detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 12 September 2019, 14:38 WIB

Kolom

Pengembaraan Habibie di Langit Tak Bertepi

Iwan Gunadi - detikNews
Pengembaraan Habibie di Langit Tak Bertepi B.J. Habibie (Ilustrasi: Fakhri Arrizal/detikcom)
Jakarta -

Kerendahhatian seorang ilmuwan ditunjukkan Bacharuddin Jusuf Habibie di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sekitar akhir 1980-an. Malam itu, sebagai ilmuwan sekaligus Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Pembangunan V, dia diundang Dewan Kesenian Jakarta untuk menyampaikan pidato kebudayaan. Di hadapan ratusan orang dari berbagai kalangan yang memenuhi gedung itu, lelaki kelahiran Pare-Pare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 itu berpidato dengan penuh semangat.

Satu yang sangat melekat di kepala saya dari pidato itu adalah kerendahatian Habibie sebagai makhluk Tuhan. Kerendahhatian tersebut ditunjukkan suami almarhumah Hasri Ainun Besari itu ketika membahas otak robot alias chip. Andaikan seluruh kemampuan otak manusia diadopsi oleh sebuah chip, maka kepala robot yang menyimpan chip tersebut akan lebih besar dari Graha Bhakti Budaya. Bisa dibayangkan kalau tubuh robot itu sebesar tubuh manusia umumnya, tapi kepalanya lebih besar dari Graha Bhakti Budaya. Sangat tidak seimbang. Sangat tidak harmonis.

Dengan amsal tersebut, Habibie ingin menekankan tentang kesangatterbatasan manusia. Sepintar-pintarnya manusia, dia tetap makhluk dengan segala keterbatasan. Dengan segala keterbatasannya, dia tak akan mampu membuat sesuatu yang mendekati, apalagi melewati, ciptaan Tuhan.

***

Sekitar sepuluh tahun kemudian, keterbatasan manusia seakan ditekankannya lagi melalui buku fotografi Pesona Cahaya, Kecepatan, Waktu dan Ruang Angkasa: "Batas daya pandang/Adalah keterbatasan." Kalimat tersebut disematkan pada sebuah foto sebagian sayap pesawat saat senja. Foto tersebut hasil jepretan Habibie dari pesawat yang ditumpanginya. Foto itu merupakan foto ke-91 dari 175 potret karyanya yang dihimpun dalam buku ukuran besar tanpa nomor halaman yang terbit pada April 1999, hampir setahun setelah menjabat sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia. Habibie memang gemar memotret.

Setiap foto di buku itu dihiasi sebait puisi tanpa judul yang ditulis Andi Analta Amier. Andi tentu tak akan menafsir setiap foto sesuai dengan kehendak hati dan kepalanya. Sekurangnya, dia mencoba menulis setiap bait tersebut sesuai dengan pikiran dan perasaan Habibie. Karena itu, dia memilih pelirik "aku" yang diasumsikan merujuk ke Habibie. Tapi, karena bait-bait itu diposisikan sebagai puisi, esai ini tetap tak serta-merta memastikan "aku" sebagai Habibie. Untuk menjaga keluasan tafsir, "aku" tetap hadir dalam ketaksaan alias ambiguitasnya.

Hampir semua foto mengabadikan dunia yang dekat dengan Habibie: kedirgantaraan. Langit memang telah memberikan keleluasan penjelajahan keilmuan, jabatan, sekaligus popularitas kepadanya. Wajar jika langit selalu hadir pada setiap potret hasil bidikannya. Tapi, akhirnya, "aku" mengakui: Selama aku meniti cakrawala/ Sejujurnya.../ Aku tak mendapatkan apa-apa/ Kecuali rasa malu tak terhingga/ Karena.../ Aku telah mencari sesuatu yang hampa. Bait yang ditorehkan pada foto ke-26, yang memajang ujung sayap pesawat ketika senja turun itu, seakan merekam salah satu sisi religiositas Habibie.

Bait-bait puisi itu memang kerapkali menggarisbawahi religiositas "aku" tentang kemahabesaran, kemahakuasaan, dan kemahatahuan Tuhan. Pada saat yang sama, kekecilan, keterbatasan, ketakberdayaan, kebodohan, dan kesombongan "aku" dilambungkan. Langit, mega, cakrawala, matahari, gunung, gedung, dan pesawat terbang menjadi jangkar untuk merenungkan semuanya.

Keterbatasan "aku" sebagai manusia menjadi salah satu sisi religiositas yang sering didedahkan pada buku itu. Manusia kadang-kadang atau seringkali merasa sudah menguasai pengetahuan yang mendalam, tapi sesungguhnya baru sebatas permukaan. Atau, manusia merasa memiliki pengetahuan yang luas, tapi sesungguhnya sedikit saja.

Kesan tersebut terasa kuat dari bait Kugantang surya/ Kukunyah angkasa/ Tapi ternyata aku tetap terurai dibias-biasnya yang dipampang pada foto keempat. Foto tersebut merekam pesawat terbang yang mengangkasa. Karena dibidik jauh di darat, pesawat itu terlihat kecil dengan latar gumpalan awan putih yang luas. Jarak bidik antara bumi dan langit makin menguatkan kesenjangan itu.

Apalagi jika latarnya hanya langit. Lebih-lebih bila yang dibayangkan adalah penumpangnya, pilotnya, ataupun pembuat pesawatnya. Maka, "aku" pun meratap: Kecilnya aku, Allahku.../ Membawa pulang mega barang sedebu/ Itu pun aku tak mampu. Jadilah bait yang diuntai pada foto ke-104 tentang gumpalan awan putih di atas laut biru itu menandaskan ketakberdayaan sekaligus ketakbermaknaan "aku".

Begitu juga bait Dulu/ Kupikir dapat kutaklukkan dunia/ Gunung, dan puncak-puncaknya/ Langit dengan gumpalan mega.../ Ternyata/ Untuk mencari teorinya saja/ Sampai kini aku tak miliki daya. Ketakberdayaan "aku" disisipkan di antara arak-arakan awan putih yang memayungi pegunungan, yang menjadi objek foto ke-101. Padahal, dulu, "aku" berpikir bahwa dirinya mampu menaklukkan berbagai tantangan dunia.

Ketakberdayaan memang salah satu kodrat manusia sebagai makhluk. Setinggi apa pun jabatan di pundak manusia, di hadapan-Nya manusia tetap makhluk tak berdaya. Kalaupun ada makhluk yang menjadi raja serta menguasai wilayah yang sangat luas dan rakyat yang banyak, kekuasaannya hanyalah setitik titipan yang disisihkan dari kemahakuasaan Maha Raja. Karena Engkau Maha Raja/ Maka akulah hamba sahaya/ Karena Engkau Maha Kuasa/ Maka aku tak berdaya apa-apa memaknai foto ke-62, yang menghadirkan arak-arakan awan putih di atas laut biru.

Malah, "aku" mengandaikan dirinya hanya "secarik kecil perca". Hanya potongan kecil kain sisa dari jahitan. Bukan lagi hamba sahaya. Sebuah garis lurus kemudian ditarik "aku" di antara ketakberdayaan, ketakbermaknaan, dan kemiskinan melalui ungkapan Kujahit potongan-potongan mimpi/ Menjadi selembar kain berwarna-warni/ Tapi ternyata diakhirnya/ Aku hanyalah secarik kecil perca/ Yang tak punya warna/ Dan tak memiliki apa-apa. Bait tersebut menengarai foto ke-112, yang mengabadikan gumpalan mega kecokelatan.

***

Manusia selalu merasa haus ilmu, tapi seringkali lupa menyadari bahwa begitu luasnya ilmu yang diberikan Tuhan. Apalagi, ilmu yang belum diberikan-Nya. Karena itu, ilmu-Nya tanpa batas. Bait Kumencari batas kepandaian diri/ Nyatanya/ Bagai mengarungi lautan tak bertepi yang melengkapi foto ke-12 tentang lautan luas yang laksana hamparan awan, mengarah ke sana. Begitu juga bait ini: Kukagumi pembangunan dinding-dinding kota/ Dengan ilmu yang menari-nari di kepalanya/ Lebih kagum lagi aku pada Sang Maha/ Bagaimana mengirim ilmu yang tak ada habis-habisnya, yang memaknai foto ke-28 tentang kumpulan gedung di sebuah kota di tepi pantai.

Karena itu, "aku" merasa tak pantas mengaku sebagai manusia paling pintar dan mengagung-agungkan ilmu yang dipinjamkan Tuhan kepadanya. Jadi/ Mengapa kuharus merasa adiluhung/ Bila bentangan langit-Mu saja/ tak pernah dapat kuhitung, yang dipajang pada foto ke-50 tentang pesawat ruang angkasa yang masih menginjak bumi. Sedangkan, foto ke-78, yang mengabadikan horison nan jingga, dihiasi bait Untuk menyentuh batas horison-Mu/ Tak pantas kuagungkan ilmu/ Untuk masuk di ruang horison-Mu/ Lebih tak pantas aku, sebab tak sanggup aku.

Teknologi secanggih apa pun yang dibikin manusia tak akan sedikit pun menandingi teknologi ciptaan Tuhan. Bait Duhai Pemahat Agung/ Dengan alat apa Kau ukiri gunung-gunung? yang menyertai foto ketujuh tentang gunung-gunung, masih menjadi pertanyaan besar buat "aku". "Aku" juga mempertanyakan keandalan teknologi untuk menuntaskan kerinduan kepada Tuhan. Teknologi macam mana lagi/ Yang bisa dan ampuh 'tuk mengobati/ Kerinduanku pada Illahi Robbi. Pertanyaan tersebut digoreskan di atas foto ke-35 tentang gapura sebuah kawasan di jalan yang lebar.

Di sisi lain "aku" mengakui, Tidak ada teknologi secanggih ruang dan waktu/ Dimana Ia sendiri tak perlu. Bait ini mengiringi foto ke-155,yang mengekalkan menara jam dengan latar langit berarak awan putih. Dengan begini/ Akhirnya aku sedikit mengerti/ Bahwa yang namanya teknologi/ Takkan pernah berarti/ Tanpa Ridho-Mu menyelimuti. Pengakuan tersebut dituangkan pada foto ke-169, yang membentangkan langit bermega putih di atas jembatan yang melintasi sungai (atau menghubungkan dua pulau?)

***

Seluruh pengakuan atas segala kemahaan Sang Khalik dan setiap kekurangan makhluk itu merupakan anak tangga menuju perjumpaan yang agung serampung pengembaraan yang panjang. Tapi, "aku" tak tahu kapan pengembaraan itu berujung. Dengan menunjuk foto ke-21 yang menampilkan sayap pesawat terbang ketika senja tiba, "aku" hanya mampu bertanya, Kapan pengembaraanku sampai/ Dan temukan kata selesai/ Hingga kujumpai diri-Mu/ Dipuncak rindu.

Akhirnya, di atas permukaan foto ke-43, yang menghadirkan ekor pesawat terbang berbalut warna jingga, "aku" menulis: Senja telah datang/ Tapi/ Adakah dekat sudah, waktuku berpulang. Ekor pesawat terbang dan senja laksana segera menandai ujung pengembaraan yang panjang di langit nan luas. Sejatinya, setiap pengembaraan berujung dengan kepulangan yang hakiki dengan harapan: sebuah perjumpaan Yang Agung dan Suci. Selamat jalan, Pak Habibie!

Iwan Gunadi penjaga gawang Bale Buku Bekas


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com