detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 13 September 2019, 14:10 WIB

Kolom

"Fast Fashion", Budaya Konsumtif, dan Kerusakan Lingkungan

Veronica Kadista Putri - detikNews
Fast Fashion, Budaya Konsumtif, dan Kerusakan Lingkungan Membeli baju bekas berkontribusi pada pencegahan kerusakan lingkungan (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -
Mulai hari pertama di bulan September hingga 26 hari ke depan setelahnya Oxfam Great Britain (GB) mengadakan kampanye #SecondHandSeptember di media sosial Instagram dan Twitter. Mangangkat tagline "saying no to new", organisasi nirlaba ini mengajak warga dunia untuk hanya membeli pakaian bekas, vintage, thrift, atau hasil daur ulang untuk mengurangi konsumsi fesyen yang memberi masalah terhadap keberlangsungan lingkungan dan penghuninya. Setiap minggu akan diundi satu orang pemenang beruntung yang mengikuti kampanye ini dengan cara mengunggah foto pakaian "saying no to new" kesukaannya.

Pemilihan isu dalam kampanye itu memang penting dan sudah seharusnya menjadi perhatian oleh masyarakat yang peduli terhadap lingkungan. Namun yang tidak kalah krusial adalah bagaimana semua orang dapat melihat hubungan aspek ekologi dan ekonomi politik yang terjadi di belakang industri fesyen khususnya fast fashion sebagai penyumbang kerusakan lingkungan yang utama di sektor industri tersebut.

Dalam persoalan lingkungan yang menjadi dampak ikutan dari faktor di luar sistem --kapitalisme industri fast fashion-- munculnya kerusakan tidak datang secara tiba-tiba. Semuanya terjadi secara terstruktur dan terkesan alami sehingga rantai eksploitasi terhadap alam terus berlanjut tanpa disadari oleh sebagian besar konsumen dari industri fesyen yang utamanya dari negara berkembang. Meminjam istilah Andre Gunder Frank, semua dimungkinkan dengan adanya konstelasi sistem kapitalis dunia yang tercipta dalam hubungan negara satelit dan metropolis, meskipun konteks masyarakatnya bukan lagi tinggal di masa kolonialisme.

Negara berkembang menjadi alat pengisap kapital atau surplus ekonomi dari dalam negaranya sendiri menuju saluran yang bermuara di dunia metropolis melalui konstruksi sub pemerintahan kolonial yang digantikan sedemikian rupa dengan pabrik garmen lokal sebagai tempat produksi, penyedia bahan produksi, dan tenaga kerja murah. Bahkan juga menjadi tempat pemasaran produksi pakaian tersebut.

Berdasarkan data Fastretailing, Statista, dan Inditex antara tahun 2015-2016 jumlah toko retailer fast fashion besar --rata-rata berasal dari Eropa dan Amerika-- seperti kelompok merek Inditex, H&M, dan Uniqlo yang tersebar di seluruh dunia mencapai ribuan gerai. Uniqlo bahkan berencana membuka 100 toko setiap tahunnya di China.

Orientasi kapitalis adalah perolehan laba sebanyak-banyaknya sehingga mereka memasarkan produk dengan sedemikian rupa agar konsumen terbuai dalam budaya konsumtif. Secara eksplisit, karakteristik kapitalis tersebut sebenarnya telah melekat pada konsep fast fashion sendiri. Mengutip Terry Muthahari (2018), istilah fast fashion digunakan untuk mendeskripsikan koleksi busana murah mengikuti tren merek-merek mentereng yang diproduksi dalam waktu cepat. Artinya, kapitalisme membujuk konsumen untuk melakukan pembelian terus-menerus karena tren fesyen modelnya selalu up to date, jauh lebih cepat dari peluncuran produk musiman.

Belum lagi harga yang murah kemudian mendukung iklim konsumerisme yang dikehendaki oleh pelaku industri tersebut. Hasilnya, terjadi peningkatan jumlah konsumsi rata-rata busana sebanyak 60% setiap tahunnya (McKinsey, 2016). Kombinasi perilaku kapitalis di industri fast fashion dan budaya konsumtif yang dibawanya pada masyarakat berakibat terhadap polusi yang menyebabkan kerusakan lingkungan.

Di sisi produksi, agar bisa memproduksi pakaian-pakaian lebih cepat, banyak, dan harganya murah kapitalis industri fast fashion berupaya menekan sekecil mungkin biaya produksi. Selain mencuri nilai lebih dari upah yang seharusnya diterima oleh para pekerja, kapitalis ini mengalihkan biaya penanganan limbah tekstil dan residu pembakaran bahan bakar batu bara yang beracun kepada lingkungan. Greenpeace pada 2017 menyatakan bahwa limbah tersebut tidak dapat dianggap remeh terhadap pencemaran lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat di negara-negara berkembang.

Demam produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dunia yang berlebihan bahkan membuat permasalahan lingkungan lainnya: kelebihan produksi yang berakibat pembakaran stok pakaian tidak terjual seperti oleh retailer H&M pada 2017 (sekitar 19 ton atau setara 50.000 jeans) dan stok Burberry pada 2018 (senilai 38 juta dolar AS).

Budaya konsumtif yang menjangkiti konsumen fast fashion juga menyebabkan sampah over-konsumsi. Pada suatu kesempatan, Elizabeth Cline, penulis buku Overdressed: The Shockingly High Cost of Cheap Fashion mengatakan bahwa pakaian murah sering kali berakhir di tempat sampah. Keterjangkauan harga dan cepatnya produksi model busana terbaru membuat pergeseran nilai guna dari pakaian menjadi menomorsatukan nilai tanda sebagai bentuk identitas sosial. Oleh karena itu, ketika bosan (padahal terhitung tidak lama menggunakannya) konsumen tidak merasa sayang membuang isi lemarinya untuk diisi dengan koleksi terbaru yang dikeluarkan oleh retailer fast fashion.

Selama ada permintaan untuk fast fashion dari sisi konsumen, maka rantai kerusakan lingkungan oleh industri fesyen akan terus berlanjut. Apalagi dalam konteks masyarakat yang terintegrasi dengan sistem kapitalistik global, budaya konsumtif telah mengaburkan kesadaran kita untuk mengaitkan perilaku konsumtif khususnya dalam hal konsumsi pakaian dengan sumbangan pola produksi pakaian cepat, banyak, murah dan sekali pakai terhadap keberlanjutan kelestarian lingkungan.

Penyelesaian persoalan lingkungan bukan lagi hanya tentang mengatur perilaku individu per individu dalam berinteraksi dengan lingkungan, melainkan perlu memutus campur tangan sistemik dari kerja kapitalisme modern yang turut menentukan dan membentuk perilaku individu yang bersifat destruktif terhadap lingkungan untuk menguntungkan segelintir orang saja. Konsumen harus lebih kritis dan selektif lagi agar tidak membeli pakaian-pakaian baru tanpa pertimbangan utilitas dan memperhatikan komitmen merek yang memproduksi pakaian kesukaannya terhadap biaya sosial dan penanganan limbah hasil sampingan dari proses produksi.


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com