detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Jumat 13 September 2019, 12:42 WIB

Kolom

"Gundala" dan Kebenaran yang Disembunyikan

Udji Kayang - detikNews
Gundala dan Kebenaran yang Disembunyikan Foto: Gundala (dok.Screenplay)
Jakarta - Adegan terbaik dalam film pahlawan super --menurut pendapat saya-- adalah saat Batman menjatuhkan Superman, lalu menghantamnya dengan kata-kata tajam, "I bet your parents taught you that you mean something, that you're here for a reason. My parents taught me a different lesson, dying in the gutter for no reason at all... They taught me the world only makes sense if you force it to."

Bagi saya, itu dialog terpenting dalam film Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) yang disutradarai Zack Snyder. Dialog itu menunjukkan betapa bukanlah adegan pertarungan sengit yang semestinya menjadi fokus utama film pahlawan super, melainkan sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih dalam.

Seluruh pengalaman Batman sebagai "pahlawan" Kota Gotham --konon sudah selama 20 tahun-- dirangkum dalam sebuah dialog layak kutip. Dialog itu menyiratkan betapa Batman skeptis terhadap kebermaknaan, terutama bagi orang lain, dan menjalani hidup sebagai pergulatan terus-menerus. Sementara, Superman --sebagaimana disebut dalam film Man of Steel (2013)-- dididik untuk mempercayai kehadirannya bermakna, dan dirinya adalah harapan umat manusia.

Konon, huruf "S" yang tertera pada kostum Superman, menurut bahasa Planet Krypton berarti "harapan". Pertarungan Batman dan Superman dengan demikian bukan hanya pertarungan antara dua tubuh tangguh, tetapi antara dua gagasan yang berseberangan.

Gagasan adalah sesuatu yang penting dalam karya, juga dalam kehidupan yang sebenar-benarnya. Mari meninggalkan Batman v Superman dan Man of Steel, dua film pahlawan super yang dibikin dengan standar Hollywood, dan beralih ke ikhtiar dari dalam negeri. Sejak 29 Agustus, film Gundala yang disutradarai Joko Anwar telah menyambar bioskop-bioskop di Indonesia. Film itu dibintangi Abimana Aryasatya (yang memerankan Sancaka atau Gundala) dan Tara Basro (memerankan Wulan).

Karakter Gundala berasal dari komik lawas bikinan Harya Suraminata alias Hasmi, terbit pada rentang 1969-1982. Dengan kata lain, setelah berpuluh tahun, akhirnya Gundala muncul di layar lebar! Respons penonton film Gundala mendua. Beberapa mengatakan bagus, bahkan bagus banget, sementara yang lain mengatakan biasa saja --meski tidak sampai bilang jelek. Hal yang paling sering mereka permasalahkan adalah CGI (computer-generated imagery), karena dianggap wagu dan murah.

Barangkali, penonton bioskop terlampau sering dimanjakan CGI kelas Hollywood yang rapi dan tentu saja memukau. Selain soal CGI, yang termaafkan karena teknologi kita belum setara Hollywood, hal lain yang dipermasalahkan adalah penulisan skrip yang terkesan malas (lazy writing). Kebahasaan Sancaka dan tokoh-tokoh lain dalam film terasa tanggung, antara akan memakai bahasa kolosal atau bahasa keseharian. Namun, masalah yang lebih serius ketimbang pilihan bahasa tentu saja narasi.

Joko terlihat mengikuti tone DC Comics yang gelap dan muram, alih-alih ingar-bingar Marvel. Bahkan mungkin bukan sekadar mengikuti, banyak elemen DC Comics yang ditiru oleh Joko, termasuk pada taraf gagasan. Menjelang akhir film, Ghazul, salah seorang antagonis dalam film Gundala, menyebut musuh terbesar umat manusia adalah "kebenaran yang disembunyikan".

Filsuf Slavoj Zizek dalam film The Pervert's Guide to Ideology (2012) mengomentari The Dark Knight (2008), film kedua dari trilogi Batman yang disutradari Christopher Nolan. Tentang film itu, Zizek bilang, "the truly disturbing thing about The Dark Knight is that it elevates lie into general social principal, into the principal of organisation of our social political life."

Batman dan Jim Gordon, dalam film itu, menyembunyikan fakta bahwa Harvey Dent telah menjelma jahat --menjadi antagonis berjuluk Two-Face, alih-alih jaksa baik sebagaimana diketahui warga Gotham. Kebohongan, atau tepatnya "kebenaran yang disembunyikan", menjadikan tatanan sosial di Gotham yang teratur, dan kota menjadi damai dalam kurun waktu yang lama. Nolan tidak pernah menyatakan gagasan itu lewat dialog tokoh-tokohnya --sebagaimana yang dilakukan Joko lewat tokoh Ghazul.

Zizek, sebagai penonton-penafsir --dengan kata lain seseorang dari luar film-- yang merasakannya dan kemudian menyampaikan gagasan itu kepada khalayak. Lantas, pertanyaannya, mengapa kebohongan diperlukan? Zizek menjawab, "This idea that the truth is too strong." Kebenaran apa yang terlalu kuat dalam film Gundala sehingga perlu disembunyikan? Entahlah.

Film The Dark Knight dan Gundala sama-sama berakhir kedamaian. Dalam The Dark Knight, kedamaian itu hasil tatanan sosial di atas kebohongan, alias "kebenaran yang disembunyikan". Dalam Gundala, penonton akan sulit berpendapat demikian. Kedamaian pada akhir film sekadar buah kemenangan Gundala melawan Pengkor, sosok antagonis utama dalam film itu. Kedamaian di kota Gundala lebih terang sebagai hasil penyingkiran sosok jahat, alih-alih tatanan sosial yang dibentuk oleh kebohongan.

Pertanyaan berikutnya, mengapa Joko terang-terangan memunculkan gagasan soal "kebenaran yang disembunyikan" padahal gagasan itu kurang terasa dalam narasi film? Barangkali, "kebenaran yang disembunyikan" sebatas merujuk adegan menghidupkan kembali Ki Wilawuk, sosok jahat yang dimunculkan pada akhir film Gundala. Ghazul menggali kuburan dan membongkar museum. Ia memungut kebenaran yang sepotong-potong, menyatukan, kemudian menghidupkannya dengan darah pahlawan.

Kebenaran mungkin tidak pernah benar-benar mati, melainkan disembunyikan belaka, yang dapat tersibak pada masa yang akan datang.

Keputusan Joko memunculkan gagasan tentang "kebenaran yang disembunyikan" barangkali didasari kesadaran bahwa di negeri ini ada banyak hal yang belum selesai. Orde Baru ditengarai menyembunyikan kebenaran untuk melanggengkan tatanan sosial. Kekuasaan pasca-Orde Baru pun masih memiliki tabiat yang sama, membiarkan hal-hal belum selesai.

Kekuasaan lebih gemar melanggengkan kebohongan, membiarkan hoaks terus bertebaran alih-alih mengakui kebenaran. Aksi Kamisan telah terselenggara 600 kali, tetapi kekuasaan belum mengakui dan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran kemanusiaan. Sementara kebenaran-kebenaran yang silam masih tetap disembunyikan, kekuasaan tidak juga kapok melanggengkan kebohongan. Lihat saja Papua hari ini.

... the truth is (still) too strong.

Udji Kayang editor buku menyambi penulis lepas, penulis buku Keping-Keping Kota (2019)


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com