan dapat mencapai indeks 800 sehingga mengakibatkan gangguan paru-paru, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), asma, iritasi pada mata, kulit, tenggorokan, hidung dan menyebabkan sakit kepala atau alergi, penyakit jantung, hingga kematian dini. Oleh karena itu terjadilah krisis atau darurat bencana kabut asap.

Menurut hasil penelitian, dengan menghirup kabut asap secara intensif akan berisiko menderita pneumonia dan kanker paru-paru yang gejalanya akan tampak setelah 10 atau 15 tahun kemudian sehingga dapat berisiko mempercepat penuaan dini sel-sel tubuh sehingga pada akhirnya dapat mempercepat dan meningkat risiko kematian. Di sisi lain dapat menimbulkan penuaan tubuh sejak dini karena akselerasi kerusakan sel-sel pembentuk jaringan sistem tubuh.

Karakteristik gangguan kesehatan yang berasal dari inhalasi (hirup) melalui mekanisme transmisi udara (air born diseases) sangat mudah menyebar karena sistem kerja pernapasan. Tingkat kesakitan tinggi mudah mengakibatkan seseorang jatuh sakit dan bersifat massal karena terpapar kabut asap, sehingga dibutuhkan sarana, prasarana dan fasilitas kesehatan yang memadai serta upaya penguatan aspek pencegahan seperti meminimalisasi aktivitas di luar rumah --selalu menggunakan masker ketika keluar rumah dan memperbanyak minum air putih.

Pendek kata dilakukan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Selain itu tata kelola penanganan kasus juga sangat dibutuhkan sewaktu-waktu seperti melakukan surveilans kesehatan, langsung diturunkan untuk melakukan langkah-langkah pengendalian terutama pada kelompok rentan seperti kaum lanjut usia, perempuan, ibu hamil, dan anak-anak maupun mengoptimalkan posko-posko kesehatan maupun media sebagai pusat informasi dan layanan kesehatan bagi masyarakat.

Bersifat Massal

Karakteristik bencana kabut asap bersifat massal sehingga aspek kecepatan informasi sangat mendesak dan penting untuk diketahui masyarakat baik terkait kondisi kualitas udara, sistem mitigasi bencana, lokasi yang aman hingga pusat edukasi kesehatan terutama menitikberatkan pada aspek pencegahan suatu sumber masalah kesehatan (penyakit).

Di era digital, pemanfaatan media sosial (medsos) memungkinkan setiap berita atau informasi di suatu daerah sangat mudah dan langsung dapat diketahui masyarakat di wilayah lain. Dibutuhkan pemahaman atas informasi yang benar, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan. Efek bahaya lebih besar bila sudah menyangkut masalah kesehatan yang bersifat publik.

Problem kesehatan terutama munculnya penyakit menular di tengah-tengah bisa masyarakat menimbulkan "ketakutan", sehingga pemerintah berkewajiban melakukan edukasi melalui berbagai metode terutama informasi yang berbasis medsos sebagai counter information. Saat ini lebih dari 90 persen masyarakat memperoleh informasi apapun dari medsos.

Dalam teori kesehatan (Hendrik L Blum, 1979), status atau derajat kesehatan suatu masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor yakni lingkungan, perilaku manusia, pelayanan kesehatan, dan genetik. Dalam konteks kekinian, konsep tersebut masih sangat relevan terlebih dikaitkan dengan kondisi kesehatan masyarakat yang cenderung individual, pragmatis, serba instan dan sangat bergantung pada ketersediaan layanan kesehatan.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, layanan kesehatan tentu lebih memudahkan masyarakat untuk mendeteksi gejala penyakit sejak dini maupun pengobatan yang modern. Edukasi kesehatan masyarakat dengan metode konvensional melalui penyuluhan langsung, media leaflet, brosur, gambar sudah seharusnya bergeser ke arah yang berbasis media digital media, termasuk dalam penanganan bencana kabut asap ini. Pemanfaatan teknologi informasi diharapkan menjadi katalisator untuk meminimalisasi dampak buruk setiap ancaman problem kesehatan.

Oryz Setiawan alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
FOKUS BERITA: Darurat Kabut Asap
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com