detikNews
Jadilah bagian dari Kolomnis detikcom
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan poin dan dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis detikcom.
Kamis 12 September 2019, 11:10 WIB

Kolom

Menanti Tol Langit yang Sebenarnya

Deni Lumbantoruan - detikNews
Menanti Tol Langit yang Sebenarnya
Jakarta -
Tentu kita masih ingat ketika calon Wakil Presiden Maruf Amin, di sebuah acara relawan pada Februari 2019 lalu menyampaikan bahwa pemerintahan Presiden Jokowi telah membangun infrastruktur komunikasi digital di Indonesia, yang lebih dikenal dengan istilah tol langit. Tol langit ini diarahkan untuk meningkatkan aksesabilitas komunikasi internet di seluruh wilayah Indonesia. Dalam debat cawapres pada Maret 2019, Maruf Amin kembali menyampaikan bahwa dengan dibangunnya infrastruktur langit akan berdampak kepada percepatan pertumbuhan ekonomi digital. Satu contoh yang disampaikan yaitu dengan tumbuhnya 1000 start up dalam kurun waktu 4 tahun.

Apabila merujuk ke informasi yang disediakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan berbagai sumber pemberitaan media online, tol langit yang disampaikan di atas mengacu kepada kombinasi proyek Palapa Ring dan jaringan serat optik provider telekomunikasi yang sudah ada. Palapa Ring adalah program pemerintah berupa proyek pembangunan jaringan kabel serat optik nasional.

Jaringan serat optik ini dirancang untuk menjangkau 34 provinsi, 440 kota/kabupaten di seluruh wilayah Indonesia. Dengan luasnya cakupan wilayah, total panjang kabel optik di laut mencapai 35.280 kilometer dan kabel optik di daratan mencapai 21.807 kilometer. Dengan terwujudnya jaringan ini, nantinya seluruh wilayah Indonesia dapat menikmati layanan internet seperti yang dirasakan oleh masyarakat di Pulau Jawa atau kota-kota besar lainnya.

Pada dasarnya, kalau hanya dikaitkan dengan infrastruktur fiber optik, program pembangunan serat optik yang menjangkau seluruh wilayah Indonesia ini belum tepat disebut sebagai perwujudan tol langit. Mungkin lebih tepat disebut sebagai proyek pemerataan kecepatan akses komunikasi data berbasis kabel. Jaringan kabel optik ini "hanya" berperan sebagai backbone atau penghubung backbone dengan fasilitas broadband kecepatan tinggi.

Padahal, saat ini sebagian besar pengguna layanan digital berbasis nirkabel dan bergerak. Status nirkabel dan kemampuan bergerak membuat teknologi digital diminati dan digunakan oleh banyak orang dan pada akhirnya mendukung pertumbuhan ekonomi digital. Ditambah lagi, program Palapa Ring yang ditujukan untuk menjangkau daerah terluar Indonesia tidak akan menambah kecepatan akses para pengguna layanan digital di daerah perkotaan.

Sementara, kegiatan ekonomi digital terpusat di kota dan para pelakunya didominasi oleh warga perkotaan. Seharusnya, akses komunikasi kecepatan tinggi, yang dapat kita sebut dengan tol langit, lebih mendesak disediakan di daerah perkotaan yang memiliki konsentrasi pengguna komunikasi digital yang sangat besar.

Dengan memperhatikan sebagian besar pengguna layanan komunikasi yang nirkabel dan bergerak, serta spesifikasi teknis --meliputi kecepatan akses data yang besar, banyaknya perangkat yang tersambung di jaringan, dan kebutuhan delay transmisi data yang sangat kecil-- maka cita-cita mewujudkan tol langit untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi digital lebih realistis dilakukan dengan menerapkan teknologi 5G. Penerapan teknologi ini dapat dilakukan di daerah perkotaan ataupun langsung di daerah pedesaan.

Ada tiga karakteristik utama teknologi 5G, sering disebut dengan segitiga 5G, yang akan membawa perubahan besar dan membedakannya dibanding teknologi pendahulunya. Pertama, teknologi 5G memiliki kecepatan akses yang jauh lebih cepat dibanding 4G. Dengan kecepatan maksimum sampai 20Gbps, maka transfer data seperti akses video dan tele-conference akan sangat cepat dan andal. Di samping itu, akses layanan video 3D dan layar UHD juga akan semakin lebih mudah diwujudkan.

Selain menyediakan layanan "mewah" kepada konsumen, fasilitas akses kecepatan tinggi ini juga mendukung para orang-orang kreatif yang ingin memproduksi video-video bermutu di internet. Dengan akses internet kecepatan, teknologi augmented reality (AR) di berbagai lokasi juga menjadi lebih mudah dilakukan. Teknologi AR ini sangat berpotensi digunakan untuk bidang pendidikan dan dunia pariwisata.

Kedua, teknologi 5G memiliki waktu latensi yang sangat rendah, di bawah 10ms. Dengan karakteristik ini, maka teknologi 5G sangat potensial digunakan untuk mendukung mobil otonom, operasi medis jarak jauh, dan otomatisasi industri. Ketiga, teknologi 5G memungkinkan konektivitas perangkat yang masif, atau lebih sering disebut dengan "massive IoT". Jaringan IoT yang masif ini dapat digunakan untuk mewujudkan smart home, smart building, smart city, konektivitas moda transportasi.

Pada dasarnya, sangat banyak peluang para start-up digital Indonesia untuk berkreasi dan berinovasi dalam memberdayakan teknologi IoT di masa yang akan datang. Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia menyatakan bahwa potensi IoT di Indonesia sebesar 400 juta perangkat dengan nilai bisnis sebesar Rp 444 triliun pada tahun 2022.

Sebenarnya ada karakteristik 5G yang juga sangat penting yang tidak dimasukkan ke dalam segitiga 5G, yaitu kemampuan membangun jaringan virtualnya. Dengan menggunakan konsep virtualisasi jaringan, teknologi 5G memungkinkan jaringan pribadi (private network) sebuah perusahaan atau organisasi melalui jaringan komunikasi seluler. Hal ini memungkinkan perusahaan atau organisasi mempunyai jaringan pribadi yang lebih fleksibel, aman, mudah dikelola dan biaya relatif lebih terjangkau. Mereka tidak perlu investasi perangkat jaringan komputer dan sumber daya manusia untuk mengelola jaringan.

Peluang Pemanfaatan

Saat ini kita mengenal dan sedang menggunakan teknologi 4G. Vendor seperti Ericsson dan Huawei menyediakan perangkat ke provider. Provider telekomunikasi seperti Telkomsel dan XL menyediakan layanan akses komunikasi ke pelanggan. Kedua pihak ini memperoleh pendapatan dari barang atau jasa yang mereka jual. Sementara itu, banyak pihak lain yang mendapat keuntungan dari keberadaan teknologi 4G ini. Sebut saja para penyedia layanan over-the-top seperti WhatsApp, Skype, Viber, Netflix and Telegram. Penyedia layanan sosial media seperti Facebook, Instagram, Twitter. Penyedia jasa layanan pencarian seperti Google. Termasuk juga di dalamnya aplikasi-aplikasi yang umum digunakan di Indonesia saat ini seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka.

Pada teknologi 5G, semua layanan yang disebut di atas masih akan tetap eksis dan malah lebih berkembang. Selain itu, dengan memperhatikan karakteristik 5G, maka layanan atau aplikasi yang dapat dilewatkan melalui jaringan 5G akan semakin banyak. Kalau 4G diibaratkan sebagai jalan raya langit, maka dia telah berhasil memfasilitasi banyak aplikasi yang kita kenal selama ini seperti Youtube, aplikasi sosial media, aplikasi messaging, video conference, dan komputasi awan. Hal ini juga berlaku untuk 5G.

Kalau teknologi 5G diibaratkan dengan jalan tol langit, maka layanan yang ada pada 4G akan secara otomatis dapat diakomodasi di 5G. Kemudian ditambah dengan layanan-layanan canggih lainnya yang meliputi augmented reality, smart city, smart building, driverless car, streaming video 3D, industry automation, dll.

Teknologi 5G sudah mulai beroperasi di berbagai negara di dunia seperti Korea Selatan, Inggris, AS, dan Pakistan. Di Korea Selatan, 5G sudah mulai beroperasi pada April 2019, dan saat ini pelangganya sekitar 1juta. Di Inggris sudah mulai beroperasi sekitar bulan Juli lalu. Beberapa operator yang sudah me-launching jaringan 5G di antaranya Vodavone, EE, Three, dan 02. Sementara itu, Indonesia baru berencana merilis layanannya secara komersial pada 2022.

Kalau diperhatikan, baik negara yang sudah mengoperasikan 5G atau negara yang baru melakukan uji coba, sebagian besar masih sebatas pada aplikasi komunikasi kecepatan tinggi perangkat bergerak (mobile broadband). Sementara contoh studi kasus pemanfaatan jaringan 5G untuk masif IoT, smart city, tele-surgery, mobil otonom, augmented reality, dan otomatisasi industri masih sebatas riset dan pengembangan oleh industri dan perguruan tinggi.

Sebagai contoh, beberapa bulan yang lalu saya menghadiri sebuah presentasi yang dilakukan oleh Kepala Pusat Penelitian Networking dari Bristol University. Dia menceritakan kerja sama penelitian dengan berbagai vendor seperti Huawei, Nokia, dan Ericsson untuk merancang dan mengimplementasikan prototip pemanfaatan 5G.

Ada dua proyek mereka yang sudah selesai. Pertama adalah implementasi IoT untuk smart city di satu sudut kota Bristol. Kedua, mereka membuat aplikasi augmented reality (AR) pada kawasan wisata Pemandian Romawi di Bath. Dengan aplikasi AR ini, para turis dapat melihat melalui perangkat khusus kejadian-kejadian unik dan mendebarkan yang terjadi pada masa lampau di pemandian Romawi, Kota Bath.

Pengembangan layanan untuk teknologi 5G ini tentu juga menjadi peluang bagi para start-up teknologi dan pusat penelitian universitas yang ada di Indonesia. Pihak universitas dan perusahaan start-up perlu menjalin komunikasi dan kerja sama dengan para vendor teknologi 5G.

Dengan adanya kerja sama yang baik, misalnya vendor menyediakan perangkat dan sistem komunikasi, sementara pusat penelitian universitas dan start-up teknologi menyediakan tenaga peneliti, maka sangat dimungkinkan banyak studi kasus pemanfaatan 5G yang akan dihasilkan dari pusat penelitian. Misalnya aplikasi IoT untuk smart city, sistem monitoring kualitas lingkungan, IoT untuk keperluan rantai pasok barang dan jasa, dan kendaraan otonom. Untuk pariwisata, salah satu studi kasus yang bisa diteliti yaitu pengembangan AR pada daerah-daerah wisata alam Indonesia seperti Danau Toba dan Candi Borobudur.

Dengan demikian, kita tidak hanya terjebak pada hype dan cerita indah yang ditawarkan oleh 5G, tetapi juga dapat berperan untuk menyediakan layanannya secara mandiri. Walaupun jalan tol langitnya harus menggunakan teknologi dari para vendor, yang notabene berasal dari luar negeri, kita masih tetap bisa berbangga karena dapat mendesain dan membuat banyak "kendaraan" yang melaju pada jalan tol langit tersebut.

Deni Lumbantoruan dosen Institut Teknologi Del, mahasiswa program doktor Kings College London


(mmu/mmu)
Tulisan ini adalah kiriman dari pembaca detik, isi dari tulisan di luar tanggung jawab redaksi. Ingin membuat tulisan kamu sendiri? Klik di sini sekarang!
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com